Ketupat Sayur Godog dan Sate dalam Tradisi Lebaran Haji di Betawi

Ketupat Sayur Godog dan Sate dalam Tradisi Lebaran Haji di Betawi

MJ. Ciputat, Tangerang – Menjelang Lebaran Haji, masyarakat Betawi dikenal dengan tradisi kuliner khas yang selalu dinanti, yaitu Ketupat Sayur Godog dan Sate Kambing. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an dan hingga kini tetap dijaga oleh warga Betawi.

Setiap tahun, masyarakat Betawi disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut Lebaran Haji. Persiapan ini dimulai dengan pembuatan kulit ketupat yang terbuat dari janur kuning atau daun kelapa muda. Bagi orang Betawi, memiliki kemampuan membuat kulit ketupat seolah menjadi sebuah keharusan. Ada sebuah pameo yang berkembang di masyarakat, terutama kaum lelaki, bahwa mereka yang tidak bisa membuat anyaman kulit ketupat akan mengalami kesengsaraan dan akan dibawa kabur oleh seekor binatang purba.

Akibat pameo tersebut, banyak lelaki Betawi yang terpaksa belajar menganyam kulit ketupat dan akhirnya menjadi mahir. Hampir setiap rumah di komunitas etnis masyarakat Betawi dipenuhi dengan aktivitas membuat anyaman kulit ketupat menjelang Lebaran Haji.

Setelah menyelesaikan pembuatan anyaman kulit ketupat, masyarakat Betawi menyiapkan tungku untuk merebus ketupat. Selama menunggu ketupat matang, suasana menjadi ramai dengan canda tawa dan obrolan di antara mereka.

Pada sekitar tahun 1970-an, memasak ketupat memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 6-7 jam. Proses ini melibatkan merebus ketupat dalam waktu yang panjang hingga benar-benar matang. Setelah ketupat matang, biasanya diangkat dan ditiriskan dengan cara digantung di sekitar dapur atau dijemur. Proses ini membantu mengurangi kadar air dalam ketupat.

BACA JUGA:  Dampingi Presiden Jokowi Resmikan Pabrik Minyak Makan Merah, Pj Gubsu Sambut Baik Hilirisasi Rakyat Di Sumut

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan teknik memasak, waktu yang dibutuhkan untuk memasak ketupat kini dapat direduksi secara signifikan. Dengan bantuan alat-alat modern, ketupat bisa matang dalam waktu sekitar 30 menit.

Setelah matang, ketupat tetap diangkat dan ditiriskan hingga airnya berkurang dan ketupat menjadi dingin. Ketupat yang sudah dingin kemudian siap disantap bersama sayur ketupat, yang dalam masyarakat Betawi dikenal dengan sebutan Sayur Godog.

Sate Kambing: Asal usul dan makna filosopinya

Secara historis, Sate merupakan kuliner yang dipengaruhi oleh tradisi India-Tamil dan Arab. Kata “Sate” berasal dari kata “Sa/tai” yang berarti daging yang dipotong kecil-kecil. Pada abad ke-18 dan ke-19, banyak pedagang dari Arab, Gujarat, dan Tamil, India, datang ke Indonesia untuk berdagang. Mereka juga memperkenalkan kuliner seperti kebab, yaitu daging yang dimasak dengan cara dibakar.

Orang Indonesia yang sebelumnya hanya memasak daging dengan cara direbus, mulai mencoba teknik memasak dengan cara dibakar setelah daging dipotong kecil-kecil. Hasilnya, lahirlah kuliner daging tusuk bakar yang kemudian dikenal dengan nama Sate. Pada abad ke-19 dan ke-20, masyarakat Indonesia mulai menjajakan sate ke seluruh penjuru Indonesia, bahkan merantau ke negeri jiran sebagai pedagang sate.

Kepopuleran Sate meluas hingga dikenal di luar negeri. Namun, beberapa negara seperti Thailand mengklaim Sate sebagai produk kuliner mereka. Klaim ini disanggah oleh para pedagang sate Indonesia dan pemerintah Indonesia, yang menegaskan bahwa Sate adalah produk kuliner asli hasil racikan bangsa Indonesia.

BACA JUGA:  Diduga Oknum Kepala Kampung Gedung Aji lama (HD) Gelapkan Dana Desa Ketahanan Pangan 2023.

Di Indonesia, terdapat berbagai variasi Sate yang khas, antara lain Sate Madura, Sate Bali, Sate Surakarta, Sate Lilit, Sate Padang, dan Sate Betawi. Khusus untuk Sate Betawi, terdapat dua jenis utama. Pertama, Sate Lembut yang terbuat dari daging sapi yang dihaluskan, ditempelkan pada tusuk bambu lempeng, lalu dibakar. Kedua, Sate Asam Manis yang terbuat dari daging kambing atau sapi, namun kini sulit ditemukan.

Sate Betawi bisa ditemukan di daerah Tanah Abang, seperti di warung Sate Hj. Ati yang berjualan sejak tahun 1950-an dan sekarang dikelola oleh generasi ketiga. Sate Asam Manis dinamakan demikian karena bumbunya ditambah dengan air asam Jawa dan oseng kelapa, memberikan rasa asam manis dan gurih yang khas. Ini menjadi pembeda dengan bumbu Sate Madura dan variasi lainnya.

Makna Filosopi Sate

Sate, yang terdiri dari potongan kecil daging yang ditusuk, memiliki makna dan filosofi mendalam dalam tradisi Jawa Kuno. Dalam kepercayaan tersebut, Sate merupakan simbolisme Brahmana, atau Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Sate juga sering diasosiasikan dengan senjata Dewa Nawa Sanga yang dipakai oleh Dewa Durga dalam mengalahkan Kala, lambang kekuatan dan keberanian dalam menghadapi kegelapan.

Bumbu Sate, yang diolah dari berbagai bahan dan rempah, disimbolkan sebagai Basa Genep atau Baga Gede. Ini mencerminkan Nyasa, yaitu pemusatan pikiran dan kesatuan. Berbagai bahan bumbu dan rempah ini diolah menjadi satu kesatuan yang utuh, mencerminkan kepercayaan yang kuat dan tak tergoyahkan pada Tuhan Yang Maha Esa.

BACA JUGA:  Mau Dilantik di Istana, Calon Akpol Lulusan 2018 Ini Bongkar Borok Oknum Perwira Polri

Bakar Sate Pada Lebaran Haji di Betawi

Pada tahun 1970-an, masyarakat Betawi mempraktikkan tradisi berkurban yang diikuti dengan memasak daging kurban menjadi beberapa resep kuliner khas, seperti Sop Tangkar dan Sate. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menyambut Lebaran Haji, di mana mereka yang mampu secara ekonomi berkurban dengan membeli kambing atau domba untuk keluarga mereka.

Tradisi berkurban dimulai dengan prosesi penyembelihan yang dihadiri oleh keluarga besar dan anggota masyarakat. Setelah Shalat Idul Adha, daging kurban dibagikan dan sebagian diambil untuk diolah menjadi berbagai hidangan lezat. Jika hewan kurbannya berupa domba, masyarakat Betawi umumnya mengolahnya menjadi sop kambing, sop atau soto tangkar, dan sate yang dibakar.

Sop Tangkar adalah salah satu hidangan khas Betawi yang terkenal, dimasak dengan menggunakan potongan daging kambing yang lembut dan disajikan dengan kuah kental yang kaya rempah. Sementara itu, Sate adalah daging yang dipotong kecil-kecil dan ditusuk, kemudian dibakar hingga matang dengan bumbu yang khas.

Hidangan-hidangan ini sering disantap bersama dengan Ketupat, yang memiliki makna simbolis dalam budaya Betawi sebagai simbol permintaan maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Pada Lebaran Haji, waktu ini dianggap sebagai saat yang tepat untuk meminta maaf dan saling memaafkan di antara anggota keluarga dan masyarakat.

Pos terkait