Lebaran Ketupat: Tradisi Khas Muslim Indonesia

Lebaran Ketupat: Tradisi Khas Muslim Indonesia

Oleh : Murodi Al Batawi

Lebaran Ketupat atau masyarakat Muslim Jawa sering menyebutnya dengan Lebaran Topat, merupakan tradisi khas Muslim Indonesia. Memang, tradisi ini tidak secara menyeluruh dilakukan Muslim Indonedia, tetapi hanya ada di beberapa tempat saja, misalnya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lombok Nusa Tenggara Barat.

Lebaran Ketupat atau Kebaran Topat ini biasanya dilakukan seminggu pasca 1 Syawwal, berarti 6 hari setelah Lebaran 1 Syawwal. Hal itu dilakukan setelah umat Islam Indonsia melaksanakan puasa Sunnah Syawwal, yang biasa dilakukan pasca Lebaran 1 Syawwal. Tradisi ini dilakukan oleh Muslim Indonesia, khususnya Muslim Jawa, Madura dan Lombok, setelah mereka melaksanakan puasa Sunnah yang dimulai sejak 2-7 Syawwal.

Khusus perayaan tradisi Lebaran Topat di Jawa-Madura dan Lombok ini, di puncak puasa Sunnah Syawwal, ditutup dengan upacara makan Ketupat. Di Lombok, Lebaran Ketupat juga sering disebut dengan Lebaran Nine (Lebaran Perempuan), karena ternyata kaum perempuan yang lebih banyak melakukan puasa sunnah pacsa 1 Syawwal.

BACA JUGA:  Peran Zakat dalam Mengatasi Pengangguran

Sebutan Lebaran Nine oleh Muslim Lombok dipergunakan untuk membedakan dengan tradisi lebaran setelah Ramadhan, yang sering disebut Lebaran Meme ( Lebaran Pria), karena kaum lelaki yang lebih giat melakukannya daripada kaum perempuan.

Bagi Muslim Lombok, berpuasa selama enam hari pasca 1 Syawwal, merupakan tradisi yang tidak hanya dilakukan kaum lelaki berusia 40 tahun ke atas, juga dilakukan kaum perempuan. Bahkan ada juga para remaja yang melakukannya. Puasa Syawwal ini banyak dilakukan kaum ibu karena tidak dapat melakukan puasa penuh di bulan Ramadhan, karena uzur Syar’i. Untuk itu, mereka berpuasa Sunnah Syawwal selain mengikuti anjuran Nabi Muhammad, mereka juga berniat mengganti puasa yang tidak tuntas di bulan Ramadhan.

Karena puasa sunnah Syawwal banyak dilakukan masyarakat maka banyak Muslim yang membangunkan sahur di malam hari, layaknya puasa Ramadhan.

BACA JUGA:  Berani Mengambil Tindakan: Kunci Sukses untuk Mencapai Mimpi dan Tujuan

Setelah enam hari berpuasa Sunnah Syawwal, masyarakat berbuka dengan menyelenggarakan Lebaran Ketupat. Dengan kata lain, orang yang berhak menyelenggarakan Lebaran Topat atau ketupat, hanya mereka yang ikut berpuasa Sunnah Syawwal.

Dalam perkembangan selanjutnya, Lebaran Ketupat tidak dilakukan oleh mereka yang berpuasa, juga oleh masyarakat muslim, di Jawa Tengah, Jawa Timur, terkhusus Madura dan Lombok. Maka kemudian, Lebaran Ketupat, tidak lagi hanya untuk mereka yang berbuka puasa Sunnah Syawwal, juga buat mereka yang tidak ikut berpuasa Sunnah.

Karena Lebaran Ketupat menjelma menjadi sebuah tradisi yang terus dipertahankan dan dikembangkan. Karenanya, tradisi Lebaran Ketupat berubah makna dan menjadi lebih meriah ketimbang lebaran Idul Fitri.

Ia tidak hanya menjadi tradisi ritual keagamaan, juga menjadi tradisi budaya atau kultur masyarakat Muslim Indonesia. Lebaran Ketupat tidak hanya dirayakan dengan acara Selamatan, tetapi juga banyak yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat rekreasi untuk bersenang- senang dengan keluarga besarnya.

BACA JUGA:  Kapolresta Bandara Soetta Serap Aspirasi Karyawan dalam Giat Jum'at Curhat di Aerofood ACS

Makna Lebaran Ketupat

Paling tidak terdapat dua makna dari tradisi tersebut, makna sakralitas dan makna sosial. Dimensi makna sajralitas berkaitan dengan pemahaman nilai-nilai keagamaan dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang relah memberikan berbagai kenikmatan luar biasa keada Muslim Indonesia. Kemudian dati aspek sosial, berkaitan dengan upaya menjaga harmoni kehodupan antar sesama.

Makna lain yang dapat dipahami dati tradisi Lebaran Ketupat adalah untuk menjauhkan diti dari nafsu kebendaan dan membersihkan batin dari siksp tidak terpuji. Itulah hakikat sebenarnya dar perayaan tradisi Lebaran Ketupat yang dilaksankan Muslim Infonesia. [odie]

Pamulang, 29 Maret 2024
Pukul 10.46
Murodi al-Batawi.

Pos terkait