Literasi Keuangan Sebagai Upaya Mitigasi Risiko Ketika Memulai Investasi Saham

Pengetahuan dan pemahaman seputar keuangan pribadi diperlukan bagi orang untuk membuat keputusan keuangan yang tepat, sehingga totaliter diperlukan setiap orang untuk bisa memanfaatkan alat dan produk keuangan yang paling tepat. Kurangnya literasi keuangan yakni masalah besar dan tantangan yang berat bagi masyarakat Indonesia. Literasi keuangan yakni pelaksanaan panjang yang membantu individu untuk membikin rencana keuangan masa depan untuk mencapai kekayaan sesuai gaya hidup dan pola hidup yang akan dijalani. Salah satu elemen literasi keuangan berasal dari industri investasi. Pada saat menjalankan investasi, investor melewati sebagian pelaksanaan jenjang sebelum kesudahannya mengambil keputusan untuk memulai berinvestasi.

Literasi Keuangan menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan) adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan, yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan. Literasi keuangan pada saat ini bisa kita laksanakan di mana saja dan kapan saja, karena kita bisa mempelajari nya via hp yang sehari-hari kita gunakan. Literasi keuangan pada zaman sekarang yaitu hal penting yang wajib kita ketahui dan pelajari.

Bhushan and Medury (2013) menyatakan bahwa penting untuk bisa memperoleh literasi keuangan dikarenakan saat ini banyak sekali produk keuangan yang mulai muncul dan seorang individu diharuskan untuk dapat mengerti risiko serta keuntungan dari produk keuangan tersebut. Literasi keuangan ini memungkinkan individu untuk memanfaatkan layanan dan produk keuangan dengan baik serta cocok dengan kebutuhan yang diharapkan dengan tak mudah ditipu oleh penjahat yang tak jarang mengeksploitasi ketidaktahuan keuangan individu untuk keuntungan mereka sendiri. Di sinilah peran literasi keuangan ialah menolong meningkatkan kwalitas layanan keuangan supaya lebih baik dan bisa memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara.

BACA JUGA:  Perumahan Substandar di DKI Jakarta: Tantangan Masa Depan atas Krisis Perumahan Layak Huni

Investasi di zaman sekarang adalah kegiatan yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian kalangan manusia. Investasi pada era saat ini merupakan kegiatan yang bisa di lakukan di mana saja dan kapan saja. Mulai dari kegiatan jual beli saham, menganalisis saham, melakukan monitoring terhadap emiten yang sudah di beli, melihat pergerakan chart saham, dan juga bisa melakukan pemesanan saham yang akan listing di Bursa Efek Indonesia atau saham yang akan IPO (Initial Public Offering). Kegiatan ini bisa dilakukan berkat kemajuan teknologi yang semakin modern.

Perumpamaan yang cocok bagi orang yang melakukan investasi tanpa memiliki pengetahuan terhadap investasi yang di lakukan adalah bagaikan seseorang yang tidak bisa berenang yang melompat ke dalam laut tanpa menggunakan pelampung, akibatnya orang tersebut tidak bisa berenang dan tenggelam. Begitu juga seseorang yang langsung terjun dan memulai investasi saham tanpa adanya pengetahuan terhadap objek investasi yang di lakukan, akan bisa berakibat fatal dan mengalami kerugian. Hal seperti ini juga bisa disebut dengan kegiatan gambling karena ketika memasuki dunia investasi saham, tidak mempelajari risiko yang akan terjadi di kemudian hari.

Menurut , risiko merupakan suatu peristiwa dengan kemampuan untuk mempengaruhi (menghambat, meningkatkan, atau menyebabkan keraguan) misi, strategi, proyek, operasi rutin, tujuan, proses inti, kunci dependensi dan/atau harapan dari stakeholder.

Risiko mengacu pada kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan, dalam hal ini risiko hanya mengacu pada situasi yang memungkinkan terjadinya hasil negatif dan mengacu pada kemampuan untuk mengantisipasi hasil negatif yang terjadi. Kejadian risiko adalah kejadian yang menimbulkan kemungkinan kerugian atau kemungkinan hasil yang tidak diinginkan. Kerugian risiko, di sisi lain, berarti kerugian yang disebabkan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh peristiwa risiko. Kerugian itu sendiri dapat berupa kerugian finansial dan non finansial.

BACA JUGA:  Bisnis Tak Berjalan Mulus? Baca Ini!

Seorang investor sepatutnya memiliki kesanggupan mengkaji yang baik dan bijaksana dalam mengambil keputusan investasi (Investment Decision Making). Kesanggupan ini menurut Farooq dan Sajid (2015) menjadi kesibukan tersulit yang sepatutnya dilaksanakan oleh investor sebelum menetapkan untuk berinvestasi. Investasi adalah janji seseorang untuk menanamkan beberapa uang yang dimilikinya pada suatu aset tertentu dengan tujuan agar dapat memberikan profit di masa depan.

Terdapat pembagian sikap dalam mengerjakan keputusan investasi, yang pertama ialah sikap rasional, ialah sikap investor yang berfikir secara logis dan bisa diterima. Kedua sikap irasional, ialah sikap investor yang berfikir tak logis dan tak bisa diterima. Seorang investor yang rasional ketika mengerjakan keputusan investasi akan didasari dengan literasi keuangan. Umpamanya ketika investor ingin menginvestasikan beberapa dananya dalam investasi yang dipilih, karenanya dia akan memanfaatkan berita yang sudah diketahui, seperti tingkat profit dan besaran risiko yang akan diterima dalam investasi yang dikerjakan. Sedangkan seorang investor yang irasional dalam mengerjakan keputusan investasi didasari bermacam faktor, seperti demografi, psikis serta ajakan dari “bandarmology”. Dalam mengerjakan keputusan investasi akan dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya ialah literasi keuangan.

BACA JUGA:  Peranan Kekuasaan dan Politik terhadap Pengembangan Organisasi

Banyak individu yang tidak mengenal investasi dan ilmunya tetapi terjun langsung ke dalam instrument investasi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sangat banyak yang tergiur terhadap investasi bodong yang di tawarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab seperti dengan melakukan titip dana dan diiming-iming dengan return yang tinggi. Hal ini dapat menjadi ketertarikan sendiri terhadap orang-orang yang tamak dan juga tidak mengerti ilmu investasi yang sebenarnya. Banyak yang tidak mengerti akan risiko berinvestasi.

Dengan literasi keuangan akan memberikan wawasan mengenai metode penanganan dan pemakaian sumber daya sebagai penyusunan dan penguatan sumber daya manusia di Indonesia. Menurut OJK, ada empat pembagian literasi keuangan di Indonesia, antara lain: Well literate, Sufficient literate, Less literate, Not literate. Literasi keuangan berkaitan dengan pengelolaan keuangan secara perseorangan yang mencakup keputusan investasi, pendanaan, dan bagaimana manajemen aset yang ideal. Pengetahuan mengenai keuangan diperlukan guna memajukan kesejahteraan hidup dan perencanaan keuangan yang baik di masa akan datang. Dalam sebuah keputusan investasi literasi keuangan berperan penting. Selain itu dengan tingkat kesanggupan pengetahuan yang besar akan mempermudah seseorang dalam mengerjakan keputusan investasi serta literasi keuangan juga diperlukan dalam bagaimana metode mengelola uang dengan bagus. Individu yang mempertimbangkan untuk mengerjakan investasi, pastinya akan berimbas lebih bagus dalam manajemen keuangan, serta akan memperoleh profit yang tinggi.

Arif Firmansyah
Mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis Syariah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Kota Depok

Pos terkait