Malnutrisi dan Sanitasi: Pemicu Kejadian Diare Anak

Malnutrisi dan Sanitasi: Pemicu Kejadian Diare Anak

Diare dan Indonesia

Diare adalah suatu kondisi yang menyebabkan keluarnya tinja dengan wujud cair atau berair selama kurang lebih 3 kali dalam kurun waktu sehari. Kondisi ini seringkali terjadi jika seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi atau mengandung virus, bakteri, atau parasit.

Diare kerap kali ditemukan pada anak dan tahukah kamu? Diare pada anak dapat meningkatkan risiko kematian pada anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi diare hal ini disebabkan oleh tubuh anak belum memiliki sistem imunitas dan daya tahan tubuhnya yang belum terbentuk secara maksimal.

Di Indonesia, diare juga termasuk penyakit yang masih menjadi tugas untuk pemerintah di masyarakat. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kemenkes pada tahun 2019, diare menyebabkan 5% kematian pada balita di Indonesia. Jumlah prevalensi kasus diare pada Indonesia adalah sebesar 9,8%, dengan provinsi Sulawesi Barat memiliki prevalensi tertinggi yaitu 17,5%.

Apa Saja Jenis Diare?

Berdasarkan lama waktu penyakit diare ini terjadi, diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut merupakan diare yang berlangsung selama kurun waktu dibawah 14 hari. Diare ini pada umumnya terjadi karena mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri dan akan hilang dengan sendirinya. Diare kronis adalah diare yang berlangsung dalam kurun waktu diatas 14 hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh masalah kesehatan seperti radang pada usus, atau penyakit usus lainnya.

BACA JUGA:  Manfaat Tanaman Kelor untuk Kesehatan

Gejala yang pada umumnya dirasakan oleh seseorang yang mengalami diare adalah perut mulas serta buang air besar yang cair serta sulit untuk ditahan. Selain itu, penderita diare juga akan merasa lemas, pusing, dan kulit terasa kering karena dehidrasi akibat kekurangan cairan. Beberapa gejala lain yang dapat dirasakan khususnya jika terjadi pada anak-anak adalah kondisi yang disertai dengan demam, kembung di perut, serta mual dan muntah.

Penyebab Diare

Menurut UNICEF pada tahun 2009, Virus yang menyebabkan diare adalah rotavirus. Rotavirus menyebabkan diare akut dan membuat 40% anak balita di seluruh dunia dirawat di rumah sakit akibat diare. Beberapa patogen bakteri lainnya seperti E.coli, Shigella, Campylobacter, dan Salmonella juga menjadi penyebab terjadinya diare. Diare pada umumnya disebabkan oleh makanan dan minuman. Namun, ada hal lain yang dapat memicu diare, yaitu malnutrisi dan sanitasi.

Apa itu Malnutrisi?

Malnutrisi adalah keadaan di mana anak kurang mengkonsumsi gizi yang cukup. Malnutrisi dapat meningkatkan resiko terkena diare adalah karena daya tahan tubuh menurun. Kurangnya konsumsi makanan bergizi sangat berpengaruh terhadap kemampuan tubuh anak untuk melindunginya dari berbagai penyakit, dalam hal ini adalah diare. Malnutrisi ini dapat dicegah dengan memberikan anak makanan yang bergizi seimbang seperti sayuran, seperti tomat, wortel, sawi, dan lain-lain, serta ayam, ikan, dan sumber protein lainnya.

BACA JUGA:  6 Tips Perawatan Rambut Pria Gondrong, Praktis dan Anti Ribet!

Bukan tanpa sebab malnutrisi sering dikaitkan dengan diare, yakni dengan dilakukannya beberapa penelitian yang membuktikan hal tersebut. Di tahun 2019, penelitian pada bayi yang menderita diare di Ethiopia menunjukkan bahwa adanya penundaan pemberian ASI meningkatkan kemungkinan bayi untuk terkena diare. Nah, kalau di Indonesia sendiri, pada tahun 2015, tiga dari empat responden di Manado mengalami diare akut yang disertai dengan kejadian malnutrisi.

Bagaimana dengan Sanitasi?

Penyebab lainnya yang dapat menyebabkan diare yaitu sanitasi. Sanitasi yang kurang baik dapat menyebabkan kuman penyebab diare lebih leluasa untuk mengkontaminasi makanan. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah diare yang diakibatkan sanitasi yang buruk adalah dengan melakukan filter terhadap air dirumah ketika dirasa kurang bersih. Selain itu, diare akibat sanitasi juga dapat dicegah dengan memasak makanan sampai matang serta mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi.

Hal ini mungkin sudah sering kita dengar di sekolah bahwa sanitasi mempengaruhi kejadian diare. Pernyataan ini didukung pada suatu penelitian di Subang pada tahun 2020, ada suatu hubungan antara pengetahuan ibu mengenai PHBS dengan kejadian diare. Pengetahuan sendiri merupakan faktor predisposisi untuk mempengaruhi perilaku seseorang, yang juga terjadi pada aspek kesehatan.

BACA JUGA:  Protein Hewani Efektif Cegah Anak Alami Stunting

Simak Cara Mencegah Diare di Bawah Ini!

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk diare sendiri dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu memberikan vaksin rotavirus kepada anak, menerapkan pola hidup bersih yaitu dengan rajin mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB, menjaga lingkungan rumah agar tetap bersih khususnya kamar mandi.

Bagaimana dengan Mengobati Diare?

Jangan khawatir bila anak terkena diare, sebab penyakit ini merupakan penyakit yang memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi. Agar lebih aman, langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah memeriksakan anak pada dokter. Hal ini sangat disarankan agar diare tidak berkembang menjadi penyakit lain dan tidak terjadi salah langkah dalam mengobati diare. Dokter biasanya akan meresepkan suatu obat untuk anak, juga menyarankan beberapa pola makan yang dapat menunjang kesembuhan anak untuk diare ini.

Lalu, Kesimpulannya?

Melihat diare adalah penyakit yang menyerang saluran pembuangan dan dapat diderita oleh anak, sudah sebaiknya orang tua memperhatikan sanitasi dan konsumsi gizi pada anak. Selain itu, bila anak terkena diare, segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat agar diberi penanganan yang sesuai.

Gusti Ayu Alit Indiraswari, Yoana Samuela
Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Pos terkait