Manajemen Risiko pada Bank Syariah

 

Salah satu momen penting dalam sejarah perbankan syariah Indonesia adalah didirikannya Bank Muamalat Indonesia, yang merupakan awal kehadiran lembaga keuangan syariah di negara tersebut. Tidak seperti bank konvensional yang mengalami krisis ekonomi, Bank Muamalat Indonesia berhasil bertahan dalam kondisi ekonomi yang sangat buruk sehingga harus terlibat dalam program rekapitalisasi pemerintah atau bahkan mungkin menghentikan operasinya. Karena hal ini, semakin jelas bahwa prinsip perbankan syariah bukanlah hanya gagasan teoritis, mereka juga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Prinsip perbankan syariah termasuk dalam hukum Islam, terutama dalam bidang ekonomi.

Perbankan syariah memiliki tujuan untuk menghasilkan keuntungan bersama antara shahibul mal (pemilik dana) yang menyimpan uang dan lembaga yang bertindak sebagai pengelola modal (mudharib), serta masyarakat yang membutuhkan modal yang berstatus peminjam atau pengusaha. Pada dasarnya bank syariah dan bank konvensional memiliki fungsi yang sama, perbankan berfungsi sebagai perantara antara pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Oleh karena itu, sebagai lembaga keuangan, perbankan syariah tidak akan terhindar dari risiko, baik dalam internal maupun eksternal.

Dengan perkembangan yang semakin pesat baik di internal maupun eksternal perbankan syariah, risiko yang terkait dengan kegiatan bisnis menjadi semakin kompleks. Agar beradaptasi dengan lingkungan, bank harus menerapkan manajemen risiko yang sesuai dengan prinsip syariah. Masa depan perbankan syariah ini sangat ditentukan bagaimana dengan kemampuan manajamennya menghadapi berbagai perubahan, baik itu dalam segi informasi dan teknologinya, sampai inovasi pengelolaan keuangannya.

BACA JUGA:  Integritas Sebuah Tim

“Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan diharapkan) maupun yang tidak dapat diperkirakan (tidak diharapkan) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan pemodaln bank. Risiko juga dapat dianggap sebagai kendala dalam upaya suatu tujuan” kata surat edaran Bank Indonesia No.13 Tahun 2011. Sehingga dapat diartikan bahwa industri perbankan ini dihadapkan dengan risiko yang beragam, sehingga bank di Indonesia juga harus menerapkan manajemen risiko untuk meminimalisir adanya risiko yang akan terjadi pada kegiatan bisnis bank.

Kegiatan utama bank adalah manajemen risiko, yang membantu merencanakan dan membiayai pengembangan usaha yang tepat, efisien dan efektif serta mengoptimalkan hubungan antara risiko dan efektif, efisien. Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/PBI/2010, yang diubah dari peraturan bank nomor 5/8/PBI/2003, “risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu, dan manajemen risiko adalah situasi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, menukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang dihasilkan dari seluruh kegiatan usaha bank.”

Perbankan syariah memiliki manajemen risiko yang berbeda dari bank konvensional, terutama karena jenis risiko yang mereka hadapi. Karakteristik manajemen risiko bank syariah terdiri dari pelaporan risiko, yaitu bagaimana suatu bank mengidentifikasi risiko risiko yang terjadi pada bank. Kedua penilaian risiko, yang dikenal dengan qualitative approach. Ketiga antisipasi risiko yang mana bertujuan untuk preventive, detective (pengawasan), recovery (koreksi). Dan yang keempat monitoring risiko, yang mana hal tersebut adalah aktivitas monitoring.

BACA JUGA:  3 Tips Agar Kembali Semangat Saat Bekerja

Selanjutnya dalam perbankan syariah, bank adalah lembaga yang paling dekat dengan risiko, terutama yang berkaitan dengan uang. Posisinya sebagai perantara menjadikannya sebagai pihak yang paling rentan terhadap risiko. Selain itu, peningkatan risiko perbankan dipengaruhi oleh perubahan situasi ekonomi di dalam negeri, regional, dan internasional. Umumnya, potensi bank menghadapi berbagai risiko, termasuk risiko kredit dan pembiayaan, risiko paar, likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategis, dan risiko kepatuhan.

Mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan komponen penting dalam manajemen risiko adalah tanggung jawab setiap lembaga keuangan. Faktor-faktor risiko ini mempengaruhi tingkat risiko. Organisasi keuangan harus memiliki sistem informasi untuk manajemen risiko yang memberikan laporan yang akurat dan informasi tentang keadaan keuangan, kinerja aktivitas fungsional, dan tingkat risiko lembaga keuangan. Maka dari itu penting sekali adanya proses manajemen risiko ini dalam industri perbankan, agar dapat terlihat dan tertata bagaimana manajemen risiko yang baik, sehingga meminimalisir adanya risiko yang fatal.

Setelah adanya karakteristik, jenis, dan proses manajemen risiko maka selanjutnya adalah kebijakan yang ada pada manajemen risiko. Menurut Farid & Azizah kebiajkan yang berkaitan dengan manajemen risiko perbankan harus mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, mereka harus menetapkan risiko yang berkaitan dengan transaksi produk dan perbankan, serta teknik penggunaan perhitungan dan sumber daya informasi manajemen risiko. Kedua, mereka harus menetapkan batas dan mengatur toleransi risiko, yang menunjukan berapa banyak kerugian yang dapat ditampung oleh modal bank. Ketiga, mereka harus menetapkan rencana keadaan darurat, juga dikenal sebagai rencana tindakan darurat, untuk menangani situasi terburuk. Keempat, penerapan sistem pengawasan internal untuk penerapan manajemen risiko.

BACA JUGA:  Pengaruh Kesetaraan dan Keadilan terhadap Penggelapan Pajak di Indonesia

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa risiko adalah kemungkinan terjadi hasil yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kerugian jika tidak diantisipasi dan dikelola dengan baik. Manajemen risiko, di sisi lain adalah kegiatan yang utama dari sebuah bank yang membantu dalam merencanakan dan membiayai pertumbuhan bisnis yang tepat, efektif, dan efisien, serta mengoptimalkan pertukaran antara risiko dan pendapatan.

Dalam manajemen risiko perbankan syariah juga tentunya memiliki karakteristik, jenis-jenis risko, sehingga bagaimana proses manajemen risiko sampai adanya kebijakan manajemen risiko. Hal tersebut dibuat agar tidak adanya kerugian yang bersifat fatal, atau secara mudahnya adalah meminimalisir adanya risiko yang terjadi pada kegiatan perbankan syariah.

Ranti Rahayu – Mahasiswa STEI SEBI

Pos terkait