Melatih Kemandirian Anak

Melatih Kemandirian Anak

Oleh: Ayyuhanna Widowati, S. E. I., Guru di Depok

Ketika anak-anak belum bisa mengurus kebutuhannya sendiri, ternyata ini menjadi masalah yang sering dialami oleh para orang tua. Mungkin saja sebagian orang tua menganggap itu suatu hal yang wajar sebab tugasnya orang tua memenuhi dan melayani kebutuhan anak-anak mereka. Tetapi yang perlu diingat, melayani anak bukan berarti memanjakan dan membiarkan mereka terus menerus bergantung kepada orang lain.

Misalnya untuk sekadar memenuhi kebutuhan mereka, anak usia balita yang tangannya sudah dapat menjangkau bagian belakang tubuhnya, semestinya sudah bisa membersihkan diri sendiri setelah BAK/BAB. Sehingga perlu dilatih agar mereka mandiri agar tidak melulu meminta bantuan.

Contoh lain, kemandirian saat makan yakni ketika anak-anak sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuapi. Rutinitas lain seperti mandi, memakai baju, membuat minuman, merapikan mainan, mengembalikan sepatu, meletakkan tas atau baju kotor ke tempat yang seharusnya, dan lain-lainnya.

BACA JUGA:  Negara Tanpa Visi Pembinaan Generasi

Semua kebiasaan kecil tersebut perlu dilatih agar ketika dewasa mereka menjadi pribadi yang mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Persiapan sejak dini memang dibutuhkan kerja keras dan tantangan yang cukup banyak, tapi akan sepadan manfaatnya.

Hasilnya, anak perempuan yang mandiri akan membantunya menjadi calon ibu yang kuat bagi keluarganya kelak. Sedangkan anak laki-laki yang mandiri dapat menjadi pemimpin yang bertanggung jawab bagi keluarganya.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai orang tua untuk melatih kemandirian anak: Pertama, diawali dengan keterampilan mengurus diri sendiri, seperti mengambil makanan, makan sendiri tanpa disuapi, mengambil minum, cuci BAK/BAB, menyiapkan peralatan sekolahnya, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:  Serak Tangis Pertiwi di Balik Senyum Penguasa

Kedua, diberikan waktu untuk bermain bebas sekadar melepaskan penat dari rutinitas agar pikiran mereka bisa beristirahat dan rileks kembali. Ketiga, membiarkan mereka membantu tugas rumah, seperti menyapu, menyirami tanaman, membuang sampah, dan sebagainya. Hal ini untuk melatih anak-anak agar merasakan sendiri pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya tidak sulit, tetapi memerlukan tanggung jawab sampai pekerjaannya selesai.

Keempat, berikan kesempatan untuk menentukan cita-cita mereka sendiri. Memahamkan mengenai tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap pilihan hidup. Bahwa setiap pilihan itu memiliki risiko dan tanggung jawab masing-masing. Ada risiko jika tidak sesuai keinginan dan ada tanggung jawab untuk mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar cita-cita tersebut tercapai.

BACA JUGA:  Atasi Stunting, Kerja Sama dengan Asing?

Kelima, ingatkan anak bahwa kita sebagai orang tua tidak akan selamanya bersama mereka. Saat dewasa nanti, anak-anak akan menjalani takdirnya masing-masing, entah berjodoh dengan siapa, bekerja di mana, dan seterusnya. Allah menetapkan qada atas hidup mereka.

Keenam, diingatkan pula bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan akhirat yang panjang. Akhirat adalah tempat kehidupan manusia yang sebenarnya. Di akhirat nanti, manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama di dunia.

Jika manusia beriman kepada Allah, taat kepada-Nya, niscaya mereka akan mendapatkan balasan berupa pahala dan surga. Begitu pun sebaliknya, jika manusia ingkar kepada Allah balasannya adalah dosa dan neraka. Konsekuensi iman inilah yang harus dimiliki anak-anak kita supaya mereka menjadi mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya.[]

Pos terkait