Melayani Berhenti Merokok atau Melayani Industri Rokok?

Melayani Berhenti Merokok atau Melayani Industri Rokok?

Rokok juga menjadi salah satu faktor penyebab kematian utama di dunia.

DEPOK POS – Rokok yang merupakan gulungan tembakau kering yang dan mengandung berbagai zat kimia berbahaya pastinya sudah tak asing lagi didengar oleh telinga kita. Rokok juga menjadi salah satu faktor penyebab kematian utama di dunia. Hal tersebut karena perilaku merokok akan menyebabkan berbagai jenis penyakit seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronis. Usia dari berbagai kalangan bisa saja menjadi perokok. Apalagi ditambah dengan iklan-iklan rokok yang menggambarkan bahwa orang yang merokok itu akan terlihat keren, tapi faktanya tidak demikian. Hal tersebut bisa memicu orang untuk menjadi perokok, apalagi jika mereka belum paham dari dampak negatif rokok, misalnya pada kalangan remaja. Menurut UU Perlindungan Anak, remaja itu sendiri didefinisikan sebagai periode usia 10 sampai 18 tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2021, perokok berumur 15-19 tahun berjumlah 9,98% yang mana angka tersebut baru menyentuh di bawah 10% dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut cukup membuat miris. Banyak cara yang dapat dilakukan agar prevalensi perokok suatu negara dapat ditekan. Dilansir dari berbagai sumber seperti Journal Of The American College Of Cardiology, American Family Physician, American Medical Association, bahwa salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan layanan konseling yang berkelanjutan bagi perokok untuk berhenti merokok ataupun bagi orang-orang yang ingin mencegah dirinya untuk tidak merokok.

BACA JUGA:  Hati-Hati, Citra Tubuh Negatif Dapat Berujung pada Komplikasi Kesehatan, Infertil, hingga Kematian

Konseling adalah layanan bimbingan yang memungkinkan pasien atau klien berhubungan dengan konselor atau seorang ahli dalam rangka untuk pembahasan masalah pribadi yang diderita pasien atau klien baik secara tatap muka maupun tidak. Tujuan dari konseling adalah untuk dapat menyelesaikan permasalahan klien atau pasien. Hal ini jika dihubungkan dengan rokok adalah konseling untuk pasien agar pasien mendapat bimbingan untuk berhenti merokok dari ahli. Konseling yang dilakukan secara tepat terbukti efektif dalam mengatasi kecanduan rokok pada pengguna rokok.

Upaya konseling merupakan salah satu alternatif pilihan yang dapat dilakukan untuk menekan jumlah perokok. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah menerapkan layanan konseling sebagai salah satu upaya menekan jumlah perokok di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memperluas akses kepada pengguna rokok yang ingin berhenti merokok dengan menyediakan layanan konseling untuk berhenti merokok hingga ke puskesmas, klinik-klinik mandiri, rumah sakit sebagai fasilitas rujukan, hingga melalui saluran telepon bebas biaya. Sebagaimana disebutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, prevalensi merokok pada usia anak dan remaja ditargetkan akan turun dari 9,4% menjadi 8,7% pada tahun 2024 dan layanan konseling berhenti merokok dijadikan salah satu strategi kebijakan pengendalian tembakau guna menekan angka perokok di Indonesia.

BACA JUGA:  Sindrom Ovarium Polikistik dan Faktor Risikonya

Akan tetapi, layanan konseling tersebut belum sepenuhnya dapat dipergunakan masyarakat secara optimal terutama pada remaja. Hal tersebut disebabkan kurangnya persebarluasan informasi tentang layanan, tenaga konseling yang berkompeten terbatas, dan kesadaran masyarakat yang masih rendah. Persebarluasan informasi tentang layanan penting untuk ditingkatkan agar semakin banyak pengguna rokok tahu tentang layanan tersebut. Upaya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk melakukan konseling juga perlu ditingkatkan untuk menunjang keberhasilan program layanan konseling berbasis individu maupun kelompok. Dan upaya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan layanan konseling masih perlu dilakukan secara aktif pada masyarakat pengguna fasilitas kesehatan dan masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan.

Di Amerika Serikat, perpaduan program pengobatan dan konseling terhadap pengguna rokok merupakan upaya yang paling efektif dilakukan dalam menangani kecanduan rokok. Program tersebut bertumpu pada upaya tenaga kesehatan yang tidak hanya mengobati dampak kesehatan akibat merokok tetapi juga melakukan konseling terhadap pasien. Konseling dapat dilakukan pada semua kalangan, tak terkecuali remaja. Konseling dapat dilakukan dengan tiga tahapan, yakni:

Menanyakan penggunaan rokok. Tahap pertama ini dilakukan dengan melakukan screening tentang penggunaan rokok pada pasien dan juga bisa dilakukan pada masyarakat di sekitar fasilitas kesehatan.

BACA JUGA:  Pakar UGM Imbau Masyarakat Waspada Hadapi Omicron XBB

Membantu pengguna rokok agar berhenti merokok. Tahap kedua ini dilakukan edukasi tentang manfaat berhenti merokok, menyarankan pengguna untuk berhenti, menilai kesiapan pengguna untuk berhenti, membantu upaya pengguna untuk berhenti dengan menyediakan obat-obatan atau menghubungkan pengguna dengan sumber konseling dari pemerintah, dan mengatur pertemuan lagi untuk memonitor keberhasilan berhenti merokok.

Merujuk pengguna rokok ke layanan berhenti merokok. Tahap ketiga ini dilakukan dengan merujuk pengguna rokok ke sumber daya yang sesuai untuk membantu maupun mempertahankan perilaku berhenti merokok.

Indonesia dapat berkaca pada Amerika Serikat dalam penerapan sistem konseling yang berkesinambungan dan meningkatkan layanan konseling yang tersedia agar dapat mencegah maupun menanggulangi penggunaan rokok, khususnya pada remaja. Cakupan layanan konseling perlu diperluaskan secara aktif dengan melakukan screening pengguna rokok agar remaja pengguna rokok dapat terpikat pada layanan konseling untuk berhenti merokok. Layanan konseling yang dilakukan secara aktif tentunya memerlukan sumber daya tenaga kesehatan yang dapat melakukan upaya konseling dengan baik. Untuk itu, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan adalah hal utama yang perlu dilakukan untuk dapat memaksimalkan layanan konseling tatap muka maupun lewat saluran telepon.

Andri Kurnia dan Fitri Sinta Dewi
Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Pos terkait