Memahami Perasaan Anak dari Usia Dini Sampai Dewasa Awal

DEPOKPOS –  Perkembangan merupakan suatu proses yang pasti dialami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kulitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistimatis didalam diri manusia. Memahami perkembangan anak adalah dasar yang memiliki perubahan mental dari seorang anak yang baru saja lahir, remaja sampai ia tubuh dewasa. Lalu bagaimana memahami perkembangan anak dari bayi hingga dewasa.

Contohnya, mengapa anak usia 3 tahun, anak usia 7 tahun dan anak usia remaja berbeda tingkah dan perilakunya? Itu karena pengalaman yang mempengaruhi faktor psikologi dan biologisnya, karena sangat luas, para ilmuwan dan praktisi psikologi sering membagi tumbuh kembang anak kedalam beberapa area yang spesifik. Para ilmuwan cenderung memetakan perkembangan anak dari beberapa kategori seperti perkembangan fisik, perkembangan social-emosional, dan perkembangan kognitif. Mereka mencoba untuk memahami seluruh aspek pertumbuhan anak, termasuk bagaimanakah seorang anak berpikir belajar, melalukan interaksi dan memberikan tanggapan secara emosional terhadap orang atau benda di sekeliling mereka. Berteman, memahami emosi dan bagaimana anak-anak mengembangkan kepribadian, perilaku dan keahlian.

Erik Erikson, seorang psikolog dan profesor terkenal di Universitas Harvard dan Universitas California, mempresentasikan teori perkembangan psikososial yang terdiri dari enam tahap perkembangan. Berikut ini ada beberapa tahapan perkembangan sosial-emosional menurut teori Erikson:

BACA JUGA:  Menyelamatkan Bumi : Strategi Peduli Lingkungan untuk Masa Depan

Tahap membangun kepercayaan diri pada usia 0 – 18 bulan. Yaitu Melalui interaksi dengan orang tua dan pengasuh, bayi belajar mempercayai orang lain dan orang-orang di sekitarnya. Saat bayi merasa aman dan nyaman, ia mengembangkan kepercayaan yang kuat pada orang lain. Jika anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang positif, maka kepercayaannya dapat menyebabkam sikap berani melakukan berbagai ekslorasi. Namun jika anak dibesarkan di dalam lingkungan yang kasar, maka dapat menyebabkan anak yang kurang percaya diri menolak untuk eksplorasi lingkungannya.

Tahap menjelajahi pada usia 18 bulan – 3 tahun. Yaitu Anak mulai mengeksplorasi lingkungannya dan belajar mengembangkan rasa kemandirian. Mereka juga belajar mengendalikan emosi mereka dan mengekspresikannya dengan tepat. Jika berhasil pada tahap ini, maka rasa kemandirian dan mengendalian emosi dirinya akan meningkat. Namun jika gagal dalam tahap ini, maka anak akan memiliki rasa bersalah dan kurang nya inisiatif dalam melakukan segala hal.

Tahap Inisiatif pada usia 3-6 tahun. Yaitu Anak-anak mulai mengembangkan inisiatif dan belajar proaktif dalam tugas dan kegiatan. Mereka juga belajar berinteraksi dengan orang lain dan membentuk hubungan sosial yang lebih kompleks. Jika berhasil pada tahap ini, maka rasa tanggung jawab dan prakarsa pada dirinya meningkat. Namun jika gagal dalam tahap ini, maka anak akan memiliki rasa bersalah, dan kurangnya inisiatif dalam melakukan segala hal.

BACA JUGA:  Peran Sentral Manajemen Risiko dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi era 5.0 VUCA di Tengah Isu Resesi Global 2023

Tahap kompetensi pada usia 6 – 12 tahun. Yaitu Anak-anak mulai mengembangkan rasa kompetensi dan belajar mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang lebih kompleks. Anak juga akan belajar mengembangkan kepercayaan diri dan mengatasi rasa tidak aman. Tahapan ini menjadi berhasil jika anak didukung oleh orangtuanya dalam membangun perasaan kompetensi dan percaya dengan keterampilannya. Namun anak akan menjadi gagal dalam tahapan ini anak menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orangtuanya yang akan menimbulkan permasalahan seperti rasa rendah diri dan tidak produktif.

Tahap Identitas pada usia 12 – 18 tahun. Yaitu Kaum muda mulai mengembangkan identitas mereka sendiri dan belajar menghadapi perasaan bingung dan tidak aman. Mereka juga belajar membentuk hubungan sosial yang lebih kompleks dan memahami emosi orang lain. Pada tahap ini, anak hidup berdampingan dengan remaja hingga dewasa, ketika anak memiliki banyak peran baru, posisi baru sebagai orang dewasa, pekerjaan dan lainnya. Ketika anak mengeksplorasi peran secara positif, identitas mereka dipadatkan dan banyak hal positif dicapai. Namun, jika ketidak amanan identitas diri tidak diatasi, hal itu dapat menyebabkan kebingungan peran di masa depan. Misalnya; siapa saya, apa yang saya inginkan di masa depan, apa tujuan saya, dll.

BACA JUGA:  Larangan Maysir dalam Transaksi

Tahap intiman pada usia 18 – 40 tahun. Yaitu Orang dewasa mulai menjalin hubungan yang lebih dekat dan belajar memahami perasaan orang lain lebih dalam. Mereka juga belajar mengembangkan empati dan menghadapi perasaan kesepian. Keintiman pada tahap ini merupakan identitas pribadi yang sangat kuat antara perempuan dan laki-laki. Tahap ini merupakan tahap resiprositas seksual atau pubertas. Jika hubungan ini berhasil, Anda mencari teman atau pasangan hidup dan melanjutkan hubungan dengan komitmen. Tetapi mereka yang memiliki kesadaran diri rendah cenderung kurang terlibat dan lebih cenderung terisolasi secara emosional, kesepian, dan terasing dari orang lain.

Teori perkembangan sosial emosional Erikson memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tahapan perkembangan psikososial manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Dengan memahami tahapan perkembangan ini, orang tua dan pengasuh dapat memberikan dukungan dan bimbingan yang tepat kepada anak-anak untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka.

Amanda Setiawan

Pos terkait