Memahami Perbedaan Asas Culpabilitas Dengan Asas Praduga Tak Bersalah Dalam Hukum Pidana di Indonesia

Memahami Perbedaan Asas Culpabilitas Dengan Asas Praduga Tak Bersalah Dalam Hukum Pidana di Indonesia

MAJALAH JAKARTA – Culpabilitas dan Praduga Tak Bersalah merupakan dua asas yang berbeda dalam Hukum Pidana. Akan tetapi kedua asas ini saling berkaitan antara perbuatan tindak pidana dihubungkan dengan dapat atau tidaknya seseorang itu dipertanggungjawabkan. Culpabilitas berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti kesalahan, sedangkan dalam bahasa hukum itu berarti tidak ada suatu pidana tanpa kesalahan.

Asas Culpabilitas diatur dalam Pasal 6 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi: “Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.”

BACA JUGA:  5 Ide Bisnis yang Terbukti Tangguh Hadapi Resesi

Sehingga jelas bahwa dalam Hukum Pidana asas Culpabilitas merupakan bentuk pertanggungjawaban pidana yang memuat unsur kesalahan, baik itu karena kesengajaan (dolus) maupun kealpaan/kelalaian (culpa).

Sedangkan, asas praduga tak bersalah memiliki arti bahwa seseorang tidak bisa dikatakan bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap menyatakan nya bersalah. Asas ini diatur dalam Penjelasan Umum KUHAP butir ke-3 huruf c yang berbunyi: “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.”

BACA JUGA:  Pasar Kaki Langit, Keunikan Pasar Sekaligus Wisata di Sisi Timur Yogyakarta

Lalu dalam UU Kekuasaan Kehakiman Pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.”

Penerapan asas praduga tak bersalah digunakan ketika sidang pengadilan itu berjalan dan hakim belum mengeluarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Sehingga seorang terdakwa tidak boleh dipersalahkan atas perbuatan tindak pidana tersebut, dan ia berhak memperoleh hak-hak sebagai terdakwa yang sebagimana diatur dalam undang-undang.

BACA JUGA:  Pembelian LPG Subsidi Dibatasi, Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga yang Sehat

Jadi, letak perbedaannya adalah pada asas Culpabilitas merupakan bentuk pertanggungjawaban atas tindak pidana yang ia lakukan baik itu karena kesalahan atau kealpaan. Sedangkan asas praduga tak bersalah merupakan hak terdakwa dalam proses persidangan (tidak berlaku dalam proses penyidikan, penangkapan, penuntutan, dan penahanan) karena dianggap tidak bersalah dan hak-haknya harus dihormati sebagai orang biasa pada umumnya.

Oleh : Bima Adjie Prasetyo
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

Pos terkait