Membentuk Keluarga Sakinah dalam Pernikahan Dini

Membentuk Keluarga Sakinah dalam Pernikahan Dini

 

Islam menganjurkan umatnya untuk menikah karena memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Dibalik anjuran yang diperintahkan kepada umat manusia, pasti ada hikmahnya. Salah satu tujuan pernikahan seperti termaktub dalam surat ar-Rum ayat 21 yaitu untuk memperoleh ketentraman, kenyamanan, rasa kasih dan sayang. Berdasarkan ayat dari QS. ar-Rum:21 diatas, terdapat, tiga kata kunci yang harus dipegang dalam a long life strangle kehidupan keluarga, yaitu mawaddah, rahmah, dan sakinah.

Sakinah merupakan kata kunci yang sangat penting, dimana pasangan suami istri merasakan mendapatkan kedamaian, keharmonisan, dan ketenangan hidup yang dilandasi oleh keadilan, keterbukaan, kejujuran, kekompakan dan keserasian, serta berserah diri kepada Allah SWT. Keluarga sakinah berarti pula keluarga yang bahagia atau juga keluarga yang diliputi rasa cinta-mencintai (mawaddah) dan kasih sayang (warohmah). Terciptanya sakinah, yang artinya ketenangan dan ketentraman. Setiap pasangan yang menikah, pastinya menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangganya, ada ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan. Harapan ini dapat menjadikan rumah tangga sebagai surga bagi para penghuninya, baik secara lahir maupun secara batin.

Pernikahan di usia yang muda bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani karena rawannya masalah-masalah yang muncul sehingga memicu keharmonisan rumah tangganya tersebut. Dari problem-problem itulah sebagai pasangan harus mempelajari serta meminimalisir dari  hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Pernikahan dini dapat diartikan sebagai ikatan lahir batin seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri pada usia yang masih muda atau remaja. Golongan remaja muda adalah para gadis yang berusia 13-17 tahun,itu pun sangat tergantung pada kematangan secara seksual, sehingga penyimpangan-penyimpangan secara kasus-kasus terdahulu pasti ada. Bagi laki-laki disebut remaja muda pada usia 17-20 tahun. Dan apabila remaja muda sudah menginjak 17-18 tahun mereka lazim disebut golongan muda atau anak muda. Sebab sikap mereka sudah mendekati pola sikap tindak orang dewasa, walaupun dari sudut perkembangan mental belum matang sepenuhnya. Agama Islam dalam prinsipnya tidak melarang secara terang terangan tentang pernikahan dini, namun Islam juga tidak pernah mendorong atau mendukung pernikahan dini tersebut, apalagi dilaksanakan dengan tidak sama sekali mengindahkan pada  mental, hak-hak anak, psikis dan fisik terutama pihak perempuan, dan juga kebiasaan dalam masyarakat, dengan dalih bahwa agama Islam sendiri tidak melarang mengenai pernikahan usia dini tersebut

BACA JUGA:  Mengenal Orang Utan di Indonesia

Mewujudkan keluarga Sakinah Mawaddah dan Warohmah adalah dambaan setiap insan manusia. Pada dasarnya, keluarga sakinah sukar diukur karena merupakan satu perkara yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumah tangga. Namun, terdapat beberapa ciri-ciri keluarga sakinah, diantaranya :

a. Rumah Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah

Asas yang paling penting dalam pembentukan sebuah keluarga sakinah ialah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah dan bukannya atas dasar cinta semata-mata. Ia menjadi panduan kepada suami istri sekiranya menghadapi berbagai masalah yang akan timbul dalam kehidupan berumah tangga.

b. Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)

Tanpa ‘al-mawaddah’ dan ‘al-Rahmah’, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan. Dua perkara ini sangat-sangat diperlukan kerana sifat kasih sayang yang wujud dalam sebuah rumah tangga dapat melahirkan sebuah masyarakat yang bahagia, saling menghormati, saling mempercayai dan tolong-menolong. Tanpa kasih sayang, perkawinan akan hancur, kebahagiaan hanya akan menjadi angan-angan saja.

c. Mengetahui Peraturan Berumah Tangga

Setiap keluarga seharusnya mempunyai peraturan yang patut dipatuhi oleh setiap ahlinya yang mana seorang istri wajib taat kepada suami dengan tidak keluar rumah melainkan setelah mendapat izin, tidak menyanggah pendapat suami walaupun si istri merasakan dirinya betul selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak menceritakan hal rumah tangga kepada orang lain. Anak pula wajib taat kepada kedua orang tuanya selama perintah keduanya tidak bertentangan dengan larangan Allah. Dan suami merupakan ketua keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk membimbing setiap ahli keluarganya ke arah yang benar dan diperintahkan Allah.

BACA JUGA:  Pornografi Mempengaruhi Kecerdasan Inteligensi

d. Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak

Perkawinan bukanlah semata-mata menghubungkan antara kehidupan kedua pasangan tetapi ia juga melibatkan seluruh kehidupan keluarga kedua belah pihak, terutamanya hubungan terhadap ibu bapak kedua pasangan. Oleh itu, pasangan yang ingin membina sebuah keluarga sakinah seharusnya tidak menepikan ibu bapak dalam urusan pemilihan jodoh, terutamanya anak lelaki. Anak lelaki perlu mendapat restu kedua ibu bapaknya karena perkawinan tidak akan memutuskan tanggungjawabnya terhadap kedua ibu bapaknya. Selain itu, pasangan juga perlu mengasihi ibu bapak supaya mendapat keberkatan untuk mencapai kebahagiaan dalam berumahtangga.

e. Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar

Antara tujuan ikatan perkawinan adalah untuk menyambung hubungan keluarga kedua belah pihak termasuk saudara ipar kedua belah pihak dan kerabat-kerabatnya. Karena biasanya masalah seperti perceraian timbul disebabkan kerenggangan hubungan dengan kerabat dan ipar.

f. Saling Terbuka Antar Keluarga

pada hakikatnya keterbukaan antara suami dan istri harus diwujudkan dalam kejiwaan nya sehingga dari pasangan tersebut dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami-istrinya dan dapat memberikan sikap saling percaya (tsiqoh).Jangan sampai terjadi pada seorang suami dan istri yang saling memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan atau kesalahan yang ada pada suami atau istri. Jika hal yang tersebut terjadi, hendaknya suami istri segera introspeksi dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami dan istri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan dalam pernikahannya.

BACA JUGA:  Menjadikan Gaya Hidup Sebagai Media Promosi

Ciri-ciri keluarga sakinah sudah dijelaskan di atas, sekarang bagaimana membentuk atau membangun keluarga yang sakinah?

Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat

Agar terciptanya keluarga yang sakinah, maka dalam menentukan kriteria suami maupun istri haruslah tepat. Diantara kriteria tersebut misalnya beragama islam dan shaleh maupun shalehah, berasal dari keturunan yang baik-baik, berakhlak mulia, sopan santun dan bertutur kata yang baik, mempunyai kemampuan membiayai kehidupan rumah tangga (bagi suami).

Saling Mengerti Antara Suami-Istri

Suami dan istri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing sebagai dasar untuk menjalin komunikasi. Dan dari sinilah seorang suami atau istri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga yang hancur, akibat sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula istri.
Saling terbuka, santun, dan bijak

Keterbukaan harus diwujudkan, sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami istrinya dan dapat memupuk sikap saling percaya. Hal itu dapat dicapai bila suami istri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian.

Memupuk rasa cinta

Untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut hendaknya antara suami istri senantiasa memupuk rasa cinta dengan saling menyayangi, mengasihi, menghormati, menghargai dan penuh dengan keterbukaan. Dengan adanya rasa cinta diantara pasangan suami istri akan mendatangkan ketentraman, keamanan, dan kedamaian.

Oleh:
Ananda Xyla Putri N, Lazialita Azzahra Puteri, & Syifa Robiatul Adawiyah
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait