Membuat Ruang Publik Menjadi Tempat yang Aman

Membuat Ruang Publik Menjadi Tempat yang Aman

 

Pada beberapa bulan yang lalu banyak terjadi peristiwa yang memilukan dari sebuah tempat publik atau juga disebut tempat umum. Tempat umum menjadi tempat berbahaya dalam makna kurang baiknya atau buruknya sebuah sistem kelola ruang publik. Kejadian tersebut menjadi perhatian dalam artikel ini dengan niat mengevaluasi setiap pribadi serta lembaga atau para penanggung jawab ruang pubik.

Dari setiap kejadian ruang publik yang terjadi beberapa bulan lalu, baik didalam Negri dan juga luar negri. Setiap peristiwa memberikan sebuah luka trauma atas para korban selamat dan keluarga korban tidak selamat.

Kejadian pilu tersebut diasumsikan sebagai sebuah penyebab pelonggaran dari sistem penanganan virus Covid-19. Dari adanya pembatasan pergerakan ruang publik, melaksanakan sekolah secara virtual atau online, dan mengerjakan pekerjakan dari rumah. Maka itu tingkat keinginan seseorang unntuk melakukan kegiatan di ruang publik semakin besar. Hingga menyebabkan beberapa peristiwa yang menyebabkan kehilangan nyawa.

Selain kemungkinan keinginan untuk mengunjungi ruang publik sebagai alasan peristiwa tersebut, kekurangan sistem dan tatakelola serta komunikasi para pihak penanggung jawab yang buruk. Terlihat dari salah satu peristiwa publik yang menyebabkan kehilangan nyawa adalah peristiwa yang terjadi diluar negri yaitu peristiwa hollewen itaewon di Korea Selatan, pada 29 Oktober 2022. Pada peristiwa hollewen itaewon, terjadi pada malam weekend bermula dari sebuah gang kecil yang menjadi jalan menuju lokasi perayaan hollewen dari stasiun kereta bawah tanah Itaewon begitu juga sebaliknya.

Dikarenakan banyaknya jumlah orang yang bertujuan merayakan hollewen pada malam itu serta ada juga yang hendak meningglkan tempat perayaan, terjadi desakan di gang kecil tersebut. Ditambah lagi struktur jalan yang sedikit menanjak. Sehingga apabila satu orang jatuh akan sulit untuk kembali berdiri. Peristiwa tersebut sudah disadari orang orang yang sedang di gang tersebut dan juga orang orang yang disekitar gang, bahwa akan ada risiko dari kepadatan pada gang tersebut. Mereka mencoba memanggil panggilan darurat. Bahkan terdata sudah ada sekitar empat atau lebih panggilan yang masuk ke panggilan daurat untuk meminta pertolongan. Tapi mengapa peristiwa itu masih merenggut nyawa?

BACA JUGA:  Generasi Milenial, Mengubah Paradigma Sosial dengan Keberanian

Dari sebuah pernyataan polisi yang bertugas dikantor daerah itaewon mereka sudah meminta bantuan lebih banyak kepada pusat namun kejadian itu tidak diperkirakan oleh kepolisian sehingga posisi para petugas polisi cukup jauh dan tidak bisa segera sampai kelokasi serta membantu menyelamatkan dan megevakuasi para korban yang sudah pingasn tetekan dan terpijak.

Ada sebuah kemungkinan karena lokasi tempat tinggal Presiden Korea Selatan yang baru saja pindah ke Hanam Dong yang lokasinya jauh dari daerah itaewon, yang mana kemungikanan perhatian polisi saat itu sedang berjaga disekitar tempat tinggal Presiden Korea Selatan.

Dan faktanya kegiatan perayaan Hollewen di daerah Itaewon bukanlah kegaitan yang diagendakan pemerintah Korea Selatan atau sebuah kepanitian dan berasal dari kebiasaan yang mulai dinikmati para anak muda dan orang dewasa yang ada di Korea Selatan dan menjadi salah satu kegiatan yang ingin dilakukan olah para turis asing saat di Korea Selatan.

Sehingga para petugas polisi dan regu penyelamat tidak menduga akan ada peristiwa pilu tersebut. Banyaknya jumlah orang yang berdatangan untuk merayakan Hollewen di Itaewon dan terlambatnya pertolongan menyebabkan jumlah korban jiwa meninggal mencapai sekitar 130 orang meninggal dunia. Yang mana tidak hanya Warga Negara Korea Selatan namun juga Warga Negara Asing.

Menjadi sebuah perhatian lebih terhadap kemungkinan budaya baru yang mungkin saja akan membuat lautan manusia. Selain kegiatan yang terbentuk dari sebuah budaya juga ada peristiwa yang terjadi di ruang publik yang ternyata meruapakan sebuah kegiatan yang sudah di agendakan.

BACA JUGA:  Memilih Calon Pasangan Hidup Berlandaskan Bibit, Bebet, Bobot

Contohnya di Idonesia, kegiatan liga sepak bola Indonesia antara Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang, pada 1 Oktober 2022. Sebagai Negara yang masyarakatnya memiliki kecintaan pada salah satu cabang olahraga sepak bola. Peristiwa kanjuruhan menjadi catatan sejarah sepak bola Indonesia yang perlu ditandai sebagaia evaluasi.

Menjadi sebuah topik evaluasi bagi semua orang bahwa seluruh kemungkinan yang bisa terjadi pada ruang publik. Menyadari bahwa sebuah risiko pada ruang publik berpotensi terjadi pada setiap kegiatan baik di kegiatan yang sudah di agendakan atau hanya bagian dari alur sebuah budaya yang berkembang di sebuah Negara.

Maka evaluasi terjadi atas setiap peristiwa pilu di ruang publik adalah pentingnya kesadaran bagi penanggung jawab setiap kegiatan memperkirakan setiap keadaan darurat, menumbuhkan budaya peduli atas sebuah kejadian yang terjadi dihadapan kita atau menjadi lebih peka.

Sedikit banyaknya dari sebuah peristiwa pilu tersebut menyadari kita bahwa setiap kemungkianan akan terjadi pada ruang terbuka atau ruang public yang memilki pintu akses.

Jadikan sebuah pemebelajaran bahwa ketertarikan dan perasaan yang tidak terkontrol akan menjadikan kita lupa akan keadaan orang orang disekitar kita. Menjadi lebih peka dan sensitif terhadap sebuah keadaan sekitar kita di ruang publik.

Kemudian apakah tanggung jawab dari para penanggung jawab ruang publik. Menyadari sebuah peristiwa telah terjadi akibat sebuah pusat perhatian yang terpusat pada suatu hal. Berarti sebuah risiko yang diperkirakan belum benar terjadi dan malah terjadi risiko yang diluar dugaan.

Kemudian bagaimana cara terbaik antara pengguna ruang public dan yang mengatur ruang public?

Pertama perlu kita sadari bahwa dari sebutannya saja ruang publik, kenyataannya itu adalah tempat umum yang mana banyak orang yang akan mendatangi, menikmati suasana, menggunakan untuk kegiatan. Segera sadar dan perhatikan jika ruang gerak mulai mengecil segera menghindar dari kerumunan. Jika sudah sulit menghindar, memposisikan tangan melindungi dada agar jantung tidak tertekan abibat himpitan karna keramaian. Dan segera meminta pertolongan pada orang sekitar, agar mereka dapat memanggil panggilan darurat.

BACA JUGA:  Kepemimpinan dan Manajemen yang Efektif Dalam Perubahan Organisasi

Kemudia bagaimana para pihak yang bertnggung jawab? Apakah mereka salah jika ternyata kondisi tidak memberikan mereka kesempatan untuk datang segera kelokasi?

Jika dikatakan para penggung jawab publik di ruang publik seeprti peristiwa Hollewen Itaewon penyebab hilangnya nyawa dan terlukaanya para korban, sepenuhnya tidak bisa dikatakan seperti itu. Dengan berbagai alasan yang menyebabkan mereka datang terlambat, mereka sudah meraih segera lokasi. Maka hanya bisa menjadi sebuah gambaran kedepannya bahwa kegiatan tersebut perlu mendapat perhatian. Kemudian pada periatiwa kanjuruhan yang menjadi evaluasi besar besaran dalam penggendalian oleh aparat keamanan polisi terhadap suporter bola yang terprofokasi. Penggunaan gas air mata yang menjadi larangan dari Fifa selaku organisasi sepak bola dunia.

Selain kedua peristiwa perayaan Hollewen di Itaewon dan sepak bola Kanjuruhan, masih ada banyak kegiatan di ruang public akibat dari sebuah keramaian yang tidak terkontrol.

Apa yang menjamin sebuah kegiatan di ruang public akan aman adalah sebuah penjagaan yang baik, pengontrolan yang yang benar, kesadaran pada para pengunjung bahwa setiap sisi ruang public memiliki tanggung jawab bersama sehingga menjadikan kita lebih tahu diri agar tidak mengakibatkan sebuah kejadian yang diakibatkan sebuah dorongan orang untuk bertindak diluar kendali sistem keamanan atau petugas kegiatan.

Jadikan berbagai peristiwa sebagai cermin yang dilhat untuk sebagai pembelajaran besar dan menjadi kan cermin untuk menghindar kemungkinan kejadian di ruang public akan terulang kembali.

Dengan segala kejadian yang terjadi pada beberpa bulan lalu menjadi sebuah cermin yang dilihat untuk menyadari bahwa segala kemungkinan akan terjadi.

Hasna Mufidah
STEI SEBI

Pos terkait