Menabung Bukan Menimbun Harta!

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘menabung’ adalah menyimpan uang dengan berbagai cara. Menabung merupakan salah satu cara mengelola keuangan yang bertujuan untuk menyiapkan dana cadangan di masa depan. Tabungan juga berperan untuk menjaga kestabilan keuangan jika mengalami hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Dengan menabung, seseorang dapat mengetahui prioritas keuangan yang dimilikinya.

Istilah ‘menabung’ di dalam Islam mengandung makna yang sangat luas. Menabung bukan hanya terpaku pada mengumpulkan uang saja, namun mencakup keefektifan seseorang dalam mengelola pengeluaran harta yang dimilikinya. Rezeki yang bermanfaat adalah yang terus ada dan mencukupi kebutuhan, walaupun jumlahnya sedikit dan terbatas. Rasulllah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أحب الأعمال إلى الله: أدومها وإن قل

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)

Rezeki yang tak terputus tak akan terwujud bagi mereka yang boros di dalam mengeluarkan harta, menyia-nyiakan kesehatannya, dan masa mudanya. Sungguh pemborosan termasuk salah satu cobaan yang paling berat serta merupakan sumber keburukan dan permasalahan. Allah Ta’ala telah begitu keras melarang manusia dari pemborosan. Hal ini telah dijelaskan kepada Nabi-Nya dalam firman Allah, yaitu:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-tts itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Ayat diatas menjelaskan tentang cara mengatur dan memberdayakan harta yang baik dan adil, juga menjelaskan akibat dari terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan dan menafkahkan harta. Dengan menabung, tentu saja dapat menghindari pemborosan.

BACA JUGA:  Permasalahan Pendidikan di Indonesia Tantangan Menuju Masa Depan Berpendidikan

Ada beberapa hadits tentang menabung, diantaranya:
“Rasulullah menyimpan makanan untuk kebutuhan keluarga selama setahun.” (HR Bukhari no 2904 dan Muslim no 1757).

“Simpanlah sebahagian daripada harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.” (HR. Bukhari).

“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin,…” (HR Bukhari Muslim).

Dari hadis-hadis tersebut kita dapat mengetahui bahwa menabung adalah salah satu ajaran Islam. Hadits terakhir pun menunjukkan bahwa meninggalkan harta kekayaan yang banyak bagi ahli waris kita tidak dilarang. Bahkan merupakan perbuatan yang lebih baik. Agar ketika kita wafat, masih ada yang kita tinggalkan untuk pewaris kita. Bahkan nabi Yusuf ‘alaihissalam sangat akurat dalam mengelola Keuangan. Tatkala ia memprediksi masa depan kaumnya, lalu ia berusaha untuk bijak di dalam mengatur pengeluaran setiap harinya dan menabung serta menyimpan untuk menghadapi masa sulit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,
اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ
“Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya di dalam kitab Al-Qasru Al-Amal no. 111 dan Al-Hakim no. 7846 dan Al-Baihaqi di dalam Syu’abu Al-Iman no. 10248)

Dengan menabung, kita dapat menjaga salah satu dari lima perkara tersebut.

Menabung bukan berarti tidak tawakal. Justru sebaliknya. Karena tawakal bukan berarti kita hanya pasrah kepada Allah tanpa melakukan apapun. Tawakal harus dimulai dengan usaha yang maksimal, setelah itu barulah kita berserah diri kepada Allah SWT.

BACA JUGA:  Peran Zakat dalam Perekonomian Negara

Apakah menabung sama dengan menimbun?

Mungkin beberapa orang masih sering bertanya-tanya mengenai hal itu.
Tentu saja tidak. Menabung bukan untuk menimbun harta. Dalam ajaran Islam, menabung adalah salah satu upaya berjaga-jaga, di samping juga sebagai bagian dari proses pengelolaan keuangan rumah tangga. Dengan menabung, artinya kita memiliki perspektif waktu jauh ke depan. Kita tidak melihat pengeluaran dalam kacamata jangka pendek saja, melainkan sudah membuat perkiraan apa-apa saja yang harus dikeluarkan pada masa mendatang, karenanya perlu dipersiapkan sejak sekarang. Yaitu dengan cara menabung.

Menimbun harta merupakan hal yang dilarang oleh islam. Syariat Islam melarang keras sifat kikir dan pelit dalam mengeluarkan harta, melarang juga dari menimbun harta, karena perbuatan-perbuatan itu mengandung sifat ketidakpedulian dan menelantarkan hak-hak orang-orang yang tidak mampu. Allah Ta’ala mengancam perbuatan ini,

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙفَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ * يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (QS. At-Taubah: 34-35)

Menabung sangat bermanfaat bagi kehidupan, diantaranya;

Memenuhi self love

Untuk memenuhi self love ini, tentunya perlu mempersiapkan dana yang sesuai dengan kebutuhan kita. Maka dari itu, kita perlu menyisihkan uang secara konsisten dengan cara menabung. Dengan adanya tabungan, ketika kita stress kita bisa healing tanpa perlu memikirkan biaya.

BACA JUGA:  Batasan dan Hak Fakir Miskin

Memiliki dana darurat untuk kebutuhan mendesak

Seperti kita tahu, dalam menjalani hidup selalu ada hal tidak terduga yang akan muncul. Untuk mengatasi hal tersebut, tidak jarang kita membutuhkan uang. Untuk mempersiapkan hal tersebut, Anda perlu menabung. Caranya adalah dengan memiliki dana darurat yang berjumlah 3 kali dari pengeluaran Anda di setiap bulannya. Selain itu, Anda juga bisa melakukan investasi dalam bentuk berbagai macam. Seperti, deposito atau reksa dana pasar uang.

Mewujudkan pendidikan

Salah satu kebutuhan yang wajib Anda penuhi adalah pendidikan. Kini, dalam mengenyam pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, cenderung meningkat dari setiap tahunnya. Untuk mempersiapkan dana pendidikan, maka Anda perlu untuk menabung sejak dini. Selain itu, Anda juga bisa mempersiapkan dana pendidikan dengan melakukan investasi. Seperti, tabungan emas, reksa dana pendapatan tetap, atau obligasi.

Mempersiapkan untuk di masa tua

Agar lebih tenteram, tentunya kita perlu mempersiapkan masa tua dengan baik. Karenanya, kita perlu menabung agar masa tua kita bisa terpenuhi tanpa bergantung ke orang lain. Dengan menabung, kita bisa mempunyai simpanan untuk hari tua atau dana pensiun. Selain itu, dengan menabung untuk masa tua dapat memutus situasi sandwich generation. Sandwich generation sendiri adalah generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi sekaligus yaitu orang tuanya, diri sendiri dan anak-anaknya.

Menabung adalah menyisihkan harta kita untuk mempersiapkan suatu pengeluaran penting pada masa mendatang, sehingga pada saatnya tiba telah tersedia dana yang memadai. Menabung adalah bagian dari pengendalian diri. Dengan menabung, artinya kita tidak terbawa hawa nafsu untuk memenuhi pemenuhan kepuasan sekarang atau jangka pendek, melainkan mengendalikan pemenuhan keinginan kita untuk dapat memenuhi kebutuhan masa yang akan datang yang jauh lebih penting.

Wafa Inayati Estiazzahra, Mahasiswa STEI SEBI

Pos terkait