Menerapkan Keteladanan Fatimah Putri Rosulullah Sebagai Panutan Wanita

MJ. Depok – Sayyidah Fatimah putri Rasullullah merupakan sosok wanita yang bisa kita jadikan sebagai panutan dengan segala kebaikan yang ada pada dirinya mulai dari kesabaran, keteguhan hati, hingga kesuciannya. Kelahirannya memberikan penanda keutamaan seorang wanita, wanita yang dahulunya diperlakukan rendah hingga berubah mendapatkan kesempurnaan dengan memilki hak yang sama dalam hal beriman kepada Allah.

Dengan mendapatkan didikan langsung oleh ayahnya, Rasullullah SAW dan ibundanya Khadijah binti Khuwalid menjadikan fatimah sebagai perempuan yang baik untuk dicontoh keteladanannya.

Sejak lama sayyidah Fatimah dan ali bin abi thalib yang merupakan sepupu rosulullah tinggal bersama didalam satu atap yang sama. Sayyidah Fatimah mendapatkan didikan langsung oleh Rosulullah dan siti khadijah, dan tinggal satu rumah bersama ali bin abi thalib yang menerima juga didikan dari rosulullah dan siti khadijah.

Karena dua cahaya itu sudah mendapatkan madrasah yang sama, mereka pun saling mengenal hingga ali r.a menumbuhkan rasa cinta kepada fatimah Az-zahra yang dimana rasa sayang dan cinta itu tulus dari lubuk hatinya. Namun walaupun mereka mendapatkan didikan yang sama, tinggal dalam satu atap, fatimah tetap bisa menjaga kehormatan dirinya.

BACA JUGA:  Mendapatkan Keberkahan Ramadhan

Fatimah kecil sudah ditinggal oleh ibundanya hingga fatimah kecil mendapat julukan Ummu Abiha yang berarti “Ibu bagi ayahnya” karena Fatimah setia mendampingi ayahnya untuk menggantikan peran ibunya. Seperti layaknya seorang ibu, fatimah kecil membalut luka yang selalu ada pada rosulullah, mendekap dan meberikan kehangatan layaknya seorang ibu.

Salah satu bentuk pembuktian rasa kasih serta kehangatan yang diberikan fatimah kepada Rasulullah yaitu ketika perang uhud saat keadaaan nabi yang terluka parah, walaupun penuh dengan kesedihannya namun fatimah membantu untuk membalut luka ayahnya dan sambil menangisi keadaan Rasulullah. (dua cahaya didalam satu atap). Kemudian tulisan ini berusaha untuk menggambarkan bagaimana seorang fatimah dapat menjadi panutan para wanita.

KESEDERHANAAN

Putri bungsu Rasulullah memiliki kesederhanaan yang luar biasa hingga suatu ketika fatimah menghampiri tempat Rasulullah dengan pakaian usang, dengan 12 jahitan didalam lembaran kainnya dan serpihan daun kurma tampak menempel di sela-selanya. Sebagai putri Rasulullah yang bisa saja ia berdoa meminta apapun yang diinginkannya, namun fatimah memilih untuk tampil sederhana namun luar biasa jiwa yang dimilikinya.

BACA JUGA:  Sambut Ramadhan, Bumikan Al-Qur’an

Selain itu, mas kawin untuk pernikahannya yang sangat sederhana berhasil membuat hati Ali r.a bergembira. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Ali, pedangmu akan kau gunakan untuk berjihad dan untamu akan kau gunakan untuk mengambil air dan mengangkat barang. Karena itu aku nikahkan engkau dengan baju besi sebagai mas kawinnya dan aku merestui mu.

Wahai Ali, apakah aku telah membuatmu gembira?”. Maka menikahlah Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib dimana yang disampaikan oleh Rasulullah bahwasannya mereka sudah dinikahkan oleh Allah di langit sebelum Rasulullah menikahkannya di bumi.(Shinta Setyaningrum, 2018)

KEMULIAAN AKHLAK

Bukan hanya kesederhanaan yang dimilikinya namun betapa mulianya akhlak yang ada pada diri fatimah, kesucian harga diri (iffah) dijaga dalam dirinya dan senantiasa menjaga kehormatannya (izzah). Hingga dalam riwayat Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) berkata, “Usungan Jenazah Pertama yang dibuat dalam islam adalah usungan jenazah fatimah.

BACA JUGA:  Bulan Sya’ban Lebih Produktif dengan Amalan-amalan Ini

Beliau mengeluh menjelang wafatnya seraya berkata kepada Asma, ‘sungguh, aku sangat kurus dan dagingku hampir-hampir hilang. Bisakah engkau membuatkan sesuatu untukku yang bisa menutupiku?”
Asma menjawab, “Saat aku berada di negeri Habasyah, aku melihat mereka membuat sesuatu untuk itu. Bolehkah aku membuatkannya untukmu? Jika itu membuatmu senang, aku akan membuatkan itu untukmu”, kemudian Fatimah pun menyetujuinya.

Sayyidah Fatimah dengan kemuliaan akhlaknya yang ketika hidupnya pun tak lupa akan nantinya ia wafat, masih malu jika jasadnya terlihat.

Kesederhanaan serta kemuliaan akhlaknya bisa dijadikan panutan bagi perempuan dimana saat ini sudah tidak sedikit lagi yang salah dalam berpakaian ataupun dalam bersikap. Kesederhanaan serta kemuliaan akhlak seorang fatimah dari banyaknya kisah kehidupan beliau bisa diterapkan oleh para wanita. Sebagaimana nantinya fatimah akan memimpin para wanita di surga-Nya.

latifaht879@gmail.com

Pos terkait