Menerka Arah Politik PPP di Pemilu Serentak 2024

Menerka Arah Politik PPP di Pemilu Serentak 2024

Oleh: Efriza, Dosen Ilmu Pemerintahan di Universitas Sutomo, Serang, Banten

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) jika dipelajari adanya dua arus kepentingan antara pilihan kepada Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. PPP juga terjebak kepada Koalisi pada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Sisi lain, PPP juga perlu cepat bergerak melakukan konsolidasi pasca terjadinya pergantian pimpinan PPP dan mengupayakan partai ini lolos ambang batas parlemen.

Bacaan Lainnya

Ini jelas menunjukkan PPP bukan sekadar harus memperhatikan suara kader semata. Tetapi juga mendorog terwujudnya keputusan bersama ketiga partai dalam KIB secara mufakat mengenai calon presiden (capres) maupun pasangan calon presiden dan wakil presiden. Ini menunjukkan PPP memiliki Pekerjaan Rumah (PR) yang lumayan banyak secara eksternal dan juga internal.

Menerka Arah Dukungan PPP

PPP serasa terbelah arah dukungan kepada salah satu capres yakni antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Namun melihat perkembangannya saat ini, PPP mulai menguat kepada Ganjar Pranowo. Langkah politik untuk mendorong Ganjar Pranowo, penulis merasa adalah keputusan yang bijak jika tidak ingin terburu-buru dikatakan tepat.

Dimaksudkan tidak ingin terburu-buru sebab PPP memang sebaiknya mengambil keputusan terbanyak atas dukungan capres dilakukan melalui mekanisme yang dianut oleh internal partai seperti musyawarah kerja nasional (mukernas) atau rapat pimpinan nasional (rapimnas). Opsi mukernas atau rapimnas memang yang dijanjikan oleh Mardiono selaku Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum. Meski nantinya keputusan PPP sudah dilakukan, namun yang utama juga keputusan itu penting disampaikan kepada KIB, agar keputusan ini bisa mendapatkan persetujuan bersama.

BACA JUGA:  Antara Calo & Calon Berkualitas!

Kecenderungan PPP saat ini dengan juga melihat realitasnya bahwa posisi PPP di pemerintahan. Partai-partai yang tergabung di KIB adalah bagian dari pendukung pemerintahan, sepertinya disinyalir PPP akan mengarah kuat kepada Ganjar Pranowo dibandingkan kepada Anies Baswedan.

Meski begitu, bagi penulis sepertinya akan berbeda situasinya, jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak dapat membawa arus kuat KIB yang lebih memilih Ganjar Pranowo. PDIP masih tetap ‘kekeuh’ kepada pilihannya memajukan Puan Maharani sebagai capresnya. Maka peta politik dan koalisi bisa berbeda situasinya, kecenderungan KIB plus PDIP akan gagal terwujud. Seperti ditenggarai kegagalan PDIP menggandeng Nasdem untuk bersama membangun koalisi.

Kecermatan Mengambil Keputusan

Jika KIB plus dengan PDIP tidak dapat terwujud. Maka pilihan opsi menguat di KIB dengan melihat fakta bahwa bangunan ketiga partai ini lebih kepada posisi besarnya dari basis Islam dibandingkan nasionalis. Sisi lain, turut memperhitungkan kecenderungan menang juga tinggi, sepertinya opsi KIB bergabung untuk bersama koalisi Nasdem dan Anies menjadi pilihan relevan.

PPP perlu cermat dan hati-hati dalam mengambil keputusan. PPP harus mempertimbangkan hasil survei bahwa PPP ada kecenderungan tidak akan lolos kursi di Parlemen pada Pemilu Serentak 2024 nanti. Mardiono sebagai Plt Ketua Umum juga dituntut melakukan konsolidasi dan membangun momentum kebangkitan PPP. Sehingga, sebaiknya PPP mempersiapkan pengambilan keputusan di tingkat internal, juga menunggu keputusan bersama KIB dan melakukan komunikasi politik kepada PDIP agar turut memajukan Ganjar Pranowo, sehingga koalisi dari KIB plus PDIP bisa terwujud.

BACA JUGA:  Ramadhan Bukan Bulan Biasa

Sebab, kerja politik PPP amat membutuhkan energi yang besar. Mardiono perlu membangun kembali kekuatan PPP ditengah situasi pasca pegantian ketua umum dan kemungkinan lolos di parlemen rendah. Sehingga pilihan bijak, jika tetap sebagai pendukung Pemerintahan yang loyal dan juga mendorong koalisi dari KIB ini tetap bersama menuju Pemilu Serentak 2024.

Menerka Langkah Politis Mardiono

Plt Mardiono tentu akan mengupayakan merumuskan keputusan secara bersama atas nama KIB mengenai nama capres dan pasangan calonnya. Sebab, jika KIB sampai akhirnya bubar, hanya karena ego masing-masing partai atas pilihan calon tertentu, maka akan diperkirakan akan memberi dampak negatif bagi PPP. Jika situasi ini terjadi maka amat beresiko bagi kepemimpinan Mardiono.

Saat ini, penulis mencatat bahwa Mardiono ada dua PR yang mesti segera dilakukannya. Melakukan konsolidasi dan kemudian meloloskan PPP di Parlemen. Untuk melakukan ini Mardiono harus dapat mendengarkan arus bawahnya tentang pilihan capresnya, ini dilakukan agar konsolidasinya berjalan lancar. Dukungan terhadap PPP akan kukuh jika konsentrasi internal partai dapat satu suara dalam balutan kepemimpinan Mardiono.

Sisi lain, kepemimpinan Mardiono juga diuji dari bagaimana dia bisa menjaga semangat berkoalisi. Mengabaikan keputusan bersama koalisi akan menciptakan polemik baru dan ini tentu saja Mardiono fokusnya akan terpecah antara memikirkan konsolidasi internal dan juga urusan keluar dengan kerjasama antar partai-partai.

Oleh sebab itu, memang langkah yang baik adalah menampung suara arus partai terbanyak tentang pilihan capres. Kemudian, memperjuangkan dan mengambil kesepakatan bersama dengan KIB.

BACA JUGA:  Dewan Kehormatan PWI Sanksi Hendry Ch Bangun Terkait Korupsi Dana UKW

Mardiono juga perlu berhitung dalam rapat-rapat internal melihat perkembangan perpolitikan yang dinamis ini. Jika arah capres dalam opsi pilihan kepada Anies, ternyata Anies hanya mengerucut kepada AHY semata, perlu dipikirkan lebih seksama dan cermat.

Melihat hasil survei dan kecenderungan saat ini opsi Anies-AHY sudah ditenggarai cenderung dapat dikalahkan. Artinya pasangan ini tidak mutlak bisa meraih kemenangan. Sebaiknya PPP kepada Ganjar Pranowo saja. Sehingga pilihan kepada Ganjar Pranowo bukan saja bentuk loyalitas sebagai pendukung pemerintah tetapi juga karena potensi kemenangannya yang tinggi.

Meski begitu, pilihan kepada Ganjar Pranowo sebaiknya dilakukan oleh PPP ketika sudah melalui keputusan bersama konstituennya dan juga bersama KIB. Serta dengan catatan utama yang juga penting bahwa PDIP memang bersepakat mengajukan Ganjar Pranowo. Ini menunjukkan bahwa PPP punya dua tugas keluar jika ingin Ganjar Pranowo. Pertama, menyatukan persepsi bersama di KIB, dan kedua, berkomunikasi dan menyamakan persepsi kepada PDIP.

Meski begitu, PPP juga harus mendahulukan keputusan ke dalam dan juga jangan diabaikan. PPP harus lebih dulu melakukannya dengan cara Mukernas/rapimnas untuk melihat keputusan dari internal PPP kepada sosok siapa capresnya. Langkah ini menunjukkan Plt Mardiono membangun partai dengan kesepakatan bersama. Sehingga kader partai akan semangat menjalankan keputusannya, dan juga mesin partai segera dapat berkonsentrasi untuk lolos di parlemen. Mari kita sama-sama menunggu keputusan PPP dan juga KIB, serta dinamika dari kemungkina koalisi KIB plus PDIP. (*)

Pos terkait