Mengenal Bystander pada Situasi Bullying

DEPOKPOS – Berasal dari bahasa Inggris, bystander artinya Pengamat. Bystander di situasi bullying bukanlah pelaku ataupun korban, melainkan seseorang yang hadir dalam peristiwa bullying selain daripada pelaku maupun korban.

Namun, bystander dapat juga berpotensi untuk menjadi pelaku maupun korban. Bisa didefinisikan, bystander merupakan saksi mata yang melihat atau menyaksikan kejadian.

Bystander memiliki peranan penting dalam situasi bullying. Bystander dapat menghentikan terjadinya bullying atau bahkan mendukung dan membiarkan bullying terjadi disekitarnya.

Terdapat 2 macam bystander antara lain :

⦁ Active Bystander (Pengamat Aktif) merupakan pengamat yang melakukan sesuatu dalam rangka berupaya dan memperbaiki situasi darurat yang sedang terjadi.

BACA JUGA:  Pengertian Jual Beli Sharf

⦁ Passive Bystander (Pengamat Pasif) merupakan pengamat yang menyaksikan peristiwa darurat atau buruk terjadi, namun memutuskan untuk mengabaikan situasi atau tidak melakukan apa-apa.

Bystander Intervention (Intervensi Bystander)

Active bystander biasanya melalukan bystander intervention untuk membantu korban dalam situasi bullying yang terjadi.

Bystander intervention adalah tindakan mengidentifikasi situasi atau interaksi yang berpotensi berbahaya dan mengambil keputusan untuk bereaksi dengan cara yang secara positif bisa memengaruhi situasi.

Ada 5 cara atau disingkat 5D yang dapat dilakukan bystander sebagai langkah bystander intervention yaitu :

⦁ Distract (Distraksi)
Dalam hal ini, distraksi ialah untuk menginterupsi dan menggagalkan situasi bullying yang terjadi dengan membuat distraksi agar pelaku menyadari bahwa ada orang yang sedang mengawasi interaksi antara pelaku dan korban.

BACA JUGA:  Risiko Pasar pada Perbankan Syariah

⦁ Delegate (Perwakilan)
Cara ini dilakukan dengan cara mendapatkan pertolongan pihak lain yang berada disekitar lokasi kejadian untuk membantu situasi bullying yang sedang bystander saksikan atau bekerja sama dengan sesama bystander dan merencanakan intervensi yang harus dilakukan.

⦁ Document (Dokumentasi)
Mendokumentasikan kemudian membagikan peristiwa bullying yang sedang terjadi merupakan salah satu cara menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap bullying dan sebagai bukti yang dapat membantu korban apabila diperlukan. Hal – hal tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan persetujuan korban yang bersangkutan.

BACA JUGA:  8 Tips Mengatasi Overthinking: Menyegarkan Pikiran dan Menenangkan Jiwa

⦁ Delay (Keterlambatan)
Apabila situasi tidak memungkinkan bagi bystander untuk melakukan pertolongan, maka bystander dapat membantu ketika korban sudah sedikit lebih tenang dengan menanyakan keadaan korban, menawarkan bantuan serta menunjukkan empati.

⦁ Direct (Langsung)
Cara ini dilakukan bystander berupa konfrontasi secara langsung kepada pelaku. Namun, jika cara ini dilakukan tentunya beresiko terutama bagi keselamatan korban dikarenakan kita tidak dapat mengetahui bagaimana reaksi pelaku. Bisa saja, pelaku justru semakin emosi dan melanjutkan aksinya dengan lebih intens.

Penulis: Alfiyyah Sarah Farida
Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi Universitas Binawan

Pos terkait