Mengenal Syukur dan Menerapkannya

DEPOKPOS – Bersyukur dalam Islam menurut bahasa adalah saat dimana seseorang melakukan terima kasih untuk nikmat yang telah Allah SWT. Beri. Sedangkan menurut istilah syukur adalah Melakukan ketaatan kepada Allah SWT. dengan melakukan apa yang diperintahkannya serta meninggalkan larangan-Nya.

Seorang manusia yang beriman tentu sudah tidak asing dengan kata ini. Namun, apakah implementasinya dalam kehidupan kita saat ini masih familier?

Rabbi awzi’nii an asykura ni’mataka allatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa-an a’mala shaalihan tardaahu wa-adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadika alshshaalihiina. (Q.S:An-naml:19).

Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Doa ini merupakan salah satu doa nabi yang Allah telah beri kelebihan pada hartanya yaitu Nabi Sulaimman A.S. Doa ini sebagai salah satu bentuk bahwa sebagai seorang manusia biasa mestilah meminta bantuan Allah agar bisa menjadi manusia yang bersyukur.

BACA JUGA:  Makna Ibadah Haji dan Qurban dalam Pandangan Masyarakat Betawi

Nabi Sulaiman saja yang sudah Allah beri amanah sebagai nabi tetap berdoa. Bagaimana dengan kita?

Pada zaman Rasulullah SAW. seorang sahabat bernama Abu Qibalah. Seorang yang memiliki kesulitan dalam segi harta,bahkan buta, tuli, serta tidak memiliki tangan dan kaki. Hanya lisan yang ia miliki yang Allah telah ciptakan seperti manusia lainnya.

Ketika seorang sahabat nabi lain bernama Abdullah bin Muhammad melakukan perjalanan yangmana Allah takdirkan ia berjumpa di kemah yang sangat terlihat tidak layak. Abdullah bin Muhammad bertanya kepada Abu Qibalah karena ucapannya berupa “Ya Allah berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat muliakan aku dari ciptaan-Mu yang lain.” Kemudia ia menghampiri Abu Qibalah dan menanyakan hal apa yang membuatnya bersyukur.

Laki-laki itu pun menjawab

BACA JUGA:  Tiga Hal Penyebab Kerusakan Gen Z

” Wahai saudara, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah datangkan lautan, niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku atau gunung api yang pasti aku akan terbakar atau dijatuhkan langit kepadaku yang pasti akan meremukkanku. Aku tidak akan mengatakan apapun kecuali rasa syukur.”

Abdullah bin Muhammad semakin bingung atas jawaban yang telah Abu Qibalah sampaikan.
Namun Abu Qibalah masih menjawab dengan ucapan

“Tidakkah engkau melihat Dia telah menganugerahkan aku lisan yang senantiasa berdzikir dan bersyukur.”
Abu Qibalah tidak hanya menjawab perihal demikian, bahkan meminta bantuan untuk mencari anak yang biasa menyuapinya. Abdullah bin Muhammad pun menyanggupi permintaan Abu Qibalah.

Qadarullah wa maa syafala ternyata anak yang Abu Qibalah minta carikan sesuai dengan ciri-ciri yang Abdullah bin Muhammad telah sebutkan sudah mati. Dengan berat hati Abdullah bin Muhammad kembali menghadap Abu Qibalah dan bingung dalam ppenyampaiannya. Allah pun memberikan ilham melalui lisannya berupa kesabaran Nabi Ayyub A.S. dalam ujian yang Allah telah beri. Namun Abu Qibalah lagi-lagi tidak mengeluh dan bahkan bersyukur akan kejadian tersebut.

BACA JUGA:  Membayar Zakat Fitrah dengan Uang, Bolehkah?

Kesyukuran Abu Qibalah didasarkan atas tidak adanya keturunan yang ia tinggalkan dalam keadaan maksiat. Setelah itu, Abu Qibalah pun meninggal dunia. Meninggalnya Abu Qibalah menjadikan Abdullah bin Muhammad melepaskan jubahnya dan menutupi mayatnya. Sampai pada, Lewat empat orang laki-laki menghampiri Abdullah bin Muhammad dan menanyakan hal tersebut.

Setelah mendengar hal itu 4 orang sahabat tadi ingin tau bagaimana wajah orang yang Abdullah bin Muhammad telah ceritakan. Ternyata ia adalah seorang hakim yang khalifah telah tunjuk namun Abu Qibalah tinggalkan dan pelarian diri. Disamping itu pengangkatan hakim terhadap dirinya disebabkan oleh bagian dari sahabat Rasulullah yang terakhir.

Bersyukur itu memiliki dampak yang sangat banyak. Sahabat Rasulullah saja yang sudah Allah uji berat tetap saja bersyukur. Mari bersyukur untuk setiap kebaikan yang telah Allah beri. Berjalanlah pada jalannya saja. Ikuti aturan serta ketetapan-Nya. Setiap kita mesti mengupayakannya.

Annisah Ghina Naila

Pos terkait