Menggampangkan Risiko Gaya Hidup dan Kesehatan

Menggampangkan Risiko Gaya Hidup dan Kesehatan

 

Banyaknya orang-orang yang tidak menyadari atau menggampangkan secara tidak sadar atau sadar gaya hidup tidak sehat itu ternyata adanya dampak buruk bagi Kesehatan, banyak sekali penyakit yang bisa mengancamkan kita jika kita memiliki kebiasaan ini dan tidak dihentikan sesegera mungkin.

Mengutip dari World Health Organization (WHO), memang adanya hubungan erat terkait Kesehatan diri sendiri dengan gaya hidup. Maka dari itu, kita harus pastikan untuk mengetahui apa saja dampak buruk dari kebiasaan ini untuk Kesehatan.

Adanya efek buruk dari gaya hidup tidak sehat, dapat disebut juga penyakit gaya hidup tidak sehat yang dimana seseorang yang memiliki kebiasaan hidup sehari-hari. Salah satu yang sering dialami oleh banyak orang yaitu jarang bergerak atau lebih sering diamnya dalam perhariannya.

Lalu apa sih pentingnya untuk melakukan kebiasaan gaya hidup sehat?

Gaya hidup sehat bisa membantu mencegah penyakit, bisa juga pemulihan, mengatasi stres, dan juga meningkatkan kualitas hidup. Kita mesti tahu jika kita menerapkan kebiasaan gaya hidup sehat maka semakin banyak bukti ilmiah yang membuktikan bahwa gaya hayati/hidup kita mempunyai kiprah besar seberapa sehatnya kita.

Bisa kita lihat menurut apa saja yang kita makan & minum, sesering apa kita melakukan olahraga & apakah kita merokok atau mengonsumsi obat-obatan, semuanya akan menghipnotis Kesehatan kita. Bukan hanya pada hal berharap untuk gaya hayati saja, namun kita juga wajib memikirkan berapa usang kita dapat hidup tanpa mengalami penyakit kronis.

Dalam sejarah ada yang disebut penyakit Gout atau simpelnya yang sering dikenal adalah asam urat yang merupakan penyakit kategori kronis dan tidak menular. Gejalanya bisa ditandai melalui penyakit hiperurisemia atau peningkatan kadar asam urat pada darah. Banyak tokoh krusial yang menderita penyakit gout ini, diantara-Nya, Alexander Agung, Charlemagne, dan ada banyak lagi daftarnya.
Dalam konsep manajemen risiko ada kaitannya selera risiko pribadi dengan keputusan gaya hidup. Keputusan akan diambil tentang, misalnya, kaus kesehatan jangka panjang, misalnya asam urat ini. Lalu Sikap orang terhadap pengambilan risiko akan sangat bervariasi tergantung pada jenis risiko yang sedang dipertimbangkan. Misalnya, individu mungkin sangat menghindari risiko dalam cara mereka mengendarai mobil mereka, tetapi mendapat faktor risiko yang signifikan pada kaitannya menggunakan kesehatan mereka, seperti Artristis gout yang termasuk salah satu penyakit metabolik (metabolic syndrome) yang dimana mempunyai pola makan diet yang tinggi purin dan minuman beralkohol. Secara klinis, hiperurisemia bisa mengakibatkan artristis pirai (gout), nefropati asam urat, tofi, dan nefrolitiasis.

BACA JUGA:  Ancaman Ekonomi yang Bisa Terjadi pada Suatu Negara dan Penangannnya dalam Islam

Adapun orang-orang yang berasumsi bahwasanya penyakit gout atau asam urat ini menyebabkan kematian, tetapi ini tidak sepenuhnya benar, penyakit ini tidak secara langsung menyebabkan kematian, tetapi jika kita membiarkan hal ini maka akan semakin terus tinggi penyakit ini dalam darah yang menimbulkan komplikasi dan bisa saja berakibat kematian.

Prevalensi atau kebiasaan orang-orang yang memiliki penyakit ini di Indonesia diperkirakan antara 13,6 per 1000 laki-laki dan 6,4 per 1000 perempuan. Menurut penelitian Raka Putra dkk. menunjukkan, penelitian pada Indonesia prevalensi hiperurisemia di Bali 14, 5 persen. Sementara itu, penelitian pada etnis Sangihe di pulau Minahasa Utara oleh Ahimsa & Karema K Prevalensi gout 29, 2 persen yang didapat.

Kasus lain dalam penelitian ahli reumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Harry Isbagio, penduduk di daerah Manado-Minahasa memiliki prevalensi tinggi terjangkit asam urat. Disebabkan karena mereka terbiasa mengonsumsi beberapa jenis makanan laut dan alkohol. Dan untuk Suku Maori (Selandia Baru) yang dimana memiliki tingkat tertinggi di dunia prevalensi asam uratnya.

BACA JUGA:  Ternyata Malas Berdampak Sebesar Ini, Jangan Sampai Terjadi!

Salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi warga terkait membatasi sumber protein nabati yang dimana mempunyai kandungan purin sedang yang diyakini bisa memicu peningkatan asam urat dan juga hampir seluruh sumber asupan protein pada makanan seperti daging, sayur bayam, biji-bijian yang memiliki purin tinggi. Purin yang dimaksud adalah purin banyat yang dimana memiliki inti sel pada Mahluk hidup.

Terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan seseorang memiliki riwayat penyakit ini seperti faktor genetik, mengonsumsi obat-obatan tertentu, dan berat badan berlebih. Solusinya adalah dengan mengonsumsi protein yang harus tetap dalam jumlah yang cukup dan seimbang, antara hewani dan nabati. Dan yang perlu dicatat adalah hindari makanan yang memiliki kandungan tinggi seperti jeroan, ampela dll.

Adapun fruktosa yang didapati pada corn syrup, pemanis yang terdapat dalam minuman ringan dan jus buah juga bisa memicu meningkatnya kadar asam urat serum. Sedangkan vitamin C, produk yang merupakan memiliki kadar rendah pada lemak seperti susu dan yoghurt, Cherry dan kopi dapat merendahkan risiko serangan gout.

Mungkin untuk orang-orang yang menginginkan tubuh ideal dianjurkan untuk melakukan peraturan diet untuk jangan melakukan diet yang ketat dan tinggi protein sebaiknya hal ini dihindari. Selain itu untuk mengatur makan pun harus sering untuk mengonsumsi air yang cukup juga dapat menurunkan risiko serangan gout. Dan dari sumber lain disarankan untuk meminum air lebih dari 2 liter atau 8 gelas perhariannya.

Ketika terjadinya serangan gout disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok, juga untuk melakukan Latihan fisik rutin yang tujuannya untuk melatih kekuatan dan fleksibilitas otot, sendi. Olahraga bagus untuk menjaga berat badan ideal dan dapat menghindari gangguan metabolisme menjadi komormid gout.

BACA JUGA:  Membangun Masa Depan: Peran Penting Generasi Muda dalam Dunia Bisnis

Selain dapat menimbulkan penyakit gout ada juga dampak gaya hidup tidak sehat yang menimbulkan Sindrom Metabolik. Biasanya kategori ini diantaranya mencakup darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak tubuh, dan kadar kolesterol yang tidak normal.

Ada istilah nama penyakit yang disebut penyakit Dislipidemia, yaitu penyakit yang diakibatkan oleh kadar kolesterol yang tinggi, terjadi ketika kolesterol atau lemak yang tidak normal di dalam tubuh . Dislipidemia meningkatkan kemungkinan penyumbatan arteri dan serangan jantung, stroke dan juga masalah sirkulasi darah lainnya terutama terhadap orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok.

Faktor risiko penyakit ini juga diakibatkan oleh usia, jenis kelamin, diabetes, hipertensi, genetik, stres psikologis, alkohol, dan pola makan gula, lemak, dan kalori. Mungkin untuk mengatasi hal ini bisa dengan upaya pengendalian obat-obatan dan non obat. Untuk non obat bisa dilakukan dengan cara memakan makanan sehat , bergizi, seimbang atau kurangi makanan yang digoreng, olahraga yang teratur dan masih banyak lagi.

Jika sudah mencoba untuk mengatur pola hidup sehat dan target lemak belum tercapai, maka diperlukan obat-obatan. Bisa disesuaikan dengan jenis lemak mana yang tidak normal. Karena pilihan yang lebih spesifik ini tergantung berbagai faktor, bisa itu individu, usia, kondisi Kesehatan, dan mungkin efek samping.

Kesimpulannya untuk para pembaca diharapkan untuk mencoba menerapkan pola hidup sehat dan meninggalkan kebiasaan gaya hidup tidak sehat karena hal ini memiliki dampak yang terkadang kita menggampangkan hal tersebut. Mungkin untuk lebih spesifiknya bisa dilihat dari sumber lain, tujuannya untuk lebih paham dan memahami apa yang disampaikan.

IFAH NURUL MUJAHIDAH
Mahasiswa STEI SEBI Depok

Pos terkait