Menghadapi Resesi dengan K3

Menghadapi Resesi dengan K3

Oleh: Dr. Fauzi, S.E., M.E., M. Kom., Ak., CA., CMA
Wakil Bupati Pringsewu (2017-2022)

Saat ini negara-negara di dunia dibayang-bayangi dengan isu resesi global 2023. Fenomena semakin jelas dengan adanya laju inflasi yang semakin tinggi dan krisis pangan yang kini mulai terjadi. Belakangan ini media massa dan media sosial diramaikan dengan isu terjadinya resesi global. Bahkan, Presiden Joko Widodo dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa situasi dunia pada 2023 akan menjadi gelap akibat ketidakstabilan perekonomian tersebut.

Pernyataan Presiden terkait resesi global diperkuat oleh pernyataan Menteri Keuangan yang menyebut bahwa dunia sedang dalam bahaya. Ada sebagian masyarakat yang menangkap pernyataan tersebut dengan kepanikan, tetapi tidak sedikit yang meresponsnya biasa-biasa saja.

Kemungkinan terjadinya resisi ekonomi global menjadi perbincangan di banyak negara termasuk Indonesia. Sebab, sinyal terjadinya resesi sudah terlihat dari mulai melemahnya aktivitas sektor riil. Secara umum, resesi ditandai dengan adanya pelemahan ekonomi global yang pada akhirnya berpengaruh juga terhadap ekonomi negara-negara di seluruh dunia. Bahkan, sebuah negara bisa mengalami risiko yang lebih besar lagi jika negara tersebut memiliki ketergantungan pada perekonomian global.

BACA JUGA:  Fenomena Selebriti Terjun ke Dunia Politik: Bermodal Privilege atau Kualitas?

Menurut Bachtiar Hassan (2019), resesi diawali dari pelemahan ekonomi global yang memengaruhi perekonomian dalam negeri negara negara di dunia. Semakin kuat ketergantungan ekonomi satu negara pada perekonomian global maka semakin cepat pula terjadinya resesi di negara itu.

Strategi K3

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengupas secara mendetail terkait perkembangan ekonomi global, teori resesi ataupun dampaknya terhadap perekonomian negara-negara di dunia. Sebab, aspek tersebut sudah dibahas oleh banyak ahli dan pengamat ekonomi. Dalam konteks ini, saya ingin fokus pada strategi atau gerakan 3 (kolam, kebun, dan kandang).

BACA JUGA:  Perdagangan Manusia Tak Akan Berhenti Selama Kemiskinan Masih Terjadi

Mengapa gerakan K3? Jika masyarakat harus menghadapi resesi ekonomi dalam waktu yang cukup lama, maka hal yang paling penting untuk segara diupayakan adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan gerakan K3 ini paling tidak masyarakat bisa terhindar dari berkurangnya pasokan bahan pangan akibat inflasi.

Masyarakat yang membudidayakan ikan dalam kolam berukuran kecil atau besar tidak perlu khawatir saat harga bahan pokok mulai naik. Masyarakat bisa mengambilnya di kolam masing-masing.

Masyarakat yang suka berkebun juga tidak perlu risau berlebihan, karena mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan dari sayur-mayur yang ditanam di kebun masing-masing. Mau makan buah, sayur atau cabai tinggal metik di kebun. Bagi masyarakat yang tidak memiliki cukup lahan untuk berkebun bisa menggunakan cara hidroponik yang merupakan metode menanam tanpa media tanah. Kemudian, masyarakat bisa juga berternak sapi, kambing, bebek atau ayam. Dengan begitu, jika masyarakat hendak makan daging tinggal ambil di kandang.

BACA JUGA:  Dr. John N. Palinggi, MM., MBA : Pasangan Prabowo-Gibran Yakin bisa melanjutkan Pembangunan yang sudah dijalani Jokowi

Saya rasa gerakan K3 ini bisa menjadi salah satu solusi terhadap pemenuhan pangan keluarga. Dengan kata lain, K3 ini sangat membantu masyarakat lebih-lebih saat badai resesi benar-benar terjadi. Dengan K3 ini masyarakat diharapkan tidak terlalu panik menghadapi isu resesi global yang akan terjadi 2023 nanti.

Pos terkait