Menjamurnya Budaya Premanisme di Kalangan Pemuda

Oleh : Nanda Nabila Rahmadiyanti (Mahasiswa FMIPA Universitas Indonesia)

Sederet tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak muda belakangan membuat miris. Kasus pertama yang viral merupakan kasus penganiayaan brutal oleh anak pejabat pajak Mario Dandy Satrio terhadap putra petinggi GP Ansor Jonathan Latumahina, David memasuki babak baru. Berdasarkan fakta baru yang ditemukan, pada konferensi pers Polda Metro Jaya, 2 Maret 2023, penyidik akhirnya menaikkan status AG yang merupakan pacar Mario menjadi pelaku (news.detik.com. 04/03/2023).

Kasus kedua, beredar video di media sosial yang memperlihatkan seorang pria yang melakukan tindak kekerasan sambil mencekoki sekelompok pelajar dengan minuman bersoda yang dioplos dengan alkohol 96%. Akibat dari insiden tersebut tiga orang pelajar meninggal dunia. Sementara tiga pelajar lainnya masih dirawat di rumah sakit (kumparan.com. 28/02/2023).

Kasus ketiga, lima pemuda yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Purwakarta, melakukan tindak pencurian dengan kekerasan. Seorang korban yang mengendarai motor terkena luka bacok celurit pada bagian punggung. Kelima pemuda ini meminta telepon genggang sebelum salah satu pelaku mengenali korban dan melarikan diri. Berdasarkan pemeriksaan Mapolsek Pasawahan, para pelaku merupakan kelompok geng motor Sky Moon (jurnalpolri.com. 22/02/2023).

Kasus keempat adalah siswi SMP di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan meninggal usai menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan oleh empat rekan sekolahnya. Korban menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat (17/02/2023), setelah menjalani perawatan selama lima hari (kompas.com. 24/02/2023).

Dikutip dari medcom.id, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) merekam tren kasus kekerasan di sekolah sepanjang tahun 2022. Sebanyak 194 kasus kekerasan terjadi di sekolah yang didominasi dengan kekerasan seksual, jumlahnya 105 kasus. Hal ini dibeberkan oleh Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji dalam Refleksi Akhir Tahun dan Outlook Pendidikan Indonesia 2023 di Jakarta, Jumat, 29 Desember 2022. JPPI juga mencatat kekerasan fisik dan non fisik yang terjadi di sekolah. Kekerasan fisik ditemukan 65 kasus serta kekerasan non fisik ada 24 kasus. Bahkan Ubaid Matraji menyebut maraknya kekerasan antar pelajar akhir-akhir ini disebabkan karena terjadinya gagal paham pendidikan karakter di sekolah. Dia mengatakan hal itu tak terlepas dari sikap guru yang turut menjadi aktor dari maraknya kekerasan antar pelajar.

BACA JUGA:  Perilaku Konsumtif K-Popers

Sayangnya Mendikbudristek, Nadiem Makarim belum buka suara sampai saat ini. Padahal, dilansir dari detik.com, beliau berkomitmen untuk menghapus 3 dosa besar pendidikan sejak pertama dilantik. Ketiga hal tersebut yakni intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. Adapun upaya untuk mewujudkan komitmen ini salah satunya adalah melalui pembentukan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka).

Lantas apakah upaya tersebut membuahkan hasil jika kita lihat 4 kasus sebelumnya yang hanya sedikit dari sekian banyak kasus perundungan dan kekerasan di kalangan pelajar?

Ada yang salah dengan sistem kehidupan

Makin banyaknya tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemuda, mencerminkan lemahnya peran keluarga dalam meletakkan dasar perilaku terpuji hingga rusaknya masyarakat serta gagalnya sistem pendidikan membentuk anak didik yang beriman bertaqwa dan berakhlak mulia.

Pada dasarnya pendidikan keluarga merupakan benteng terbaik yang dapat mencegah pemuda berbuat kekerasan. Sayangnya, hari ini, benteng ini jebol seiring dengan rapuhnya institusi keluarga. Padahal orang tua berperan penting dalam penanaman akhlak terpuji pada anak sedari dini. Kesalahan pola asuh orang tua dapat menyebabkan berbagai dampak negatif bagi perkembangan anak, dapat menimbulkan perasaan mudah tersinggung dan mudah putus asa, daya juang yang lemah pada anak, bahkan anak akan tumbuh menjadi nakal.

Selain pendidikan keluarga, pendidikan di sekolah juga tidak kalah penting. Hal ini tidak terlepas dari peran negara yang seharusnya menjamin kurikulum pendidikan yang dapat mencegah pemuda melakukan kekerasan. Namun saat ini negara abai dalam memberikan pendidikan yang membentuk kepribadian pemuda yang kukuh. Merdeka belajar yang dieluk-elukkan dapat menghasilkan pemuda yang unggul, nyatanya gagal membawa pemuda menemukan jati dirinya yang hakiki. Upaya-upaya penghapus 3 dosa besar pendidikan pun tidak membuahkan hasil.

BACA JUGA:  Pacaran? No Way!

Akibat Sekularisme

Buah dari kehidupan yang berdasar sekularisme, menjadikan akal manusia sebagai penentu segala sesuatu. Sistem sekularisme merupakan sistem yang menjauhkan dan memisahkan agama dari aspek-aspek kehidupan. Pendidikan dalam keluarga yang tidak berlandaskan agama, akan membuat anak-anak pun jauh dari agama. Sehingga saat mereka dewasa, mereka kerap mengalami krisis identitas. Kegalauan pemuda dalam mencari identitas diri dapat mendorong mereka untuk memperoleh pengakuan terhadap eksistensi dirinya dengan berbuat kriminal. Sekularisme juga sukses membuat pemuda memandang dunia sekadar tempat untuk bersenang-senang saja. Jika perundungan dan penganiayaan dapat membuat mereka senang dan puas, maka mereka tidak segan lagi untuk melakukannya, tanpa memikirkan korban dan kengerian balasan yang akan didapatkan di akhirat.

Kurikulum pendidikan yang berlandaskan kapitalis-sekular tetap tidak dapat menghasilkan pemuda yang lebih berkualitas. Siswanya hanya sebatas diajarkan ibadah ritual semata dan memisahkan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Pendidikan dalam Kurikulum Merdeka, misalnya, hanya berorientasi untuk melahirkan lulusan siap kerja dan siap menjadi budak korporat. Artinya, prioritas utama pendidikan adalah kebahagiaan dunia (materi). Sehingga mencari kesenangan di atas penderitaan orang lain adalah hal yang biasa. Minimnya pengajaran akhlak, pola sikap, dan pola pikir yang berlandaskan agama, membuat pemuda saat ini tidak menggunakan akalnya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pemuda yang jauh dari agama akan menjadi pribadi yang tidak mampu mengontrol diri, mudah emosi, bahkan tanpa pikir panjang cenderung reaktif pada hal yang remeh saja. Inilah yang menyebabkan mereka bertingkah seperti preman. Pendidikan tinggi dan bergengsi, tidak membuat mereka memiliki sifat manusiawi.

Sistem Kehidupan Islam

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6).

BACA JUGA:  Amos Cadu Hina SH, MH: Hasil Pengumuman KPU Tidak Sepenuhnya Diterima  Masyarakat

Islam menegaskan peran keluarga sebagai garda terdepan untuk melakukan proses pengasuhan kepada anak. Pola pengasuhan ternyata tidak melulu soal kehadiran orang tua secara fisik, kucuran materi dan fasilitas hidup, namun yang terpenting adalah penanaman ketaqwaan kepada Allah. Orang tua berperan penting dalam mempersiapkan mental anak sebagai seorang muslim yang bertaqwa, dengan menanamkan aqidah yang kokoh dan memahamkan seluruh syariat islam pada anak sebelum mereka baligh. Sehingga setelah baligh, mereka sudah memiliki pola sikap dan pola pikir islami, yang menjadikan mereka mampu memilah perbuatan yang akan membawa mereka kepada surga atau neraka. Tak lepas sampai mereka baligh, keluarga pun menjadi pelaku amar makruf nahi mungkar, yang melindungi pemuda dari berbuat kriminal.

Sementara negara berperan penting dalam menerapkan kurikulum pendidikan islam yang berlandaskan aqidah islam. Kurikulum ini disusun dalam rangka membentuk kepribadian islam yang utuh pada siswa, baik dari sisi aqidah, tsaqafah, maupun penguasaan iptek. Konsep ini membuat suasana keimanan generasi semakin kuat dan sadar akan keterikatannya dengan syariat islam. Sadar pula akan balasan setiap perbuatannya di akhirat kelak. Dengan begitu, mereka dengan sendirinya akan menghindari perbuatan anarkis, penganiayaan, perundungan, pelecehan, dan sejenisnya.

Konsep pendidikan dan pola asuh islami tidak dapat diterapkan pada sistem saat ini yang mengambil landasan sekularisme yang jelas-jelas bertentangan dengan islam. Konsep ini hanya dapat diterapkan pada sistem pemerintahan islam yang berlandaskan aqidah islam. Jadi, solusi agar pemuda saat ini tidak lagi bersikap layaknya preman, hanya dengan menerapkan sistem islam, dimulai dari lingkup keluarga sampai pada tataran negara. Wallahua’lam.

Nanda Nabila Rahmadiyanti

Pos terkait