Muslimah yang Berdampak dan Menginspirasi dengan Membangun Personal Branding

 

Apa itu personal branding?
Personal branding memiliki makna sebagai seni membentuk perspektif orang lain terhadap diri kita, bagaimana orang lain menilai atau mengenal diri kita.

Branding Rasulullah, Al-Amin yang berarti tidak pernah bohong, karakternya dibangun bertahun-tahun. Branding Rasulullah selain itu banyak sekali, dan Rasulullah membuktikan itu dan brandingnya berhasil. Usia beliau puluhan tahun namun beliau tetap ada dalam hati kita sampai sekarang, merasakan beliau seperti ada saat ini hingga perjuangan-perjuangan beliau kita rasakan dan Rasulullah mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya.

Lalu Khalid bin Walid?

Siapa yang tidak tau panglima Allah, pedangnya Allah, pemberani tidak pernah kalah dalam peperangan, sehingga brandingnya berhasil dan kita bisa mengenal beliau.

Pak B. J. Habibie? Brandingnya adalah pesawat, tokoh mantan presiden kita, tokoh inspiratif, beliau bisa membangun brandingnya dengan baik.

Tiga tokoh ini dari banyaknya tokoh-tokoh dan Rasulullah paling berdampak dengan followersnya yang paling banyak, ini menjadikan amalan-amalan dakwah nya menjadi amal jariyah yang saat ini kita rasakan. Dengan itu Rasulullah, Khalid bin Walid dan pak Habibie memiliki kontribusi yang menjadikannya amal jariyah.

BACA JUGA:  Mengenal Bystander pada Situasi Bullying

Membangun personal branding sebagai seorang muslim, bukan tentang sebaik apa dirinya melainkan bagaimana kita meninggalkan sesuatu yang bermanfaat, pahala jariyah, kebermanfaatan kita mau dikenal seperti apa.

Kenapa harus personal branding?
Mengejar amal jariyah, mengenal diri kita dengan baik. Allah menciptakan manusia bukan tanpa alasan, melainkan karena ibadah dan Allah ingin menjadikan kita manusia sebagai khalifah di bumi. (QS. Al-Baqarah : 30)

Memang bisa Muslimah menginspirasi dan berdampak?
Faktanya istri-istri Rasulullah yang luar biasa contohnya, Khadijah dengan bisnisnya yang luar biasa dampaknya dapat bermanfaat untuk dakwah nya Rasulullah. Dan branding itu diterapkan pada Khadijah.

Aisyah RA. istrinya yang luar biasa kecerdasannya, kepintarannya. Dengan berkaca pada beliau, kita juga bisa mendukung suami kita kelak dalam berdakwah seperti dalam ranah pendidikan.

Rufaidah perawat muslimah dalam perang-perang Rasulullah. Beliau ikut dalam dakwahnya Rasulullah.

Luar biasanya ternyata Rasulullah mendukung istrinya untuk menuntut ilmu-ilmunya. Jilbab dan syariat itu bukan menjadi penghalang. Apabila kita mempunyai kelebihan dalam pendidikan maka kita perlu terjun untuk memperbaikinya.

BACA JUGA:  Sekilas tentang Pesantren Kilat Ramadhan

Zaman sekarang orang itu gampang terpengaruh. Ghazwl fikr : setiap isu ada perang pengaruh di media. Contohnya, kerudung besar dengan perspektif teroris, islam phobia. Maka perang pengaruh ini bisa kita ubah dengan akhlak dan peran kita. Jika kita tidak ikut andil maka dunia ini akan dikuasai oleh orang-orang jahat, maka kita harus menjadi baik dan berdampak. Maka jangan cuma jadi baik aja tapi berdampak sekecil apapun itu.

Strong Why?

Perang Pengaruh / Perang Pemikiran
Stigma dari masyarakat tentang perempuan yang memakai kerudung besar itu teroris
Baik Berdampak
Kalau orang baik hanya diam, maka dunia akan dikuasai orang jahat

Hal yang harus diperhatikan muslimah dalam membangun personal branding, yaitu:
Atitude, akhlak yang harus dibangun dengan baik. Bukan hanya omongan dan perlunya manajemen keuangan, emosi, rasa malu.
Skill, senantiasa dekat dengan ilmu, menjadikan al-Quran dan hadits sebagai sumber dasar ilmu, berkontribusi sesuai dengan kemampuan.
Value, punya nilai hidup untuk Allah, punya nilai diri yang bermanfaat karena allah, punya prinsip diri yang bermanfaat karena Allah, punya prinsip diri yang sesuai dengan syariat islam.

BACA JUGA:  Dampak Budaya Barat bagi Generasi Z

Bagaimana caranya?

Buatlah jalan kamu sendiri, kamu harus mengenali diri sendiri. Ikhtiarnya contoh dengan analisis SWOT.
Kita harus punya goasl yang jelas dengan SMART goals (specific, measurable, achievable, relevant, time-bound)
Jangan takut pelajari hal baru, di era ini kita jangan hanya menjadi orang yang konsumtif saja tapi sebisa mungkin kita menghasilkan juga dengan produktif.
Jaga energi kita, untuk berdampak dan istiqomah, jaga niat kita, jaga ibadah, jaga ilmu.
Bangun relasi dan kolaborasi, surga itu terlalu susah kalau dicapai sendirian, makannya perlu berjamaah dan saling bantu. Bukan tentang siapa kita dikenal, tapi bagaimana kita meninggalkan amal shalih dan amalan jariyah.

Marilah kita selesai dengan diri kita sendiri dengan riuhnya diri kita, saatnya menginspirasi, berkarya dan mendulang pahala. Jangan ragu untuk memulai sesuatu, carilah ridho Allah dulu. Kita berkarya dari hati dan kita menginspirasi karena ada keresahan-keresahan yang kita rasakan. Tanpa perlu melalaikan peran dan fitrah kita sebagai muslimah.

Aisyah Yunita (STEI SEBI)

Pos terkait