Mukbang, Sebuah Tren yang Bisa Menimbulkan Masalah Kesehatan

DEPOK POS – Kemajuan teknologi yang terjadi sekarang ini memudahkan kita dalam menggunakan berbagai macam aplikasi di internet atau dalam kata lain memudahkan kita untuk mengakses berbagai media sosial.

Salah satunya adalah menonton video mukbang. Saat ini sudah banyak video-video mukbang yang beredar di media sosial, seperti di Youtube, Instagram, Tiktok, dan media sosial sejenis lainnya. Mukbang adalah fenomena yang populer pada beberapa tahun terakhir ini. Kata mukbang berasal dari bahasa Korea Selatan yaitu “makan” (meokneun) dan “siaran” (bangsong).

Video mukbang biasanya berisi konten berupa rekaman seseorang yang makan dalam jumlah yang sangat besar sambil mengobrol atau berkomunikasi secara terus menerus dengan penontonnya. Mukbang awalnya merupakan salah satu tren yang hanya ada di Korea Selatan, yang pada mulanya hanya ditayangkan di salah satu stasiun TV di sana.

Namun sekarang dengan perkembangan media dan teknologi yang ada, menjadikan tren video mukbang sudah menyebar ke berbagai negara selain Korea Selatan, yaitu termasuk Indonesia melalui berbagai platform media sosial.

Saat ini video mukbang di platform media sosial jauh lebih populer dibandingkan yang ditayangkan di telivisi. Semakin tingginya tingkat penggunaan Smartphone bisa menjadi salah satu alasan yang menyebabkan semakin meningkatnya popularitas video mukbang.

Ada berbagai alasan mengapa menonton video mukbang menjadi populer dan digemari oleh masyarakat. Salah satu alasan yang paling sering dijumpai pada sebagian besar orang adalah kesepian, misalnya karena mereka tinggal sendiri atau berada jauh dari keluarga maupun kerabatnya.

BACA JUGA:  Kata Robot Saya Kena Kanker Serviks?

Biasanya mereka menonton video mukbang sambil makan untuk mengatasi rasa kesepian dan menjadikan video mukbang sebagai teman makan bersama bagi mereka. Alasan lain mengapa orang gemar menonton video mukbang adalah stres.

Ketika seseorang dalam keadaan stres, mereka akan cenderung melakukan aktivitas menarik yang membuat mereka senang untuk mengurangi stresnya, misalnya menonton video mukbang. Menurut beberapa orang, menonton video mukbang dapat membantu mereka menghilangkan stres akibat gaya hidup yang serba cepat dan sangat kompetitif, serta dapat membuat mereka melupakan sejenak tekanan atau tuntutan yang mereka alami.

Saat ini, ratusan bahkan hingga ribuan video mukbang dibuat dan diunggah ke berbagai platform media sosial setiap harinya. YouTube merupakan salah satu sarana bagi creator video Mukbang untuk menyiarkan atau mempublikasikan kontennya.

Salah satu influencer Indonesia yang terkenal dengan konten mukbangnya adalah Tanboy Kun. Tanboy Kun memiliki lebih dari 16,5 juta subscribers di YouTube dan lebih dari 1 juta followers di Instagram. Selain Tanboy Kun ada beberapa food influencer lain yang terkenal di Indonesia dengan konten Mukbangnya seperti Mgdalenaf, Nex Carlos, Ria SW, dan Ken & Grat.

Creator Mukbang biasanya tidak terlalu memperhatikan kandungan gizi makanan yang ia makan dalam video Mukbang. Makanan yang dimakan biasanya adalah makanan cepat saji yang sedang tren di kalangan masyarakat. Makanan-makanan tersebut secara umum merupakan makanan yang memiliki kandungan lemak, kalori, gula, dan garam yang tinggi.

BACA JUGA:  Perbandingan Komponen Asap Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional terhadap Risiko Perkembangan Sel Kanker

Jika perilaku ini diikuti oleh penontonnya tentu saja dapat menimbulkan masalah kesehatan, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Maraknya video mukbang membuat tingkat keterpaparan video mukbang di berbagai media sosial tinggi. Hal ini dapat memengaruhi perilaku makan dan pemilihan makan seseorang. Jika tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang memadai, maka dapat menimbulkan berbagai masalah gizi dan kesehatan seperti ketidakseimbangan asupan makanan yang berdampak pada kekurangan atau kelebihan berat badan.

Kebiasaan menonton video mukbang dapat bermanifestasi pada faktor risiko obesitas. Hal itu karena menonton video mukbang dapat menimbulkan rasa lapar dan meningkatkan keinginan untuk makan, sehingga dapat berpengaruh pada perilaku makan penontonnya.

Selain itu, kebiasaan menonton video mukbang juga dapat memengaruhi pembentukan persepsi seseorang. Perilaku makan berlebihan yang ditunjukkan oleh creator video Mukbang yang pada umumnya memiliki tubuh ideal, kurus, dan tampak sehat dapat membentuk persepsi pada penontonnya bahwa perilaku makan dalam jumlah yang sangat besar yang ditunjukkan oleh creator mukbang merupakan perilaku normal yang tidak mengarah pada konsekuensi negatif seperti penambahan berat badan dan masalah kesehatan lainnya.

BACA JUGA:  Tips Mengatasi Nyeri Haid

Padahal menurut WHO kegemukan (overweight) dan obesitas, yang disebabkan oleh asupan gizi berlebih, terkait lebih banyak dengan kematian dibandingkan dengan kekurangan berat badan (underweight). Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2014, terdapat lebih dari 1,9 miliar atau sekitar 39% orang di dunia berusia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan dan sekitar 13% orang di dunia mengalami obesitas.

Kegemukan dan obesitas ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti masalah persendian, penyakit jantung, diabetes tipe 2, penyakit refluks gastroesofageal (GERD) dan masalah kesehatan yang berhubungan dengan pernapasan. Selain itu, kelebihan berat badan juga dapat menimbulkan gangguan mental seperti mengisolasi diri dari kehidupan bersosialisasi, depresi, dan menimbulkan rasa gelisah karena tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya.

Oleh karena itu, penonton video mukbang dianjurkan untuk dapat mengimbangi kebiasaan menonton video Mukbang dengan pengetahuan terkait gizi dan kesehatan yang memadai. Creator video Mukbang juga disarankan dengan membuat video Mukbang yang menampilkan makanan yang bergizi seimbang agar dapat digunakan sebagai media edukasi.

Selain itu, creator video Mukbang juga sebaiknya memberikan disclaimer di awal video kalau perilaku makan yang ia lakukan sebaiknya tidak diikuti untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkan di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Qoriatusholihah, Dinda Syalwa
Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Pos terkait