Pandangan Islam Terhadap Pelaku KDRT

Pandangan Islam Terhadap Pelaku KDRT

DEPOK POS – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap terjadi pada hubungan yang terikat antar keluarga, baik itu suami-istri maupun anak namun kebanyakan kasus kekerasan dalam rumah tangga terjadi pada wanita bahkan beberapa kasus terjadi pada wanita hamil kekerasan yang dialami bukan hanya kekerasan fisik selain itu kekerasan seksual dan psikologis juga termasuk kedalam kasus KDRT.

Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang PKDRT No. 23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga. Berdasarkan data dari Kementerian PPPA, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada periode 1 Januari 2022 hingga 21 Februari 2022 tercatat sebanyak 1.411 kasus. Sementara, sepanjang tahun 2021 terdapat 10.247 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dengan jumlah korban 10.368 orang. Beberapa faktor penyebab terjadi Kekerasan Dalam RumahTangga, yaitu faktor individu, faktor keluarga, faktor, dan faktor Lingkungan Sosial.

Dengan tingginya tingkat kasus KDRT dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan istri selaku korban. Dampak tersebut meliputi rasa takut, cemas, letih, kelainan, stress post traumatic, serta gangguan makan dan tidur yang merupakan reaksi panjang dari tindak kekerasan. Namun, tidak jarang akibat tindak kekerasan terhadap istri juga mengakibatkan kesehatan reproduksi terganggu secara biologis yang pada akhirnya mengakibatkan terganggu-nya secara sosiologis. Pada perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dapat menyebabkan terganggunya kesehatan reproduksi, diantaranya gangguan menstruasi seperti menorhagia, hipomenorhagia atau metrorhagia, bahkan wanita tersebut dapat mengalami menopause lebih awal, mengala-mi penurunan libido, dan ketidakmampuan mendapatkan orgasme sebagai akibat tindak kekerasan yang dialaminya.

BACA JUGA:  Insecure Boleh, Tapi Jangan Terlalu Terobsesi dengan Diri Sendiri

Sehingga kekerasan dalam rumah tangga berdampak terhadap psikologis korban seperti ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Perasaan wanita yang mudah tersinggung, menyebabkan setiap kali terjadi pertengkaran dengan suaminya meninggalkan luka hati yang disimpan sangat dalam dan suatu saat akan dapat meledak menjadi pertengkaran hebat (Kartono, 2007). Seorang suami yang mengeluarkan ucapan yang merendah-kan atau menghina istri ketika pertengkaran terjadi hingga menyebabkan istri sulit tidur, stres atau depresi.

BACA JUGA:  Manfaat dan Risiko Pembangunan Jalan Tol Serang-Panimbang

Dalam Hukum Islam masalah pemukulan suami terhadap istri ini lebih dikaitkan dengan masalah nusyuz. Berkaitan dengan nusyuz ini suami diperbolehkan memukul istri setelah melakukan upaya sebelum nya yaitu menesehati istri dan pisah ranjang. Pembolehan memukul ini harus dengan adanya batasan-batasan dan syarat yang telah disepakati oleh ulama fikih. Karena tujuan dari pemukulan adalah untuk mendidik istri bukan untuk menyakiti atau melukai. Pemukulan tidak boleh yang menimbulkan darah dan mematahkan tulang, pukulan tidak boleh mengenai wajah sehingga tidak dianggap sebagai tindak kekerasan kerena tujuan dari pemukulan ini bukanlah untuk menyakiti,melainkan untuk mendidik istri. Apabila suami memukul istri sampai melewati batas maka bisa dianggap sebagai tindak jinayah. Sanksi bagi pelaku yang melewati batas dalam memukul istri Hingga sampai menyaiti dan melukai istri adalah hukuman ta‟zir yaitu yang hukumannya diserahkan pada penguasa yang berwenang. Terkait dalam membina kehidupan rumah tangga Islam lebih menekankan pada perintah untuk mu‟asyarah atau pergaulan yang baik sesama anggota keluarga.

Salah satu strategi dalam membangun keluarga sakinah pada masa sekarang adalah dengan memahami konsep keluarga sakinah dalam perspektif kesetaraan. Laki-laki dan perempuan perlu dibangun kesadaran untuk bekerjasama memenuhi kebutuhan keluarga dan berbagi peran secara fleksibel di mana pada prinsipnya siapa pun yang lebih kuat dalam satu hal (bisa laki-laki, bisa pula perempuan), maka ia bertanggungjawab atas pihak lainnya yang dalam hal tersebut lebih lemah (bisa laki-laki, bisa pula perempuan), keduanya siap berbagi tugas secara fleksibel baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Membangun kesadaran tentang pentingnya keadilan gender atau keadilan pada laki-laki dan perempuan secara sekaligus, yang diiringi dengan merintis budaya ramah pada perempuan dan anak-anak, tradisi perkawinan dan rumah tangga dengan cara-cara yang bermartabat bagi kedua belah pihak, merupakan investasi besar bagi peradaban Islam yang adil dan bebas dari tindakan kekerasan sebagaimana dicita-citakan oleh Islam sejak kehadirannya. Ikhtiyar menghapus KDRT atas dasar apapun adalah misi profetik yang menjadi kewajiban setiap umat Rasul.

BACA JUGA:  5 Alasan Kegagalan Bisnis

Rafi Adhifa Nurdiansyah
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait