Pembangunan SDM Menjadi Mesin Produksi Yang Utama Indonesia

MJ, Jakarta – Dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi jangka pendek (tahunan) memang tidak terlihat peranan SDM. Tetapi dalam perhitungan pertumbuhan jangka panjang, determinan pertama dan utama adalah penduduk. Bagaimana agar penduduk menjadi mesin produksi yang bagus? Caranya hanya satu pembangunan SDM. SDM dibangun dalam tiga bidang; kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Secara makro jika Indonesia ingin menjadi negara maju seperti dicita-citakan dalam Visi Indonesia Emas 2045, yang pertama dan utama dilakukan adalah pembangunan SDM agar menjadi mesin produksi yang utama Indonesa.

Menurut Praktisi Pendidikan Dr. Wilson Rajagukguk,MSi, MA mengatakan, sebagai mesin produksi utama, tentu saja SDM harus dibangun menjadi faktor produksi yang paling baik, memberikan multipier effect paling baik, dan memberika value added paling baik. Semua ‘paling baik’ di atas didapat melalui kualitas SDM terbaik.

Menurut Dia, Kualias SDM terbaik didapat melalui pendidikan, pelatihan, dan pengembangan. Mendikbud-ristek kabinet sekarang mempunyai visi agar SDM kita mach dengan dunia kerja. Apa yang didapat di bangku sekolah/kuliah match dengan kebutuhan dan tuntutan dunia kerja. Dunia kerja saat ini didominasi kebutuhna kemampuan IT. Tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan /jurusan apapun harus melek dan mumpuni dalam IT. Saat ini ekonomi sudah mengglobal. (Borderless economy).

BACA JUGA:  Dr. Wilson Rajagukguk, MSi, MA : Menyambut Baik Program Pemerintah Dalam Mengatasi Fragmentasi Geo-Ekonomi

“Tentu saja tenaga kerja kita harus dapat bekerja dalam dunia global, melalui penguasaaan bahasa. Bahasa Inggris itu bukan lagi tujuan pembelajaran, tetapi sudah keharusan yang harus dimiliki setiap lulusan jenjang pendidikan. Agak prihatin kita, seluruh jenjang sekolah di Indonesia sudah belajar Bahasa Inggris, bahkan diikut sertakan dalam Ujian Akhir (EBTANAS), hasilnya? Kurang menggembirakkan,” ucap Dosen Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia,

Sementara bicara struktur dan ketahanan ekonomi kata Wilson Kembali, terletak pada SDM yang kokoh. Strategi pertama mencapai Visi Indonesia Emas 2045 adalah SDM Berdaya Saing dan Sejahtera, dilakukan melalui pembangunan dalam bidang Sistem Kesehatan, Pendidikan (Sistem Pendidikan dan Pendidikan Karakter), Perlindungan Sosial dan Riset dan Inovasi. Tetapi Wilson melihat tuntutan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi untuk mendapat VIE, apa yang kita lakukan dalam pembangunan SDM berdaya saing dan sejahtera ini masih kurang. Alokasi APBN kita untuk dunia pendidikan perlu dinaikkan.

BACA JUGA:  Fokus Berkarir, Childfree jadi Solusi?

“Dalam bidang ini, saya menyarakan agar melibatkan demographer Indonesia memberi masukan kepada pemerintah. Dokumen VIE perlu dipertajam dari kacamata demografis agar kita dapat melihat sedalam-dalamnya persoalan pembangunan SDM. Dokumen VIE perlu memuat sebanyak mungkin analisis demografis. Contoh berapa beban negara ini untuk menanggulangi angka ketergantungan hingga pada tahun 2045? Apa yang dilakukan terhadap ageing?,” ungkap Wilson.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan visi untuk mencapai Indonesia Emas 2045, di mana negara kita menjadi negara maju dengan penduduk yang cerdas, inovatif, dan berdaya saing. Dalam upaya mencapai visi tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengimplementasikan berbagai program prioritas yang bertujuan untuk mengelola (SDM) yang berkualitas.

Wilson Rajaguguk melihat bahwa Program tersebut sudah baik. Akan tetapi melihat luas dan banyaknya penduduk Indonesia pelu dilakukan program sesuai kebutuhan dan karakteristik regional. Kurang tepat melihat dan memperlakukan Indonesia menggunakan ‘kaca mata’ Jakarta. Kebutuhan dan endomen regional kita tidak homogen.

BACA JUGA:  Uji Kompetensi Calon Anggota Legislatif 2024

“Saya mendukung program di atas dilanjutkan dengan memperhatikan situasi regional,”pintanya.

Dari sisi lain Wilson Rajaguguk mengamini pendapat Presiden Jokowi dari (permintaan tenaga kerja oleh pasar) demand side. Memandang dan membangun SDM dari sisi demand side tidak akan membuat bangsa ini menjadi bangsa leading. Untuk mengejar ketertinggalan, bolehlah menggunakan kerangka pikir ini. Dampak dari demand side kata Wilson melihat adalah kita dapat memenuhi kebutuhan mendasar. Bekerja. Akan tetapi jika ingin menguasai dan menjadi nomor satu dan utama, kita harus melihat pembangunan dari sisi Supply Side. Sisi Penawaran.

“Kita menciptakan tenaga kerja Indonesia sebagai pencipta lapangan kerja, pencipta teknologi, peneliti ilmu pengetahuan, pencipta pasar. Jika tenaga kerja kita yang menciptakan pasar maka kita akan senantiasa menjadi nomor satu,” pungkasnya.

Pos terkait