Pemimpin Cerdas yang Berintegritas

Seperti yang kita pahami pada umumnya pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kendali untuk mengatur, menertibkan, dan memberi arahan yang baik dan benar kepada anggotanya, selain itu pemimpin juga bertanggung jawab penuh atas apa yang ia pimpin. Maka dari itu seorang pemimpin berintegritas dan cerdas. Bicara tentang integritas apa yang dimaksud dengan integritas?

Integritas adalah bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut. Selain itu pemimpin juga harus memiliki jiwa penyayang dan mengayomi sebab seiring berkembangnya jaman sifat manusia semakin berubah. Banyak dari mereka yang tak tahan dengan bentakan dan tuntutan yang umumnya terjadi, maka dari itu pemimpin juga harus cerdas dalam memimpin, pemimpin harus tau kapan waktunya memberi apresiasi atas kerja keras setiap anggotanya dan bertindak tegas jika anggotanya melanggar aturan atau menyalah gunakan jabatan.

Lalu mengapa di Indonesia kerap sekali terjadi korupsi. Laporan Transparency Internasional terbaru menunjukkan, indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tercatat sebesar 34 poin dari skala 0-100 pada 2022. Faktor tersebut disebabkan bukan hanya oleh satu faktor melainkan banyak faktor, sehingga memunculkan kesempatan-kesempatan koruptor untuk bertindak bebas memakai uang rakyat sesuka hati mereka. Disinilah dibutuhkan pemimpin yang Cerdas dan berintegritas, yang mampu bertindak tegas dan menghakimi yang salah.

BACA JUGA:  Dijamin Awet dan Tahan Lama, Ini Tips Merawat AC yang Perlu Anda Tahu

Berikut sifat-sifat yang harus ada dalam jiwa pepimpin:

a. Integritas

John C. Maxwell dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda, meletakkan integritas sebagai faktor kepemimpinan yang paling penting. Integritas meneguhkan adanya konsistensi antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita perbuat. Integritas sepintas terlihat sepele, namun kegagalan para pejabat pemerintah dan negara dalam menjalankan roda organisasi/instansi karena kurangnya integritas yang berujung pada KKN, meskipun pemimpinnya cakap dalam berpolitik dan bernegara.

b. Pengetahuan

Pemimpin harus memiliki pengetahuan tentang tujuan, asas organisasi yang dipimpinnya, serta cara-cara untuk menjalankannya secara efisien, serta mampu memberikan keyakinan kepada orang-orang yang dipimpin dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai pemimpin, seseorang harus berperan mendorong anggotanya untuk beraktivitas sambil memberi sugesti dan semangat agar tujuan dapat tercapai.

BACA JUGA:  Pasar Kaki Langit, Keunikan Pasar Sekaligus Wisata di Sisi Timur Yogyakarta

c. Keberanian

Keberanian ditunjukkan oleh seorang pemimpin setelah melakukan analisis atas suatu situasi, dan mengambil keputusan berdasarkan analisis tersebut. Setelah itu, baru lah seorang pemimpin melaksanakan dengan sepenuh hati keputusan yang telah dibuatnya, apapun risiko yang harus dihadapinya.

d. Inisiatif

Mengimplementasikan sifat inisiatif (ide untuk menggerakkan). Pemimpin harus mempunyai kemampuan melihat apa yang seharusnya dikerjakan, kemampuan menghadapi situasi tanpa adanya sarana/alat-alat atau cara-cara yang biasa dipakai. Dengan demikian, mereka yang dipimpin benar-benar merasakan bahwa sifat kepemimpinan hadir dalam diri pemimpinnya, yaitu pemimpin yang telah menjadi penggerak bagi mereka.

e. Kebijaksanaan

Kebijaksanaan atau disebut pula sebagai kebajikan, merupakan kearifan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu sehingga keputusannya adil dan bijaksana. Adalah penting untuk mengimplementasikan sifat kebijaksanaan dalam kepemimpinan, karena berdampak pada hubungan-hubungan maupun pengaruh dalam sebuah organisasi yang dipimpin.

f. Keadilan

Sifat adil akan selalu menjadi takaran dalam kepemimpinan. Oleh karena itu, dalam kepemimpinan, sifat adil harus senantiasa terwujud dan diimplementasikan dalam menjalankan roda organisasi. Sifat adil berarti tidak memihak dalam suatu situasi konflik, baik atas alasan demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Sifat adil juga tampak dari pemberian imbalan (reward) dan sanksi (punishment) terhadap bawahan. Pemimpin harus mampu menempatkan kepentingan yang lebih besar dar kepentingan yang sempit. Kualitas pribadi dari sifat adil dan tindakan yang adil ini tampaknya mudah diucapkan, tetapi tidak gampang dipraktekkan.

BACA JUGA:  Pernikahan Dini, Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

g. Kepercayaan (Trust)

Jenderal H. Norman Schwarzkoff menekankan pentingnya karakter. Schwarzkoff mengungkapkan, bahwa Kepemimpinan adalah kombinasi antara strategi dan karakter, namun jika anda harus kehilangan salah satunya, lebih baik anda tidak punya strategi. Mengapa? Setiap karakter memungkinkan terciptanya kepercayaan. Dan kepercayaan memungkinkan terciptanya kepemimpinan. Jika orang mempercayai kita, mereka akan mendukung kita untuk berhasil. Kepercayaan dapat menuntun pada kesuksesan. Jika orang tidak percaya kepada pemimpinnya, maka akan ditinggalkan oleh anggotanya. Hasilnya adalah kegagalan.

Shorahah Azizah
STEI SEBI

Pos terkait