Pengaruh Globalisasi di Era Digital: Membuat Kita Inferiority Complex

“Bodo amatlah pada standar kesuksesan yang diagungkan oleh society dan media. We Will be something, tanpa perlu standar itu.”

Kutipan di atas saya ambil dari buku Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa karya Alvi Syahrin, mungkin bisa menggambarkan apa yang terjadi di era globalilasi digital ini. Kalau misalnya kita sedang kuliah, kita akan merasa minder kalau melihat teman-teman kita berhasil meraih IP tinggi, selalu menang loma tingkat nasional atau internasional, bahkan mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.

Ketika lulus kuliah, kita dianggap gagal kalau hanya digaji lebih rendah dari gaji anak SMA/K dan belum UMR. Bahkan gaji UMR saja dipandang seakan-akan kita sarjana yang tidak punya skill. Kita lihat beberapa teman kita dengan bangganya mengekspos gajinya yang dua digit.

Lagipula gaji UMR apakah bisa untuk memuaskan nafsu kita untuk selalu trend seperti; ponsel pintar keluaran terbaru, mngopi santai di kafe sehabis pulang kerja, menjadikan belanja pakaian bermerk di mall sebagai runitatas mingguan atau liburan ke luar negeri untuk sekedar healing saat mengambil cuti kerja. Dan, akhirnya kita yang tidak mendapatkan predikat sukses seperti itu hanya bisa gigit-gigit jari.

BACA JUGA:  Pentingnya Pendidikan Akhlak Ditengah Bahaya Media Sosial

Sebenarnya predikat sukses seseorang bukanlah hal baru. Namun yang membuatnya menjadi menegangkan dan membuat stres adalah pengaruh globalisai di era digital ini. Dalam buku Hidup Sederhana, Desi Anwar mengatakan hidup menjadi terasa menegangkan dan membuat stres jika kita menganggapnya sebagai persaingan. Biarpun demikian, persaingain itu lebih sering hanyalah produk pemikiran kita:

”Kita harus seperti mereka, mencapai apa yang telah mereka capai dan memiliki apa yang mereka miliki. Kalau tidak, hidup kita sama dengan kegagalan kalau kita kurang cepat dalam mencapai apa pun.”

Karena terpaksa itulah kita terjebak dalam kesimpangsiuran yang menyesatkan dan kita tidak tahu bagaimana cara keluarnya. Desi Anwar dalam pun mengibaratkan hidup bagaikan arena balap tikus. Dan kitalah tikus-tikus itu yang selamanya terjebak di jalur balap tersebut; mengejar-ejar sesuatu yang dinamakan kehidupan.

Yang kita tahu bahwa kita harus mengikuti perlombaan itu dan bersaing dengan yang lain. Dan, untuk keluar dari jalur dan berhenti berlomba sama saja dengan tidak menjadi apa-apa. Menurutnya kejadian ini disebut sebagai inferiority complex.

BACA JUGA:  Pentingnya Pendidikan Formal dan Non Formal

Melansir Gramedia, Istilah inferiority complex diperkenalkan oleh Alfred Adler pada tahun 1907 untuk menjelaskan kondisi dimana seseorang mengalami rasa rendah diri dan tidak percaya diri yang berasal faktor seperti keterbatasan fisik atau psikologis yang nyata maupun sebatas khayalan. Kondisi ini dapat mengakibatkan sikap penakut dan pemalu, hingga merasa kualitas pencapaian dirinya jauh dibandingkan orang lain.

Inferiority complex adalah istilah untuk menggambarkan perasaan lemah dan ketidakmampuan yang intens pada diri seseorang. Inferiority complex lebih dari sekadar rasa kecewa dan sedih saat menghadapi kegagalan. Orang-orang yang memiliki kecenderungan ini selalu merasa bahwa pencapaian, kemampuan, daya tarik, atau kebahagiaan yang didapatkannya tidak berarti bila dibandingkan dengan orang lain.

Karena citra diri yang negatif, mereka sering pesimis dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi diri sendiri atau orang lain. Menuruti ekspektasi orang lain adalah sesuatu yang semu,

Prabu Ganendra dalam bukunya yang berjudul Temukan Siapa Kamu dan Apa Potensimu, menjelaskan bahwa ketidakmampuan menentukan keinginan dari diri sendiri dan terlalu bergantung pada pilihan banyak orang merupakan awal dari ketidakbahagiaan seseorang.

BACA JUGA:  Insecure Boleh, Tapi Jangan Terlalu Terobsesi dengan Diri Sendiri

Mengutip perkataan Paulo Coelho dari buku Berdamai Dengan Diri Sendiri karya Muthia Sayekti, ”Hidup ini bukanlah untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.” Memang ada benarnya, semakin keras kita berupaya untuk diakui maka semakin lelah jiwa kita berupaya untuk mendapatkannya. Pengakuan orang lain tidak akan pernah terpuaskan.

Lalu, agar kita tidak salah memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan diri kita sendiri, Mike Robbins dalam bukunya yang berjudul Be Yourself, Because Everyone is Already Taken mengungkapkan bahwa ada 5 prinsip dasar yang diperlukan untuk menjadi pribadi yang otentik, anatara lain:

⦁ Know Yourself (Kenali Dirimu Sendiri)
⦁ Transform Your Fear (Ubah Ketakutanmu)
⦁ Express Your Self (Tunjukan Dirimu Sejati pada Dunia)
⦁ Be Bold (Beranilah Untuk Menunjukan Dirimu yang Sebenarnya)
⦁ Celebrate Who You Are (Rayakan Semua Itu Sebagai Bentuk Rasa Syukur)

Dengan ini semoga, kita bisa menjadi diri sendiri dan berani menunjukan diri kita sendiri kepada orang lain tanpa memandang standar kesuksesan sesuai kebutuhan diri kita sendiri.

Muhammad Ridwan Tri Wibowo

Pos terkait