Penjaga Palang Pintu Kereta, Pekerjaan Tanpa Penunjang

Berbeda dengan profesi Penjaga Jalan Lintasan (PJL) yang biasanya menggunakan seragam resmi dan bertugas untuk mengawasi sinyal kereta yang masuk.

DEPOKPOS – Pekerjaan seorang penjaga palang pintu kereta api telah menjadi sorotan dalam upaya meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api. Dengan tanggung jawab yang besar, mereka berdiri teguh di tepi rel, menjaga lalu lintas untuk melindungi setiap nyawa. Tugas mereka yang berharga ini merupakan peran penting dalam menjaga keselamatan di wilayah sekitar.

Penjaga palang pintu kereta api atau biasa disebut penjaga liar merupakan sebuah pekerjaan yang bertugas untuk menjaga lajur perlintasan kereta api. Berbeda dengan profesi Penjaga Jalan Lintasan (PJL) yang biasanya menggunakan seragam resmi dan bertugas untuk mengawasi sinyal kereta yang masuk.

Walaupun stigma negatif berkutat pada pekerjaan tersebut, pekerjaan ini menjadi salah satu mata pencaharian beberapa masyarakat sekitar. dengan bermodalkan perlengkapan seadanya mereka secara sukarela membantu para pengendara yang biasanya melintasi rel Kereta Api.

penjaga pintu kereta biasanya tersebar pada setiap titik perlintasan Kereta Api di berbagai wilayah, seperti Sukardi (46) merupakan salah satu penjaga perlintasan kereta api kawasan Volvo, Jakarta Selatan. ia merupakan seorang penjaga perlintasan yang sudah bekerja cukup lama di daerah tersebut. pemandangan kemacetan dan suara klakson kendaraan yang bising menjadi makanan sehari-hari yang Sukardi hadapi.

Berdasarkan pantauan di lokasi tersebut, memang keadaan di lokasi tersebut cukup ramai dan padat. Banyak pemotor melawan arah, baik dari Kalibata menuju Pasar Minggu maupun sebaliknya. “Kalau lagi jam masuk kerja dan pulang kerja memang parah banget, soalnya jarak stasiun Pasar Minggu Lama sama Baru dekat kan, apalagi kalau susah diatur palang udah ketutup masih nyerobot,” Tutur Sukardi pada saat ditemui pada Minggu 25/6.

BACA JUGA:  Serahkan Bantuan RUTILAHU, Pj. Wali Kota Bekasi Sampaikan Hal-Hal Penting Berikut

Keadaan perlintasan yang carut marut sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi penjaga perlintasan. adapun kondisi cuaca pada saat hujan membuat perlintasan menjadi licin, akibat kondisi tersebut pengendara sering tergelincir dan jatuh.

Sukardi mengatakan bahwa pekerjaan kasar seperti ini sering kali mendapatkan cercaan dari pengendara, ia sama sekali tidak pernah menuntut pengendara untuk memberikan upah atas jasanya yang menurutnya tidak seberapa. “Saya ikhlas bantu mba, maksud saya kalau meregang nyawa jangan disini, situ enak kalau mati tinggal mati, lah kalo saya repot harus berurusan sama polisi sebagai saksi,” ungkap Sukardi.

Menurut Sukardi banyak pengendara yang mengatakan bahwa pekerjaannya ini mengganggu pengendara lain dan seperti hama yang hanya ingin imbalan uang, padahal menurutnya tidak semua pekerja kasar seperti dirinya bermalas-malasan serta hanya duduk dan mengharapkan imbalan.

Menurut pengakuan Sukardi, perlakuan tidak menyenangkan secara fisik juga pernah ia rasakan, seperti dipukul helm karena masalah sepele. pada posisi ini Sukardi harus bersikap dingin dan legowo. kalau tidak keadaan akan menjadi jauh lebih runyam dan tidak terkendali

“Kalau itu saya minta maaf aja jalan tengah pokoknya, kalau di ikuti saya emosi juga mbak,” Tutur Sukardi sambil mengelus dadanya.

Pada jam sore lalu lintas sudah sangat tidak beraturan, dibutuhkan lebih dari 3 orang untuk mengatur perlintasan rel Kereta Api, terkadang beberapa mobil mengalami kondisi mogok ditengah-tengah perlintasan, membuat para penjaga perlintasan harus cepat putar otak dalam menanggapi masalah tersebut.

Biasanya Sukardi bekerja secara bergantian dengan rekannya, ia memulai pekerjaannya tersebut mulai dari jam 3 sore sampai paling lama sekitar pukul 9 malam namun, tidak jarang juga Sukardi bertukar jam kerja dengan temannya apabila berhalangan.

BACA JUGA:  Polresta Bandara Soetta Ungkap Kejahatan Pornografi Anak: Delapan Remaja Jadi Korban

Di bawah terik mata hari Sukardi membunyikan peluit hitam yang tergantung di lehernya, sambil meneriakkan kata maju untuk mengatur lalu lintas yang kian semrawut, Beberapa pengendara yang berlalu lalang melintasi rel kereta untuk memberinya sedikit upah, dengan menggunakan baju sederhana dan sandal jepit Sukardi siap menerjang medan dengan harapan hari ini berjalan dengan baik.

Sebagai seorang penjaga perlintasan, matanya harus sigap dan awas untuk menangkap sinyal kereta yang ingin datang, dengan berbekal pengetahuan yang seadanya dan mengandalkan instingnya sebagai seorang penjaga perlintasan, Sukardi sudah paham betul medan yang dihadapi, sebab pekerjaan ini sudah ia geluti sedari lama.

Dari pekerjaannya tersebut ia juga perlu berhati-hati, menurut penuturannya ia tidak boleh sampai salah sedetikpun dalam mengirimkan sinyal ke pengendara, sebab kesalahan sedetiknya tersebut dapat merubah kehidupan orang lain. Sukardi merasa tanggung jawabnya besar pada pekerjaan ini, ia selalu merasa setiap langkah kakinya untuk bekerja disini mungkin adalah langkah kakinya yang terakhir.

“Ya pasrah aja sama yang diatas, kehidupan tidak ada yang tahu yang melihat perbuatan saya kan juga allah,” ungkap Sukardi.

Nyawa Melayang, Memorinya Masih Terbayang

Pengalaman Sukardi sebagai penjaga perlintasan tidak dapat diragukan lagi, Sukardi sudah bekerja lebih dari 7 tahun lamanya. pengalaman demi pengalaman sudah ia lalui sebagai penjaga perlintasan, pengalaman terburuknya selama bekerja adalah ketika menyaksikan bagaimana seseorang bunuh diri di depan pelupuk matanya, menurut penuturannya pengalamannya tersebut sempat membuat Sukardi trauma dan tidak bekerja selama beberapa hari. pada saat di lokasi kejadian ia tidak menyangka bahwa korban memang sengaja menunggu kereta untuk lewat. Sampai sekarang Sukardi masih ingat betul bagaimana korban menatapnya dengan tatapan yang kosong.

BACA JUGA:  Dishub Kota Bekasi Sediakan 10 Halte Bus Berkonsep Modern dan Smart

Sukardi tidak bisa berbuat banyak ketika melihat kecelakaan yang terjadi pada saat ia sedang bekerja tersebut, perasaan menyesal mungkin sempat menghantui dirinya sebagai seseorang yang mungkin menjadi sosok yang terakhir dilihat si korban. ditambah lagi kecelakaan sebab menerobos palang pintu kereta, padahal palang pintu sudah dalam kondisi tertutup dan pengendara sudah diingatkan untuk tetap berada di belakang garis aman. Namun, peringatan tersebut tidak diIndahkan si pengendara.

“Kalau korban karena menerobos itu lumayan sering lah, kalau begitu kan kita tidak bisa menyalahkan kereta, kereta tidak salah,” tutur Sukardi menjelaskan kronologi.

Sukardi juga menambahkan kondisi perlintasan rel kereta yang cacat, menjadikan banyaknya korban yang jatuh di perlintasan Kereta Api. Menurut Sukardi lokasi perlintasan kereta ini paling sering direnovasi namun, juga paling sering cepat rusak.

Perlintasan kereta api merupakan area yang sangat rentan terhadap kecelakaan. Ketika kereta melintas, palang pintu ditutup untuk mencegah kendaraan dan pejalan kaki menyeberang rel. dikutip dari Kai.id “pintu perlintasan kereta api berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api agar tidak terganggu pengguna jalan lain seperti kendaraan bermotor maupun manusia. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 72 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta pasal 110 ayat 4,” Tujuannya adalah untuk melindungi nyawa dan mencegah tabrakan yang dapat berakibat fatal.

Saniyyah
Mahasiswa Universitas Prof, Dr, Moestopo

Pos terkait