Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Masa Pandemi Covid-19

 

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 2 tahun dan masih belum juga berubah judulnya menjadi endemi. Penerapan kebijakan dari PSBB sampai PPKM level 1, 2, dan 3 masih terus dilakukan. Akibatnya masyarakat mengalami perubahan pola aktivitas, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Perubahan ini dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk remaja. Remaja adalah kelompok usia yang sangat rentan terhadap dampak pandemi, khususnya pada kesehatan mentalnya. Kerentanan ini disebabkan oleh karakteristik psikososial remaja yang masih belum stabil. Menurut WHO, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera seseorang untuk menyadari kemampuan diri, mengatasi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, dan mampu berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

Mungkin frasa kesehatan mental sudah familiar di telinga kita. Perlu diketahui bahwa kesehatan mental adalah salah satu dasar dari suatu kondisi sejahtera. Hal ini dicerminkan dari pengertian kesehatan menurut WHO yang mencakup kondisi mental yang baik. Jadi kesehatan mental gak kalah penting loh sama kesehatan fisik! Nah, masa remaja atau rentang usia 10-19 tahun, adalah masa yang sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Menurut Guthold, hal ini dikarenakan masa remaja adalah masa yang unik dan formatif atau penting untuk perkembangan sosial dan emosional yang menjadi dasar kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang.

Sampai saat ini, sudah banyak dilakukan penelitian terkait kesehatan mental remaja, baik pada negara maju maupun berkembang. Hasil survei kesehatan jiwa yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), menunjukkan terdapat 3 masalah psikologis utama yang dialami remaja, yaitu kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, 2022). Di China, survei dilakukan pada 8079 remaja dan didapatkan hasil sebesar 43.7% remaja mengalami depresi serta 37.4% mengalami kecemasan. Penelitian di Brazil menyatakan sebesar 40.4% dari 45.161 remaja sering mengalami depresi dan 52.6% mengalami kecemasan. Survei singkat juga dilakukan UNICEF pada 8.444 remaja di sembilan negara, didapatkan hasil bahwa pada awal masa pandemi terdapat 27% remaja mengalami kecemasan dan 15% mengalami depresi. Kementerian Kesehatan RI menyatakan pada tahun pertama pasca pandemi terdapat 2 dari 5 remaja berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Kondisi ini memburuk pada awal tahun 2022, dimana terdapat 1 dari 2 remaja yang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya.

BACA JUGA:  Makanan Ultra Proses Perlahan Membunuhmu!

Memangnya apa saja sih faktor yang bisa memengaruhi kesehatan mental?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, ditemukan terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan mental, khususnya saat pandemi Covid-19.

Jenis kelamin

Berdasarkan penelitian Brooks, dkk. berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki kecenderungan kondisi kesehatan mental yang dapat mengarah pada depresi dan stres.

Screen time

Screen time adalah lama waktu yang digunakan untuk menatap layar (TV, komputer, perangkat seluler, dll). Saat pandemi, remaja cenderung memiliki screen time yang lama. Screen time berpengaruh pada kesehatan mental dan durasi tidur. Penelitian yang dilakukan Li, dkk. menunjukkan bahwa screen time secara keseluruhan berkaitan dengan tekanan psikologis yang lebih besar. Namun, apabila screen time digunakan untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga, screen time dapat menurunkan tingkat kesepian seseorang.

BACA JUGA:  Hati-Hati, Citra Tubuh Negatif Dapat Berujung pada Komplikasi Kesehatan, Infertil, hingga Kematian

Kontak sosial

Selama pandemi, kebijakan-kebijakan tentang pembatasan kegiatan dan kontak sosial diberlakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan berlakunya kebijakan ini kontak sosial remaja berkurang dan hal ini berpengaruh sebagai faktor stres remaja saat pandemi.

Komunikasi dengan keluarga

Komunikasi antara remaja dengan orang tua juga berpengaruh pada kesehatan mental remaja. Diskusi yang dilakukan orang tua dan anak dapat mencegah perkembangan gejala depresi, kecemasan, dan stres yang serius. Dukungan emosional dari keluarga juga berpengaruh secara positif untuk mengurangi efek stres.

Olahraga

Olahraga berpengaruh pada kesehatan mental remaja. Olahraga dapat menurunkan screen time, meningkatkan kualitas tidur, dan menurunkan tekanan psikologi.

Ketakutan akan keluarga terkena Covid-19

Virus Covid-19 yang mudah menular menyebabkan seseorang takut akan tertular. Ketakutan ini muncul saat pandemi dan memiliki hubungan yang signifikan dengan stres, kecemasan, dan depresi.

Pembelajaran daring

Metode pembelajaran yang dilakukan secara daring selama pandemi dapat mengakibatkan remaja sering merasa jenuh dan kesulitan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat berpengaruh secara negatif terhadap kesehatan mental remaja.

Lalu bagaimana cara mencegah gangguan kesehatan mental?

Kesehatan mental remaja menjadi hal yang perlu diperhatikan. Untuk mencapai kesehatan mental remaja yang optimal, diperlukan kerja sama dari berbagai sektor, baik keluarga, instansi pendidikan, petugas kesehatan, serta pemerintah. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya gangguan kesehatan mental pada remaja di masa pandemi Covid-19, antara lain:

BACA JUGA:  Pengaruh Virus Hepatitis B Terhadap Ibu Hamil

Meningkatkan komunikasi yang baik antara orang tua dan remaja.
Meningkatkan konsumsi makanan sehat
Melakukan aktivitas fisik, seperti berolahraga, berkebun, membuat kerajinan tangan, dll.
Meningkatkan kemampuan mengatasi masalah (positive coping stress)
Instansi kesehatan dapat berperan melalui:
Penyediaan informasi akurat terkait Covid-19 untuk mencegah munculnya berita hoax yang dapat menimbulkan kecemasan pada remaja.
Penyediaan dan promosi layanan kesehatan mental
Instansi pendidikan dapat berperan dengan:
Mengadakan promosi terkait pola hidup sehat, mendorong kegiatan fisik, pola makan sehat dan seimbang, serta pola tidur teratur.
Menciptakan suasana belajar yang kreatif agar tidak menimbulkan tekanan pada remaja.

Masa remaja merupakan rentang usia yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Terdapat berbagai faktor yang dapat meningkatkan potensi seorang remaja mengalami gangguan mental. Oleh karena itu, remaja dan orang tua disarankan untuk lebih meningkatkan kesadaran terhadap potensi gangguan kesehatan mental pada remaja. Selain itu, kerja sama antar berbagai sektor juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi remaja untuk terus bertumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun mental.

Heleyna Oktavia Siregar
Fathiyya Aliyah Birjaman
Mahasiswa FKM UI

Pos terkait