Penyebab Buruknya Gizi Anak Indonesia

DEPOKPOS – Belakangan ini viral seorang ibu berikan susu kental manis ke anak 7 bulan. Sangat miris, alasan ibu memberikan susu kental manis karena dianggap sama dengan susu formula sebagai pengganti ASI. Berdasarkan laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), SKM sebaiknya tidak dikonsumsi oleh balita dan anak usia dini. Hal ini mempertimbangkan kandungan nutrisinya yang tidak ideal dalam setiap porsinya. SKM memiliki kadar protein yang rendah sekaligus kadar gula yang tinggi. Hal ini sangat di sayangkan padahal asupan gizi pada 1000 hari pertama anak sangat di butuhkan agar tidak terjadi masalah gizi sebagai penyebab utama stunting. Hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah terutama dalam hal mengedukasi orang tua tentang bahaya stunting.

BACA JUGA:  Risiko dan Pengelolaan Kerusakan Mobile Banking: Dampak Terhadap Kepuasan Nasabah

Statistik PBB tahun 2020 mencatat, lebih dari 149 juta balita di seluruh dunia mengalami stunting, dimana 6,3 jutanya merupakan balita di Indonesia. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6% dan ingin mencapai target 14% pada 2024. Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting di Indonesia menempati urutan tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting.

Stunting adalah kondisi ketika anak mengalami masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang sehingga mengakibatkan keterhambatan pertumbuhan yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengkan anak-anak seusianya.

Stunting, atau pertumbuhan terhambat pada anak, dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, penyakit kronis dapat memengaruhi pertumbuhan anak karena membutuhkan lebih banyak asupan gizi untuk melawan penyakitnya. Jika asupan gizi tidak mencukupi, anak bisa mengalami stunting. Selain itu, kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi juga berperan penting. Ibu berperan sebagai kiper dalam memberikan asupan gizi kepada anak-anaknya, sehingga pengetahuan yang baik akan memastikan asupan gizi yang cukup bagi anak. Faktor ekonomi juga turut berpengaruh, karena sulit bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk memberikan asupan gizi yang cukup kepada anak-anaknya. Selain itu, akses terhadap makanan bergizi yang terbatas, sanitasi yang kurang baik, dan kurangnya pelayanan kesehatan juga dapat menjadi penyebab stunting pada anak.

BACA JUGA:  Larangan Maysir dalam Transaksi

Pencegahan stunting merupakan hal yang penting untuk dilakukan jika kita menginginkan penurunan stunting hingga angka 14% di tahun 2024. Pencegahan dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil sangat penting, karena gizi yang cukup pada ibu hamil dapat mendukung pertumbuhan janin secara optimal. Selain itu, pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya setelah usia 6 bulan juga penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Memantau pertumbuhan balita di posyandu juga merupakan langkah yang efektif dalam pencegahan stunting, karena dapat mengidentifikasi dini jika ada masalah pertumbuhan pada anak. Selain itu, meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan juga sangat penting, karena lingkungan yang bersih dapat mencegah berbagai penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan anak.

BACA JUGA:  Peranan Internet Sebagai Media Komunikasi Bisnis

Talitha nabilah dari SMAN 15 BEKASI

Pos terkait