Perbandingan Komponen Asap Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional terhadap Risiko Perkembangan Sel Kanker

DEPOK POS – Rokok adalah salah satu zat adiktif berbentuk padat yang terbuat dari berbagai macam bahan kimia yang bersifat iritan, karsinogenik, dan beracun yang berdampak buruk terhadap kesehatan. (Purnomo Basuki, 2011). Rokok konvensional adalah produk pasaran yang terbuat dari tembakau dan dibungkus dengan kertas berbentuk silinder. Sedangkan, rokok elektrik adalah rokok modern yang berbentuk alat elektronik yang terdiri dari baterai, elemen pemanas listrik, kartrid, dan cairan atau e-liquid. Prinsip kerja rokok elektrik adalah setelah rokok elektrik diaktifkan, cairan akan dipanaskan dan diubah menjadi aerosol yang dapat dihirup masuk ke dalam paru-paru dan dihembuskan dalam bentuk asap rokok (Purnomo Basuki, 2011). Pembakaran rokok merugikan baik bagi pengguna maupun lingkungan di sekitarnya. Asap rokok yang dihasilkan dari pembakaran rokok mengandung nikotin 4-6 kali lebih banyak daripada yang dihirup oleh pengguna rokok itu sendiri. Asap rokok yang dihirup oleh perokok pasif lebih berbahaya karena asap rokok yang dihirup lebih banyak mengandung karbon monoksida, tar, dan nikotin.

Penjualan rokok pada tahun 2021 meningkat dari tahun 2020, yaitu dari 276,2 miliar batang mencapai 296,2 miliar batang rokok dan konsumsi rokok pada tahun 2021 berjumlah 70,2 juta orang dewasa. Penggunaan rokok elektrik pada tahun 2021 mencapai 3%. Survei tentang kebiasaan merokok yang dilakukan oleh WHO dan CDC (2022) di Indonesia pada tahun 2021 menemukan bahwa 33,5% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas saat ini menghisap produk tembakau (tembakau asap dan/atau tanpa asap) setiap hari atau tidak setiap hari. Sementara, ditemukan bahwa 3% penduduk berusia 15 tahun ke atas saat ini menggunakan rokok elektrik setiap hari atau non-harian (WHO and CDC, 2022). Namun demikian, penelitian menemukan bahwa merokok rokok elektrik telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan jumlah konsumsi rokok berdampak pada semakin tingginya penyakit akibat rokok dan bertambahnya kematian akibat konsumsi rokok.

Menurut data tahun 2018, penggunaan tembakau bertanggung jawab atas sekitar 23% kasus kanker di Indonesia. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Anusha, et al (2022) mengenai perbandingan data rokok elektrik dan asap konvensional, ditemukan beberapa kesimpulan terhadap pasien kanker. Ditemukan bahwa pengguna rokok elektrik didiagnosis menderita kanker pada usia yang lebih muda (usia rata-rata 45) dibandingkan perokok konvensional (usia rata-rata 63). Menariknya, responden kanker memiliki prevalensi penggunaan rokok elektrik (2,3%) yang lebih rendah daripada perokok konvensional (16,8%).

Pada umumnya, masyarakat menganggap bahwa rokok elektrik dapat menjadi alternatif dari rokok konvensional, meskipun data yang didapatkan dari studi menunjukkan sebaliknya. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai perbandingan komposisi asap pada rokok elektrik dan rokok konvensional. Artikel akan membahas mengenai perbedaan komponen penyusun, mekanisme pembakaran, asap yang dihasilkan, serta faktor risiko terhadap kanker paru-paru.

Kandungan utama yang ada di dalam sebatang rokok antara lain adalah karbon monoksida (CO), tar, dan nikotin. Karbon monoksida (CO) adalah salah satu gas beracun yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah. Tar sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan aspal yang dapat membunuh sel dalam saluran darah, meningkatkan produksi lendir di paru-paru, dan menyebabkan kanker paru-paru. Nikotin dapat menyebabkan kecanduan, dapat merusak jaringan otak, menyebabkan darah cepat membeku, dan dapat mengeraskan dinding arteri Selain itu, rokok juga mengandung tujuh puluh zat kimia yang dapat menyebabkan kanker atau karsinogenik (Lushniak, 2014). Beberapa bahan kimia yang ditemukan dalam asap rokok yakni nikotin, hidrogen sianida, formaldehida, arsenik, amonia, benzena, karbon monoksida (CO), dan nitrosamin (Purnomo Basuki, 2011).

BACA JUGA:  Kata Robot Saya Kena Kanker Serviks?

Pembakaran tembakau pada rokok menghasilkan beberapa gas polutan, di antaranya karbon monoksida, nikotin, dan tar. Karbon monoksida (CO) merupakan unsur yang dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon dan CO yang dihisap oleh perokok meningkatkan kadar CO dalam darah. Nikotin merupakan suatu zat yang menimbulkan efek adiktif dan psikoaktif pada perokok. Banyaknya nikotin dalam rokok akan langsung beredar ke dalam peredaran darah. Tar merupakan suatu zat karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker pada saluran pernapasan dan paru-paru.

Mekanisme toksisitas akibat asap rokok konvensional terkait dengan respon inflamasi, stres oksidatif, kematian sel, ketidakstabilan genom, dan transisi epitel-mesenkim (EMT) (Wang et al., 2022). Respon Inflamasi, paparan asap rokok di dalam tubuh menginduksi pelepasan kemokin dan mediator inflamasi dari sel epitel saluran napas manusia. asap rokok terlibat dalam banyak jalur pensinyalan seluler yang terkait dengan respons inflamasi. Lalu, stres oksidatif berperan penting dalam patogenesis kanker paru paru akibat rokok. Paparan asap rokok telah dilaporkan meningkatkan tingkat stres oksidatif dan meningkatkan produksi faktor peradangan, yang pada konsentrasi lebih tinggi berbahaya bagi organisme. Hal ini menyebabkan kerusakan seluler pada sebagian besar komponen, termasuk lipid membran, enzim, dan DNA. Tidak hanya itu, asap rokok dapat menginduksi apoptosis, atau kematian sel yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi paru-paru. Asap rokok dapat menginduksi pyroptosis, sejenis kematian sel yang dipicu oleh aktivitas inflamasi yang memiliki peran penting dalam perkembangan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). Asap rokok juga dapat memicu transisi epitel-mesenkim (EMT) adalah proses yang memungkinkan sel epitel memperoleh fenotipe mesenkim melalui beberapa perubahan biokimia dan dikaitkan dengan fenotipe kanker invasif. Paparan asap rokok dapat meningkatkan EMT pada sel kanker paru paru.

Pada masa globalisasi ini, masyarakat mulai mengenal penggunaan rokok elektrik. Rokok elektrik adalah kelompok beragam produk yang menghasilkan aerosol yang dipanaskan, biasanya mengandung nikotin, yang dihirup pengguna melalui corong. Tidak seperti rokok konvensional, perangkat rokok elektrik terutama terdiri dari tiga bagian, baterai, kontainer campuran e-liquid, dan alat penyemprot pemanas elektrik untuk menguapkan campuran e-liquid untuk membuat aerosol. E-liquid biasanya mengandung propylene glycol (PG), vegetable glycerin (VG), nikotin, perisa, dan zat aditif lainnya (Yamin, et al., 2010 dalam Lilian, et al., 2022).

Zat yang terkandung dalam e-liquid memiliki peran masing-masing. Rokok elektrik menggunakan pelembab sebagai pembawa pelarut dalam e-liquid untuk menghasilkan aerosol yang mensimulasikan asap rokok tembakau yang mudah terbakar. Selain pelembab ini, air adalah bahan umum e-liquid. PG dan gliserol (sering disebut sebagai “vegetable glycerin” dalam formulasi cair) adalah pelarut penguapan yang paling umum digunakan dalam rokok elektrik (Eaton, et al, 2018).

Rokok elektrik adalah perangkat yang dioperasikan dengan baterai yang memanaskan nikotin pada cairan, sehingga menghasilkan aerosol yang dihirup pengguna. Desain dan jenis baterai dapat menempatkan perangkat pada risiko kebakaran atau dalam kasus yang jarang terjadi ledakan, dan dalam kombinasi dengan koil pemanas, baterai juga mempengaruhi sifat aerosol. Jumlah daya yang diterapkan pada alat penyemprot juga mempengaruhi massa aerosol yang dihasilkan dari perangkat rokok elektrik, dengan daya yang lebih besar biasanya menghasilkan aerosol yang lebih padat (Eaton, et al, 2018).

BACA JUGA:  ASI Berkualitas untuk SDM Cerdas

Rokok elektrik membentuk aerosol dari elemen pemanas dan kontainer berisi cairan. Elemen pemanas membuat aerosol larutan isi ulang (e-liquid) saat sumber listrik rokok elektrik ditekan. Elemen pemanas terbuat dari logam dan dapat ditenagai oleh baterai. Penggunaan memicu pemanas di alat penyemprot dan akan menghasilkan asap yang mirip dengan rokok konvensional. Zat yang diidentifikasi dalam cairan rokok elektrik dan aerosol termasuk nikotin, pembawa pelarut (PG dan gliserol). Rokok elektrik dapat menghantarkan nikotin dalam uapnya, dengan jumlah nikotin berbeda berdasarkan e-liquid, dan kekuatan rokok elektrik (Nawi, et al., 2020).

Produk hasil dari pemanasan cairan rokok elektrik, seperti aldehida dan keton bersifat racun. Aldehida seperti acetaldehyde diklasifikasikan sebagai karsinogenik dan cenderung menyebabkan kanker pada manusia. Mereka terbentuk karena siklus aerosolisasi atau dari salah satu bagian dari kerja rokok elektrik itu sendiri. Berbagai tegangan yang digunakan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan konsentrasi bahan kimia berbahaya (Nawi, et al., 2020). Tidak hanya itu, logam atau metaloid dapat tertelan melalui rokok elektrik (Wang, et al., 2022). Aerosol dan cairan rokok elektrik diketahui mengandung logam berat dan nitrosamin tertentu. Namun, dibandingkan dengan rokok konvensional, konsentrasi komponen ini biasanya jauh lebih rendah (Wang, et al., 2022).

Paparan logam dapat berasal dari beberapa bagian perangkat, termasuk perangkat dari logam dengan paduan kompleks pemanas e-liquid untuk menghasilkan aerosol yang dihirup oleh pengguna (Eaton, et al, 2018). Bagian lain dari perangkat, seperti sambungan dan kabel, juga dapat berkontribusi. Misalnya, paduan yang sering digunakan dalam rokok elektrik mengandung aluminium, kromium, dan besi. Salah satu hipotesis utama adalah bahwa logam dalam koil larut selama proses pemanasan menjadi aerosol yang dihasilkan. Beberapa logam, seperti tembaga, timbal, nikel, dan timah, terkandung pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi dalam aerosol rokok elektrik daripada rokok konvensional yang mudah terbakar (Eaton, et al, 2018).

Sebagian besar penelitian yang tersedia menunjukkan bahwa toksisitas rokok elektrik jauh lebih rendah daripada rokok konvensional. Rokok elektrik pertama kali terpapar ke sistem pernapasan setelah terhirup, dan asap rokok elektrik tidak sepenuhnya dimetabolisme di paru-paru. Bagian dari zat yang dihirup diserap ke dalam aliran darah dan didistribusikan ke seluruh sistem kardiovaskular, saraf pusat, dan kekebalan tubuh, dan seterusnya (Wang, et al., 2022). Ekstrak aerosol rokok elektrik dapat menyebabkan tingkat kerusakan DNA yang signifikan, bahkan jika pada tingkat yang lebih rendah daripada yang diamati. Diamati peningkatan pada Reactive Oxygen Species (ROS) seluler, dan penurunan kapasitas antioksidan total. Selain itu, diamati sebagai penurunan ekspresi protein penting untuk perbaikan kerusakan DNA dan menunjukkan bahwa hal ini dapat meningkatkan risiko kanker (Avino, et al., 2018). Selain itu, senyawa beracun yang berbeda seperti logam dan nitrosamin spesifik tembakau juga disimpan pada partikel aerosol (Scungio, et al., 2018).

Rokok elektrik umumnya dipasarkan sebagai alternatif yang aman dibandingkan rokok tembakau konvensional karena tidak adanya proses pembakaran. Penggunaan perangkat ini, bagaimanapun, memaparkan pengguna dan perokok pasif terhadap kemungkinan konsentrasi tinggi partikel halus yang dapat menghasilkan senyawa beracun dan karsinogenik. Senyawa tersebut merupakan partikel dengan diameter sangat kecil, yang mampu menembus secara mendalam dan menetap di alat pernapasan manusia, dapat menyebabkan efek kesehatan yang merugikan. Partikel udara, pada kenyataannya, baru-baru ini diklasifikasikan sebagai karsinogenik bagi manusia (Scungio, et al., 2018).

BACA JUGA:  Rokok Elektronik: Solusi Baru Berhenti Merokok di Era Pasca COVID-19?

Karena tidak adanya pembakaran daun tembakau, rokok elektrik diharapkan menghasilkan senyawa yang kurang berbahaya, karena e-liquid secara formal hanya mengandung propilen glikol, gliserin nabati, perasa, dan nikotin jika tersedia. Faktanya, dalam sebuah penelitian baru-baru ini penggunaan rokok elektrik jangka panjang ditemukan terkait dengan tingkat karsinogen dan racun yang berkurang secara substansial sehubungan dengan merokok rokok konvensional (Scungio, et al., 2018). Ditemukan bahwa konsentrasi partikel yang dikeluarkan oleh rokok konvensional, menghasilkan empat kali lebih banyak partikel daripada yang dikeluarkan oleh rokok elektrik dan perangkat panas yang tidak membakar (Scungio, et al., 2018).

Pengguna rokok elektrik pada umumnya terpapar pada konsentrasi jumlah partikel yang hampir sama dengan perokok konvensional, tetapi konsentrasi luas permukaan yang sesuai lebih tinggi untuk rokok konvensional karena model partikelnya yang lebih tinggi (berasal dari pembakaran padat). Sementara rokok elektrik, aerosol berasal dari penguapan cairan yang terkandung di dalam tangki. Kehadiran nikotin dalam rokok elektrik menyebabkan peningkatan jumlah partikel dan konsentrasi luas permukaan, akibatnya partikel yang memiliki kandungan lebih tinggi dibanding dengan rokok elektrik tanpa nikotin (Scungio, et al., 2018).

Penggunaan rokok elektrik dikenal sebagai alternatif rokok konvensional (Scungio, et al., 2018). Meskipun demikian, efek kesehatan dari paparan rokok elektrik, terutama paparan kanker paru-paru kronis, masih belum pasti. Namun, rokok elektrik mengeluarkan karbonil yang mudah menguap, spesies oksigen reaktif, dan logam, banyak di antaranya beracun bagi paru-paru (Eaton, et al, 2018). Analisis pada penelitian yang dilakukan oleh Anusha, et al (2022), menunjukkan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi terkena kanker dibandingkan non-perokok. Sedangkan perokok konvensional memiliki peluang 1,96 lebih tinggi terkena kanker dibandingkan dengan bukan perokok. Tidak hanya itu, studi yang dilakukan oleh Anusha, et al (2022), menemukan bahwa pengguna rokok elektrik memiliki serangan kanker pada usia dini serta kemungkinan lebih tinggi terkena kanker dibandingkan dengan non-perokok. Akan tetapi, mengingat periode jeda antara paparan karsinogen dan keganasan fatal, terdapat kemungkinan bukti konkrit sulit didapatkan untuk periode waktu selanjutnya yang signifikan (Kapoor, et al., 2021).

Penggunaan rokok dapat merugikan bagi pengguna maupun lingkungan sekitarnya. Pada perokok pasif, asap rokok mengandung polutan kimia yang berbahaya serta karbon monoksida bekas pengguna rokok. Tidak hanya itu, rokok elektrik memungkinkan pengguna untuk mengatur hasil kepekatan aerosol melalui jumlah daya yang digunakan. Mekanisme pemanasan pada rokok elektrik dapat berisiko menyebabkan paparan logam berbahaya pada aerosol yang dihasilkan. Rokok konvensional dan rokok elektrik keduanya mampu menyebabkan tingginya risiko perkembangan kanker paru-paru pada perokok pasif, yang disebabkan bahan kimia karsinogenik pada kandungannya. Pengguna rokok elektrik pada umumnya terpapar pada konsentrasi jumlah partikel yang hampir sama dengan perokok konvensional. Akan tetapi, gas polutan yang dihasilkan rokok konvensional memiliki partikel polutan yang lebih pekat akibat asap yang dihasilkan melalui pembakaran padatan rokok. Ditemukan bahwa konsentrasi partikel yang dikeluarkan oleh rokok konvensional menghasilkan partikel empat kali lebih pekat daripada yang dikeluarkan oleh perangkat elektrik. Ditemukan dalam beberapa studi rokok elektrik memiliki risiko lebih tinggi dalam menyebabkan kanker paru-paru. Maka dari itu, diperlukan perhatian untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan penggunaan produk rokok elektrik dan tidak mengabaikan potensi risiko kesehatan dari rokok elektrik.

Jeremy Andreas | Ridho Fathan Anandri

Pos terkait