Perempuan, Kau Istimewa Karena Kelembutan dan Kekuatan Hatimu!

Merasa bahagia disetiap waktu adalah sebuah keinginan bagi setiap orang. Semua orang berlomba untuk mendapatkannya, bahkan tak jarang banyak orang menghalalkan berbagai macam cara demi arti bahagia itu sendiri. Terutama untuk “Wanita”. Dengan berbagai keunikannya, tentu menjadikannya sebuah hal yang perlu disyukuri. Namun, tidak semua wanita mampu mensyukuri dengan apa yang telah Tuhan beri pada dirinya.

Menjadi cantik mungkin adalah sebuah kebahagiaan terbesar untuknya. Namun, bahkan mereka sendiri tidak tahu apa arti cantik yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka menuntut bahwa cantik adalah tentang fisik, kulit harus putih, rambut panjang, hidung mancung, serta tubuh yang langsing. Namun sebenarnya, cantik adalah bagaimana ia mampu menjaga hatinya agar tetap berimbang dan tegar ketika masalah demi masalah menerpanya.

Wanita bukanlah makhluk yang cengeng, mudah berubah mood setiap waktunya tanpa alasan yang logis. Wanita bukanlah tubuh yang tersusun dari tulang-tulang yang kropos, bersifat ringkih, yang sedikit-sedikit mudah goyah dan mudah jatuh. Mereka akan tetap bertahan meski ribuan masalah menerpa dirinya. Wanita adalah makhluk istimewa di muka bumi ini.

BACA JUGA:  Tinjauan Hukum pada Akad Ju’alah

Tidak semua wanita sama. Benar adanya jika rupa sama, bentuk tubuh sama, namun tentang isi hati tentulah tidak sama. Mereka memiliki keistimewaan tersendiri. Dan bukankah keistimewaan itu adalah hal yang patut disyukuri? Hanya wanita yang mampu bersyukurlah yang akan merasakan nikmatnya kebahagiaan.

“Mereka bilang kamu cantik, andai badanmu lebih langsing lagi.”, “Lemak diperutmu masih menggelambir, kamu wajib diet. Potong jatah makanmu, olahraga tiap sore!”, “Tapi terlalu ceking juga gak enak dipandang, kamu keliatan seperti orang sakit dan kurang gizi.” “Mereka bilang kamu cantik, andai riasan wajahmu gak terlalu menor. Cantik itu mesti terlihat natural, tapi natural bukan berarti bebas dari makeup, nanti wajahmu pucat siapa yang mau menatap?”, “Mereka bilang kamu cantik andai kulitmu putih. Eh tapi jangan terlalu putih nanti pucat seperti mayat.”, “Kamu cantik juga, andai terlihat eksotis. Tapi jangan terlalu banyak berjemur nanti kulitmu malah coklat, kumal, bahkan hitam legam dan sudah pasti itu gak cantik!”, “Mereka bilang kamu cantik, andai rambutmu hitam berkilau, panjang dan lurus. Rambut kriting membuat wajahmu jadi terlihat lebih bulat.”, “Kamu gak cocok rambut panjang, wajahmu terlihat tenggelam. Eh tapi jangan dipotong terlalu pendek! Rela dikira kaya cowok?”

BACA JUGA:  Pasar Tradisional, Tetap Bernilai Meskipun Tergerus Modernisasi

“Si hitam!” “Si kriting!” “Si gimbal!” “Si kribo!” Dengan entengnya mereka memberi julukan itu. Coba bayangkan, betapa menjenuhkannya bila semua wanita harus punya rambut yang lurus, hitam dan panjang. Tak ada yang harus seragam pada penampilan setiap orang. Wanita dibekali sesuatu yang seringkali lebih cantik dari yang mereka duga. Kenapa harus terganggu oleh ekspetasi-ekspetasi orang lain?

Kekayaan ekspresi itu mempunyai pesonanya sendiri. Penampilan bukan sekedar estetika belaka, melainkan identitas yang melekat kuat. Warna rambut menggambarkan kepribadian, gaya rambut menunjukkan keseharian, bahkan seuntas rambut sebenarnya bisa mengungkap asal-usul kita. Rambut bukan benar-benar mahkota, apabila perempuan tidak bisa percaya diri dalam mengekspresikannya.

Mayoritas perempuan ingin tampil cantik dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang penting jangan mau didikte oleh ukuran cantik yang dibuat orang lain. Ambil definisi kecantikanmu sendiri. Standar kecantikan yang tak memanusiakan kita sebagai perempuan sudah seharusnya ditinggalkan . Yang lebih penting lagi, sudah saatnya kecantikan diperluas tidak hanya tentang sesuatu yang bersifat bawaan dari lahir, karena itu akan membuat kecantikan semata-mata hanya kata benda. Kecantikan seharusnya juga kata kerja. Seseorang menjadi cantik karena tindakannya, karena perbuatannya, karena aktivitasnya. Barangsiapa yang mampu berbuat baik kepada sesama, sanggup menggerakkan sekitar untuk melakukan hal-hal bajik, bisa memperlihatkan kerja-kerja kongkrit yang mengubah dan menggubah, itulah secantik-cantiknya perempuan.

BACA JUGA:  8 Alasan Mengapa Harus jadi Pebisnis

Kecantikan tak semata kualitas bawaan yang melekat pada seseorang, melainkan juga energi yang menyebar dan dirasakan di sekelilingnya. Dengan itulah kecantikan akhirnya menjadi berdampak. Cantik itu berani punya mimpi dan ambisi, tapi juga kemurahan hati dan empati. Sebab, perempuan memang bukan pemandangan, dan kecantikan bukan untuk diperlombakan.

Dhea Sri Amelia

Pos terkait