Perilaku Konsumtif K-Popers

DEPOKPOS – K-popers merupakan sebutan untuk sekelompok orang yang menyukai idol dan lagu-lagu bergenre korean pop. Rasa suka K-popers terhadap sang idola membuat mereka dikenal sebagai kelompok yang sangat loyal terhadap idola mereka.

Saking sukanya mereka terhadap sang idola, K-popers secara aktif mendukung karya-karya yang diciptakan idola mereka dengan tidak segan-segan untuk mengeluarkan dana dalam jumlah besar demi mendukung keberhasilan idola mereka.

K-popers dapat membeli barang dengan jumlah banyak secara terus menerus, bahkan bisa dibilang sampai tidak memikirkan risiko keuangan mereka sendiri. Perilaku konsumtif ini sulit untuk dikontrol. Contohnya seperti membeli album, merchandise, dan menonton konser.

Mereka rela membeli puluhan atau ratusan merchandise demi memenangkan undian untuk bertemu idolanya. Photocard dengan harga puluhan ribu sampai jutaan pun selalu laku di pasaran karena banyaknya K-popers yang tidak ingin ketinggalan koleksi terbaru dari idola mereka. Pakaian-pakaian serta aksesoris yang dipakai sang idola juga menjadi incaran mereka.

BACA JUGA:  Menyambut Ramadhan, Meraih Ketaatan

Dari hal-hal ini, banyak orang menganggap bahwa menjadi K-popers bukan hanya untuk kesenangan semata. Dengan demikian, K-popers saat ini tidak lagi memiliki perasaan excited dalam mendukung idolanya melainkan dipenuhi ambisi untuk menjadi “Si Paling K-popers”.

Berdasarkan kasus-kasus yang sempat ramai di media sosial, ada banyak dampak buruk yang ditimbulkan konsumtif K-popers, seperti mudah tertipu oleh akun GO (group order) atau SBT (sell buy trade). GO atau Group Order dalam dunia K-Pop merupakan praktik di mana sekelompok penggemar mengumpulkan pesanan kolektif untuk produk atau barang resmi dari artis atau grup K-Pop tertentu. S

edangkan akun SBT atau sell buy trade adalah akun yang digunakan untuk menjual, membeli, dan saling menukar merchandise atau printalan K-Pop antar sesama K-popers.

BACA JUGA:  Pembangunan SDM Menjadi Mesin Produksi Yang Utama Indonesia

Pembeli biasanya diminta melakukan pembayaran terlebih dahulu sebelum penjual mengirim video berisi kondisi barang yang akan diperjual belikan. Lalu setelah penjual menerima uang, mereka akan menmbawa uang si pembeli dan tidak mengirimkan barang tersebut ke si pembeli.

Ada juga akun-akun yang membuka jasa pemesanan tiket konser, bahkan menjual ulang tiket konser tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Penjual tersebut biasa disebut calo. Seperti pada penipuan GO, pembeli tidak akan menerima tiket konser itu.

Namun, di beberapa kasus ada juga penjual yang menjual satu tiket ke beberapa orang. Saat si pembeli melakukan penukaran tiket dari web ke tiket fisik, tiket mereka akan dinyatakan telah dipakai oleh orang lain, sehingga mereka tidak dapat masuk ke dalam venue.

Sebagai K-popers, sebenarnya tidak apa untuk tidak selalu mengikuti, apalagi membeli semua merchandise idolamu. Kita harus bisa membatasi pengeluaran dan jangan memaksakan diri.

BACA JUGA:  Ruwahan Betawi: Tradisi Selametan di Betawi yang Nyaris Tak Terdengar

Hal ini bisa dimulai dengan memilah barang yang benar-benar disukai, sehingga tidak perlu sampai melengkapi template merchandise yang tersebar di media sosial. Selain itu, saat ingin melakukan transaksi juga harus pintar mencari toko atau akun yang dapat dipercaya, lalu pastikan toko memiliki bukti otentik yang dapat dipercaya.

Masalah calo konser yang menjual harga selangit dan rawan penipuan pun patut diwaspadai dan dihindari. Jangan asal membeli dan membuang uang berkali-kali lipat demi idolamu, apalagi itu uang yang sudah susah-susah kamu tabung.

Walaupun sesuka itu kepada sang idola, ketahui batasanmu dan jangan menghalalkan segala cara demi mereka.

Arti Setya Utami, siswa SMAN 15 Kota Bekasi

Pos terkait