Pernikahan Dini dalam Islam Menurut Perspektif Psikologi

Pernikahan Dini dalam Islam Menurut Perspektif Psikologi

DEPOK POS – Dalam kompilasi hukum islam dijelaskan bahwa perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang kuat atau mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Terdapat firman Allah dalam Al-qur’an surah Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Para ulama berbeda pendapat dalam hal pernikahan dini, dalam buku Fiqih Perempuan, menurut Imam Hanafi pernikahan dini ialah yang dilakukan seseorang pada usia dibawah 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi wanita. Sedangkan menurut Imam Syafi’I pernikahan dini ialah yang dilakukan seseorang pada usia 15 tahun. Dalam islam tidak ada batasan usia dalam pernikahan, seseorang dikatakan boleh menikah ketika orang tersebut sudah baligh.

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang usia nya masih dibawah umur biasanya dibawah 17 tahun. Baik laki-laki atau wanita jika belum cukup umur (17 tahun) melangsungkan pernikahan maka dapat dikatakan sebagai pernikahan dini. Menurut Konopka, pernikahan dini merupakan pernikahan yang dimulai pada usia 16 tahun dan diakhiri pada usia 20 tahun, atau yang masih bersekolah dan disebut sebagai remaja. Sedangkan pernikahan yang ideal adalah laki-laki berusia 25 tahun keatas dan wanita berusia 20 tahun keatas.

Pernikahan hakikatnya adalah bersatunya dua insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang suci, yang mengandung arti sakral dan janji di hadapan Allah dalam membangun rumah tangga yang baik dan harmonis. Apabila seseorang sudah berani untuk memutuskan menikah, ia harus siap baik secara mental, fisik maupun material. Dalam suatu pernikahan mempunyai tujuan, yaitu ingin membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah dan mendapatkan keturunan yang shalih dan shalihah. Pernikahan merupakan hal yang penting, karena dengan menikah seseorang akan mendapatkan keseimbangan hidup secara psikologis, biologis, maupun secara sosial. Secara psikologis, kematangan mental dan kestabilan emosi juga turut menentukan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. Pada aspek kognitif anak dan remaja masih memiliki wawasan yang belum cukup luas, kemampuan memecahkan masalah dan pengambilan keputusan belum cukup matang berkembang.

BACA JUGA:  Globalisasi Terhadap Limbah Perusahaan

Menikah di usia yang terlalu muda juga meningkatkan risiko perceraian karena tidak stabilnya emosi dan kurangnya rasa tanggung jawab. Secara biologis, kebutuhan nafkah batin seperti seksual terpenuhi dari kedua belah pihak. Secara sosiologis, dalam pernikahan menjadikan laki-laki dan perempuan dikatakan sah sebagai pasangan suami istri secara hukum negara maupun agama.

Pernikahan dini dalam konteks pendidikan anak, usia seorang ibu yang terlalu muda dapat mengakibatkan kurangnya kesiapan dalam melahirkan dan bisa sulit untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas. Kedewasaan pada diri seorang ibu juga sangat mempengaruhi perkembangan anaknya. Dalam perspektif psikologis seorang wanita yang sudah dewasa dan siap menjadi ibu, secara umum akan lebih terkendali emosional maupun tindakan nya terhadap anak-anaknya dibandingkan dengan para ibu yang usianya masih terlalu muda. Hal-hal seperti ini akan berdampak terhadap pembentukan karakter anak tersebut. Usia seorang ibu juga bisa mempengaruhi aspek psikologis pada anak. Seorang ibu yang usianya masih terbilang cukup muda sepertinya belum memiliki keterampilan dalam mengasuh anak. Sifat-sifat ibu muda pada umumnya ialah memiliki emosional yang kurang stabil sehingga bisa saja mengalami baby blues syndrome pasca melahirkan. Baby blues yaitu suatu gangguan suasana hati atau gangguan psikologis yang dialami seorang wanita di masa awal-awal melahirkan. Oleh karena itu, sangat penting memperhatikan usia seseorang yang akan menikah.

BACA JUGA:  Mengikuti Tren Fashion yang Sesuai Dengan Adab Berpakaian dalam Islam

Dari sudut pandang psikologi sosial maupun hukum islam pernikahan dini dibagi menjadi dua golongan, pertama pernikahan dibawah umur asli yaitu pernikahan dini yang benar-benar murni dilakukan oleh kedua belah pihak untuk menghindarkan diri dari dosa tanpa adanya maksud, hanya untuk menutupi perbuatan zina. Kedua, pernikahan dini palsu yaitu pernikahan dini yang pada hakikatnya dilaksanakan sebagai menutupi kesalahan mereka dalam hal ini orang tua juga ikut serta.

Menurut Hurlock, bahwa seseorang dikatakan dewasa apabila sudah mencapai 25 tahun bagi laki-laki dan 21 tahun bagi wanita. Namun jika dilihat dari perspektif psikologis usia remaja belum bisa dikatakan matang, karena usia remaja mempunyai kepribadian yang masih labil, dan usia remaja pada umumnya belum mempunyai pegangan dalam hal sosial. Apabila suatu pernikahan dilakukan oleh seseorang yang memiliki umur relatif muda maka hal itu dapat dikatakan dengan pernikahan dini. Umur yang relatif muda tersebut adalah usia pubertas, yaitu usia antara 10-19 tahun.

Menurut Alfiyah (2010) faktor penyebab dari pernikahan dini :

a. Ekonomi

Pernikahan dini terjadi karena adanya keluarga yang hidup digaris kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

BACA JUGA:  Membangun Kebiasaan Hidup Sehat

b. Pendidikan

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan menikahkan anaknya yang masih dibawah umur.

c. Faktor Orang Tua

Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera menikahkan anaknya.

d. Media Massa

Gencarnya expose seks dimedia massa menyebabkan remaja modern menjadi permisif terhadap seks.

Dampak dari pernikahan dini :

1. Bayi Prematur

Ibu berusia remaja lebih berisiko melahirkan bayi prematur. Kehamilan yang sehat berlangsung selama 40 minggu, sementara bayi prematur lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Ini yang membuat bayi prematur terkadang memiliki tubuh dan perkembangan otak yang belum lengkap, sehingga berdampak pada kesehatannya seumur hidup.

2. Bayi rentan mengalami BBLR

Remaja juga memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi BBLR umumnya mengalami kesulitan bernapas dan menyusu sehingga lebih rentan mengalami masalah tumbuh kembang, seperti stunting. Berat badan lahir rendah juga dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, sehingga mengakibatkan anak mengalami kesulitan belajar nantinya.

3. Depresi pasca persalinan

Remaja yang hamil tercatat berisiko dua kali lebih mungkin mengalami depresi pasca-melahirkan dibandingkan ibu-ibu hamil yang sudah dewasa. Depresi pasca-melahirkan memiliki gejala lebih parah dari baby blues, seperti ibu enggan melakukan aktivitas sehari-hari, sedih terus-menerus, khawatir berlebihan, menangis secara berlebihan, dan sebagainya. Gejala baby blues bisa hilang setelah beberapa minggu, namun gejala depresi bisa berlangsung lama, bila tidak segera diatasi.

Dinda Putri Ashya
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta

Pos terkait