Pernikahan Dini dan Dampaknya Bagi Kesehatan Psikologis

Pernikahan Dini dan Dampaknya Bagi Kesehatan Psikologis

 

Pernikahan adalah kewajiban setiap orang dalam setiap ajaran agama. Dalam setiap ajaran agama, perkawinan memiliki arti yang suci atau sakral, dengan tujuan utama untuk menciptakan keluarga yang bahagia. Allah menciptakan pria dan wanita untuk saling terikat dan kemudian menikah.

(Muhammad Zain dan Mukhtar Alshodiq: 2005) tujuan perkawinan dalam Islam adalah :

1. Mewujudkan kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera (sakinah) berdasarkan cinta (mawaddah dan rahmah)
2. Memenuhi kebutuhan biologis secara legal, sehat, aman, nyaman dan bertanggung jawab.
3. Menjaga hawa nafsu
4.Menjaga kelangsungan hidup manusia serta martabat dan kemurnian generasinya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang bahagia, memenuhi kebutuhan biologis secara sah, menjaga syahwat dan memiliki keturunan. Semuanya jelas mengarah pada keinginan seseorang untuk hidup lebih bahagia dan sejahtera. Memulai sebuah keluarga harus dipersiapkan dengan matang, dan pasangan yang akan memulai sebuah keluarga harus matang, siap secara fisik dan psikologis serta bertanggung jawab.

Bab II Undang-undang membahas syarat-syarat perkawinan, yaitu Pasal 6(1), yang mensyaratkan persetujuan kedua orang tua bagi mereka yang berusia di bawah 21 tahun. Bagian 7(1) dari Undang-undang yang sama mensyaratkan usia minimum untuk menikah, yaitu. 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria, dengan demikian menunjukkan bahwa mereka yang berusia di bawah 21 tahun dianggap anak di bawah umur atau belum “dewasa” dan belum memenuhi syarat untuk menikah.

BACA JUGA:  Maraknya Kasus Pelecehan Seksual

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini adalah :

1. Faktor ekonomi

Ekonomi yang rendah menjadi salah satu penyebab seseorang menikah dini. Karena ketika orang tua gagal memenuhi kebutuhan anak-anaknya, itu mengarah pada kemiskinan. Orang tua berpikir bahwa jika mereka menikahkan anak mereka, mereka dapat mengubah keadaan, dan orang tua berharap dengan menikahkan mereka, mereka dapat memberikan kehidupan yang lebih baik.

2. Faktor Pendidikan

Pendidikan yang rendah tentunya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pernikahan dini, karena pendidikan mempengaruhi cara berpikir tentang diri sendiri, orang tua dan masyarakat sekitar.

3. Faktor pengetahuan

Faktor pengetahuan sangat besar pengaruh bagi pelakunya, karena dengan bantuan ilmu ia memahami makna pernikahan, khususnya pada pernikahan dini. Pengetahuan yang rendah menyebabkan terjadinya pernikahan dini karena tidak adanya pengetahuan tentang resiko pernikahan dini dan kesiapan membangun rumah tangga.

4.Faktor pergaulan bebas

BACA JUGA:  Kesejahteraan dalam Ekonomi Islam

Faktor ini muncul ketika orang tua tidak memperhatikan anak dan mencari kebahagiaannya sendiri. Anak bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang dan perilaku sehari-hari. Terjadinya hamil diluar nikah dan dengan terpaksa untuk melakukan pernikahan diusia yang masih muda

5. Faktor budaya atau adat istiadat

Perkawinan remaja di Indonesia terkadang sangat erat kaitannya dengan adat. Misalnya, pernikahan yang diatur oleh orang tuanya sejak kecil. Beberapa daerah, terutama pedesaan, menggunakannya karena takut anaknya menjadi perawan tua, sehingga mereka akhirnya mengawinkan anaknya ketika sudah menstruasi, yaitu sekitar usia 12 tahun. Perjodohan ini diatur oleh orang tuanya untuk membuatnya tetap terikat pada ikatan keluarga antara dua belah pihak yang memang sudah diinginkan agar hubungan kekeluargaan mereka tidak putus.

Kesehatan jiwa atau psikologis adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan jiwa berupa neurosis dan psikosis (adaptasi dengan lingkungan sosial). Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa. Orang yang sehat jiwanya tidak mudah terganggu oleh stressor (penyebab stress). Pikiran yang sehat berarti kemampuan untuk menahan tekanan dari diri sendiri maupun dari lingkungan.

Anak yang secara belum mempunyai kesiapan untuk menikah dan dipaksa, maka kerap kali akan mudah mengalami stress, karena banyaknya tekanan-tekanan yang ada salah satu dipaksa untuk menikah, anak tersebut tidak memiliki keinginan untuk menikah dengan adanya paksaan tersebut membuat ia tertekan dan stress.

BACA JUGA:  Kreativitas dan Inovasi dalam Wirausaha

Tidak hanya itu pernikahan dini yang terjadi karena faktor pergaulan bebas juga dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan psikologis perempuan, salah satunya karena hamil diluar nikah, karena ia belum memiliki banyak pengetahuan tentang kehidupan setelah menikah, ia binggung langkah yang harus dilakukannya, tidak jarang banyak orang yang hamil diluar nikah berpikiran untuk mengugurkan kandungannya. Dengan itu perempuan yang menikah diusia dini sangat rentan terkena dampak psikologis bagi kesehatannya menimbulkan beberapa gejala seperti kecemasan,depresi hal tersebut terjadi karena bebrapa factor yang terjadi diluar nikah.

Tidak hanya pada perempua, pernikahan usia dini juga dapat dirasakan dampak psikologisnya bagi laki-laki, karena setelah menikah laki-laki wajib menafkahi istri dan anak-anaknya, karena ia belum cukup persiapan secara matang, maka kerap kali merasa cemas dan depresi, karena tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Abelia Putri
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta

Pos terkait