Pernikahan Dini, Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

Pernikahan Dini, Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

DEPOK POS – Pernikahan dini sudah sangat marak sejak dahulu, hanya saja dulu menikah dini seakan hal yang lumrah sehingga orang-orang menganggapnya biasa karena belum adanya media sosial yang menampilkan berita yang heboh mengenai pernikahan dini.

Berbeda dengan saat ini, banyak sekali orang yang sudah paham jika pernikahan dini mempunyai banyak dampak buruk, selain itu berita pernikahan dini cepat tersebar karena media sosial.

Pernikahan dini tetap marak karena bagi calon pengantin yang dibawah umur tetap bisa menikah dengan menggunakan surat dispensasi. Menurut WHO, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh sepasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan sebagai anak-anak atau remaja yang berusia dibawah usia 19 tahun.

Pernikahan dini umumnya terjadi karena emosi dan perasaan mengalahkan logika dan visi masa depan, otak kanan yang jauh lebih mendominasi pengambilan keputusan dibanding otak kiri dan bisa jadi esensi pernikahan yang sebenarnya belum dipahami kedua pasangan.

Faktor terjadinya pernikahan dini:

1) Faktor Ekonomi.

Pernikahan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup digaris kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dinikahkan dengan orang yang dianggap mampu.

BACA JUGA:  Pentingnya Disiplin Waktu bagi Mahasiswa

2) Faktor Pendidikan.

Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak, dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan melakukan pernikahan di usia muda.

3) Faktor Kecelakaan.

Ada beberapa kasus, diajukannya pernikahan karena anak-anak telah melakukan hubungan biologis layaknya suami istri. Dengan kondisi seperti ini, orang tua anak perempuan cenderung segera menikahkan anaknya, karena menurut orang tua anak gadis ini sudah tidak perawan lagi, dalam hal ini dianggap aib.

4) Faktor Kebiasaan. Pernikahan dini terjadi karena orangtua yang takut anaknya dikatakan perawan tua, sehingga segera menikahkan anaknya.

Berikut beberapa pengaruh pernikahan dini terhadap kesehatan mental dalam kehidupan rumah tangga:

1. Kesejahteraan psikologis terganggu

Pernikahan dini sangat merusak kesejahteraan psikologis. Hal ini dapat menimbulkan terjadinya stres, depresi, kecemasan, dan perceraian. Pada umumnya pasangan remaja kurang memahami arti sebuah pernikahan, kebanyakan dari mereka melakukan pernikahan hanya semata-mata karena cinta dan dorongan dari orang tua agar anaknya lekas menikah.

BACA JUGA:  Gen Z dan Peran Mereka dalam Transformasi Ekonomi Indonesia

2. Perkembangan identitas menjadi lambat

Perkembangan identitas individu dalam pernikahan dini menjadi relatif lambat. Adanya kegagalan dalam menjalani peran sebagai istri, suami, dan orang tua menjadi suatu permasalahan yang muncul dalam rumah tangga. Respon saat seseorang mendapatkan permasalahan dalam rumah tangganya menunjukan bahwa orang tersebut belum siap untuk menjadi lebih dewasa.

3. Belum matangnya emosi

Perubahan emosi dialami oleh setiap orang, hal ini muncul karena setiap orang mengalami permasalahan dalam kehidupannya. Belum matangnya emosi menjadikan pasangan remaja tersebut belum dapat memahami satu sama lain. Sehingga muncul berbagai konflik yang memicu pertengkaran antar keduanya.

Tidak mau mengalah dalam permasalahan rumah tangga dan permasalahan yang disertai dengan kekerasan dapat menjadi suatu pengalaman buruk bagi individu karena meninggalkan perasaan sakit hati dan kesan negatif terhadap permasalahan tersebut, sehingga dapat menimbulkan stress bagi pasangan remaja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2021, angka perkawinan anak (pernikahan dini) di Indonesia mengalami penurunan dari 10,35 persen pada tahun 2020 menjadi 9,23 persen pada tahun 2021. Hal tersebut tentu saja merupakan kemajuan yang baik guna mengurangi dampak gangguan kesehatan mental pada anak yang melakukan pernikahan dini.

BACA JUGA:  Mengenal Akad Ariyah

Namun, tetap perlu dilakukan upaya bersama-sama agar kasus pernikahan dini di Indonesia terus berkurang setiap tahun nya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kasus pernikahan dini yaitu dengan memberikan pendidikan atau pengetahuan melalui program penyuluhan dari pemerintah.

Pemerintah tentu memiliki kewajiban untuk berkontribusi dalam mengurangi angka kasus pernikahan dini di Indonesia. Selain pemerintah tenaga ahli seperti dokter, psikolog, guru atau dosen juga diperlukan untuk memberikan penyuluhan terkait dampak pernikahan dini bagi kesehatan anak khususnya kesehatan mental remaja yang melakukan pernikahan dini.

Kemudian yang paling penting adalah peran orang tua dalam mengawasi dan menjaga anak nya supaya terhindar dari pernikahan dini.

Maya Yanisha, Dellya Maramis betavya viart’s putri, Salsabila Anugrah Purnama
Fakultas Psikologi sikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

Pos terkait