Perubahan Iklim dan Ancaman Penyakit Tular Vektor di Indonesia

Perubahan Iklim dan Ancaman Penyakit Tular Vektor di Indonesia

DEPOK POS – Perubahan iklim merupakan kondisi berubahnya iklim, suhu udara, dan curah hujan yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida dan gas lainnya di atmosfer sehingga menimbulkan efek gas rumah kaca (KLHK, 2017). Efek rumah kaca menyebabkan panas bumi terperangkap sehingga suhu bumi meningkat dan berdampak pada banyak sektor. Hal ini biasa kita kenal dengan pemanasan global. Menurut United Nations, saat ini bumi sedang mengalami pemanasan tercepat dalam sejarah. Selain itu, cuaca ekstrem dan bencana alam menjadi lebih kuat dan sering terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia. Menurut para ahli, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang merasakan dampak ekstrem dari perubahan iklim. Beriklim tropis dan dilewati garis khatulistiwa, kenaikan suhu bumi akan berdampak besar pada banyak sektor di Indonesia. Menurut data BMKG, anomali suhu udara Indonesia pada bulan November 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-27 sepanjang periode data pengamatan sejak tahun 1981.

Penyebab Perubahan Iklim

Pada dasarnya, iklim berubah secara terus-menerus akibat dari interaksi antar komponennya dan faktor eksternal, seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan hal lainnya. Namun, naiknya suhu bumi secara ekstrem beberapa dekade terakhir yang menyebabkan perubahan iklim juga tidak lepas dari ulah tangan manusia. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) juga menekankan bahwa perubahan iklim disebabkan baik secara langsung atau tidak lansung oleh aktivitas manusia. Beberapa penyebab dari perubahan iklim yang didasari oleh aktivitas manusia di antaranya adalah penggunaan bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas alam untuk menghasilkan energi listrik dan energi panas, penebangan hutan, penggunaan transportasi, penggunaan energi berlebihan, industri pertambangan dan manufaktur barang, dan lainnya. Beberapa hal tersebut dalam prosesnya menghasilkan banyak emisi karbon dioksida, metana, dan emisi gas rumah kaca lain yang pada akhirnya menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Dampak Perubahan Iklim

Ancaman yang timbul akibat perubahan iklim bukanlah sesuatu yang dapat diremehkan. Mulai dari lingkungan hingga kesehatan manusia, semua akan terkena dampaknya (World Bank, 2020). Suhu permukaan bumi yang semakin memanas setiap dekadenya membuat peristiwa kebakaran hutan dan melelehnya es di Antartika menjadi sesuatu yang tidak asing. Kekeringan yang melanda berbagai daerah di belahan dunia juga menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Terjadi pula kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh adanya peningkatan suhu. Pada akhirnya, semua ancaman akibat perubahan iklim tersebut akan berdampak terhadap kesehatan manusia. Polusi udara, peristiwa cuaca ekstrem, kekurangan akses air bersih, kelaparan dan gizi buruk, hingga meningkatnya kasus-kasus penyakit, semuanya terdampak akibat perubahan iklim.

BACA JUGA:  Mengenal Lebih Jauh Tuberkulosis (TBC)

Indonesia sebagai negara dengan musim hujan dan musim kemarau tentunya sangat terdampak dengan adanya perubahan iklim, terutama cuaca ekstrem. Kondisi lingkungan yang ada sangatlah menguntungkan bagi vektor-vektor pembawa penyakit. Sebut saja penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, filariasis, dan penyakit-penyakit tular vektor yang namanya semakin dikenal dengan adanya perubahan iklim (Dinas Kesehatan Kulon Progo, 2014). Hal ini dikarenakan lingkungan memiliki kontribusi terbesar dalam status kesehatan seseorang, yaitu sekitar 45%.

Penyakit Tular Vektor

Vectorborne diseases atau penyakit tular vektor merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor yang membawa agen penyakit (Kemenkes RI, 2017). Yang tergolong vektor antara lain nyamuk, lalat, kecoa, pinjal, dan tikus. Di Indonesia, vektor yang paling banyak menyebabkan masalah kesehatan adalah nyamuk. Contoh penyakit akibat vektor nyamuk antara lain Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, chikungunya, dan japanese encephalitis. Selain itu, penyakit pes dan filariasis juga merupakan penyakit tular vektor yang merupakan masalah kesehatan di Indonesia.

Pada awal tahun 2022, tercatat ada 13.776 kasus DBD di Indonesia. Tingginya kejadian DBD ini bertepatan dengan musim penghujan di Indonesia (Kemenkes RI, 2022). Penyakit malaria juga masih memiliki prevalensi yang tinggi. Malaria menjadi penyakit endemis di beberapa daerah di Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Pada tahun 2020, tercatat ada 237,5 ribu kasus malaria di Indonesia (Kemenkes RI, 2021). Kasus chikungunya di Indonesia juga tergolong tinggi dengan jumlah 5042 kasus sepanjang tahun 2019 (Kemenkes RI, 2022).

Japanese encephalitis juga tergolong masalah kesehatan masyarakat di Asia, termasuk Indonesia. Pada tahun 2016, diperkirakan terdapat 326 kasus Japanese encephalitis di Indonesia. Penyakit pes terakhir kali ditemukan di Indonesia pada tahun 2007, namun surveilans penyakitnya tetap berjalan di wilayah yang pernah terkena penyakit pes. Penyakit filariasis juga perlu menjadi perhatian dengan kasusnya yang sudah muncul di 236 kabupaten/kota di Indonesia. Dengan adanya perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, Indonesia pun semakin kesulitan dalam menangani masalah penyakit tular vektor ini.

BACA JUGA:  Benarkah Daun Salam dapat Menurunkan Kolestrol?

Perubahan iklim yang terjadi memiliki dampak terhadap penyakit menular, khususnya penyakit tular vektor. Pola cuaca yang berubah dan peristiwa cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Beberapa penyakit hanya terjadi pada daerah dengan iklim tropis. Namun, dengan adanya perubahan pada pola cuaca, penyakit tersebut dapat tersebar ke daerah lain. Peningkatan suhu dan curah hujan juga membuat daerah tersebut menjadi lebih rentan untuk terinfeksi penyakit. Selain meningkatkan kerentanan pada lingkungan, perubahan iklim juga meningkatkan kerentanan manusia sebagai host penyakit. Sebuah studi dari John Hopkins University mengungkapkan bahwa adanya pemanasan global dapat melemahkan mekanisme pertahanan tubuh manusia. Polusi udara yang semakin tidak terkendali juga dapat memengaruhi kesehatan yang akhirnya melemahkan daya tahan tubuh manusia pula.

Upaya Penanggulangan Penyakit Tular Vektor

Untuk mengatasi penyakit akibat tular vektor, pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah melakukan beberapa upaya. Upaya preventif yang dilakukan berupa pengendalian vektor yang dilaksanakan di tingkat pusat dan daerah. Pemerintah Indonesia sendiri lebih banyak menggunakan metode pengendalian secara kimia dengan cara fogging (Kemenkes RI, 2017). Pemerintah juga mengupayakan pelaksanaan surveilans vektor untuk memantau perkembangan penyakit.

Selain itu, pencegahan dan penanganan penyakit berbasis vektor juga membutuhkan partisipasi masyarakat secara menyeluruh. Tentunya, partisipasi masyarakat dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan yang memperkecil angka terjadinya penyakit berbasis vektor. Partisipasi masyarakat dapat terlihat dari upaya-upaya menjaga diri dan lingkungan sekitar seperti mencegah adanya genangan air di lingkungan rumah, menguras bak mandi, memakai baju lengan panjang dan spray anti serangga, modifikasi lingkungan dengan melakukan 3M (menguras, mengubur, menutup), pengendalian fisik dengan memasang kelambu dan kawat nyamuk pada lubang-lubang di sekitar rumah, pengendalian kimia dengan melakukan fogging dan memberantas larva nyamuk, dan menyediakan juru dan kader pemantau jentik. Melalui partisipasi masyarakat, diharapkan dapat mengendalikan dan mengurangi angka penyakit berbasis vektor dari lingkup terkecil.

BACA JUGA:  Protein Hewani Efektif Cegah Anak Alami Stunting

Sayangnya, upaya pengendalian vektor khususnya vektor nyamuk masih belum berjalan dengan efektif. Metode pengendalian kimiawi dengan cara fogging berpotensi menimbulkan resistensi insektisida pada vektor nyamuk (Universitas Gajah Mada, 2022). Hal ini diperparah dengan adanya perubahan iklim yang membuat agen dan vektor penyakit menjadi semakin kuat dan adaptif dengan lingkungan, sedangkan insektisida yang digunakan tidak mampu mengimbanginya. Metode fogging ini juga umumnya baru akan dilakukan setelah terjadinya kasus sehingga tidak cocok disebut sebagai upaya preventif.

Tantangan lain yang dihadapi dalam penanggulangan penyakit tular vektor ini adalah masih rendahnya partisipasi masyarakat. Guru Besar Guru Besar Ilmu Parasitologi Universitas Gajah Mada menyebutkan bahwa perilaku dan partisipasi masyarakat merupakan kunci utama dalam pengendalian tular vektor ini (Universitas Gajah Mada, 2022). Namun hingga saat ini, partisipasi masyarakat dalam memberantas vektor penyakit masih dinilai kurang. Sebuah penelitian di Denpasar menunjukkan hasil bahwa masih terjadi inkonsistensi kinerja dari para juru pemantau jentik. Selain itu, masih ada beberapa masyarakat setempat yang menolak program pemantauan jentik ini. Perilaku manusia yang juga menyumbang tingginya kasus penyakit tular vektor adalah mobilisasi, baik internasional maupun regional.

Kurangnya tenaga kesehatan lingkungan, khususnya entomolog, juga menjadi salah satu penyebab sulitnya pengendalian penyakit tular vektor ini. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2017 hanya terdapat 112 entomolog yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah ini sangatlah kurang mengingat tingginya kasus penyakit tular vektor dan luasnya wilayah Indonesia.

Sebagai salah satu faktor determinan kesehatan yang paling dominan, lingkungan memegang peran besar bagi kesehatan individu maupun masyarakat. Perubahan iklim dan lingkungan akan terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang besar di masa depan. Berubahnya kondisi lingkungan dan bencana alam yang terus terjadi akan memicu munculnya penyakit menular, penyakit tidak menular, sampai penyakit mental yang dapat menjadi beban kesehatan masyarakat yang akan datang. Pengendalian penyakit menular, khususnya tular vektor nyamuk, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk turut menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sehingga angka kasus penyakit dapat terkendali.

Penulis:
Nadhira Zahrany & Wafa Rahmatina
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Pos terkait