Pusat Kajian Risk Program Pascasarjana UKI bekerja sama dengan GIRMA Gelar Workshop Manajemen Resiko Implementasi Risk Maturity Index

MJ, Jakarta – Acara Workshop Manajemen Risiko Implementasi Risk Maturity Index Petunjuk Teknis SK-8/DKU.MBU/12/2023 dengan mengangkat dua sesi. Dimana sesi pertama menjelaskan “Bedah parameter dan latihan pemenuhan kreteria berdasarkan  prioritas Perusahaan”.

Dan sesi kedua memaparkan “Praktik pengunaan perangkat penilaian RMI dan perumusan kualifikasi Tim penilai RMI” yang diadakan oleh Pusat Kajian Risk Program Pascasarjana UKI bekerja sama dengan Global Integrated Risk Management Association (GIRMA) dilaksanakan di Gedung Pascasarjana UKI (Kampus Diponegoro) Kamis (29/2/2024).
ok
Dengan dihadiri Kaprodi Magister Manajemen: Dr. M.L. Denny Tewu, MM, Ketua Pusat Kajian Manajemen Risiko Prodi Magister Manajemen  Ir. Tarsicius Sunaryo, MA., Ph.D, Ketua Umum Pengurus GIRMA: Bapak Dr. M. Wahyu Wibowo, SE, MM, MBA, CRMP, CRGP, CRPP. Juga hadir 2 narasumber Workshop Wimanto Bimam, CRGP, CRPP (GIRMA) dan Prof. Bramantyo Djohanputro, Ph.D, CRGP, CRPP (dosen tetap Prodi MM-UKI).

Workshop kali ini dihadiri PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero),  PT PLN (Persero) PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk,  PT Kereta Api Logistik, PT. Angkasa Pura Solusi

BACA JUGA:  KPK Ungkap Kasus Korupsi Bansos Beras Ratusan Milyar di Kemensos

PT. Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Mandiri Inhealth), PT. Sarana Multi Infrastruktur (Persero), PT Jasa raharja Putera, PT Wijaya Karya dan PT. Asuransi Sumit Oto.

Dalam isi sambutannya Prof. Dr. dr. Bernadetha Nadeak, M.Pd, M.A Direktur Program Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia yang diwakilkan oleh Wakil Direktur Desi Sianipar M.Th, D.Th mengatakan, Kata “Risiko” hampir setiap hari kita dengar, dan hampir selalu bermakna negatif. Risiko ini muncul kata Desi,  karena adanya ketidakpastian.

Meskipun demikian lanjut Desi, bukan berarti risiko itu semuanya tidak bisa diprediksi atau diukur karena kita menyadari bahwa setiap ketidakpastian ada tingkatannya, mulai dari yang bisa diprediksi dengan pasti sampai yang tidak bisa diprediksi.

“Karena itulah, orang-orang yang bijaksana atau cerdik, harus selalu mengelola risiko atau mengukur ketidakpastian akan terjadinya atau besarnya suatu risiko. Pengelolaan risiko, khususnya dalam hal pengukurannya dapat diketahui sedini mungkin sehingga kerugian yg besar dapat dihindari,” ujar Desi Sianipar.

BACA JUGA:  HUT Korpri Ke-52 Di Kabupaten Simalungun Tahun 2023, 30 PNS Terima Penghargaan

Dari sisi lain Desi Sianipar menguraikan bahwa Manajemen Risiko merupakan suatu proses yang sistematik dan berkelanjutan yang dilakukan untuk mengidentifikasi risiko, dan mengelolanya pada semua level manajemen sehingga dapat memberikan keyakinan bahwa semua risiko  yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan berada dalam batas-batas yang dapat  diterima. Tetapi masih banyak orang belum memiliki kesadaran akan sangat pentingnya manajemen risiko, tandasnya.

Berkenaan dengan itu lanjut Desi Sianipar, seiring dengan upaya membangun budaya manajemen risiko atau yang kita pahami sebagai suatu kesadaran atau pembiasaan , maka Pusat Kajian Prodi (program studi) MM UKI bekerja sama dengan Global Integrated Risk Management Association (Girma) hari ini akan memandu para peserta Workshop untuk mendiskusikan pengelolaan risiko, khususnya dalam tahap menentukan index, Strategi dan Kebijakannya, ungkapnya.

Sementara itu   DR M. Wahyu Wibowo, SE, MM, MBA, CRMP, CRGP, CRPP Ketua Umum Pengurus  Global Integrated  GIRMA mengatakan Manajemen Resiko itu merupakan satu kewajiban di negara negara lain di Undangkan.

BACA JUGA:  Berharap Keadilan, Korban Laka Kerja Resmi Lapor ke Disnakertrans Jatim

“Sehingga Ketika ada Perusahaan baik untuk BUMN maupun Perusahaan publik, Go Publik ketat sekali di negara lain dan juga swsata harus menerapkan Risk Maturity Index dengan baik. Jadi ketika dia melanggar atau melanggar RMI tidak baik, itu melanggar UU,”  tegasnya.

Jadi kata Wahyu, para pengusaha kita berlomba lomba bagaimana dengan RMI supaya RMI-nya berjalan.  Kata Wahyu, tujuan utama RMI itu ada 2 yaitu kita harus dapat mencapai tujuan dengan menciptakan kreasi kreasi mengintegrasi memverifikasi resiko untuk mencapai dalam tujuan. Kedua, melindungi perusahaannya, melindungi pribadinya, urainya.

Menurut Wahyu kembali, bahwa Manajemen resiko itu sudah pasti akan berkembang. Resiko terbesar itu adalah apapun prestasinya akan menghadapi  masalah itu akan habis . Kelanjutan dari SK-8/DKU.MBU/12/2023 nanti adalah Perpres 38 itu seluruh Kementerian, Lembaga akan menjalankan, ungkapnya. 

Pos terkait