Quarter Life Crisis, Ketika Ekspektasi Tidak Seindah Realita

Quarter-life crisis adalah reaksi individu terhadap ketidakstabilan yang memuncak, perubahan yang konstan, dan terlalu banyaknya pilihan yang disertai dengan rasa panik dan tidak berdaya

DEPOKPOS – Quarter life crisis atau krisis seperempat abad merupakan suatu fase ketidakpastian dalam pencarian jati diri yang dialami individu saat memasuki usia pertengahan 20 hingga awal 30 tahun. Pada fase ini, individu dihantui perasaan takut dan khawatir terhadap masa depannya, termasuk dalam hal karier, relasi, dan kehidupan sosial (Aristawati, Meiyuntariningsih, Cahya, & Putri, 2021).

Menurut Afnan, Fauzia, dan Tanau (2020), quarter-life crisis adalah reaksi individu terhadap ketidakstabilan yang memuncak, perubahan yang konstan, dan terlalu banyaknya pilihan yang disertai dengan rasa panik dan tidak berdaya. Jadi dapat kita tarik kesimpulan bahwa Quarter Life Crisis adalah fase kebingungan yang dialami oleh dewasa awal yang memasuki usia 20an sampai awal 30an dengan diikuti oleh perasaan takut, cemas, khawatir terhadap masa depan yang akan Ia hadapi nantinya.

Pada fase transisi dari remaja akhir ke dewasa awal, kita dianggap sudah dewasa dan mampu untuk hidup mandiri dengan pilihan hidup yang kita tentukan sendiri. Orang-orang di luar sana banyak yang memberikan tuntutan dan harapan terhadap kita. Kenyatannya, kita belum sedewasa itu, bahkan emosi, pola pikir, hingga finansial kita belum stabil.

Awal mula krisis ini biasanya ditandai dengan adanya berbagai emosi negatif seperti kecemasan, frustasi, hingga merasa kehilangan arah. Hal ini dapat mengarahkan individu kepada kondisi stres, depresi, atau gangguan psikologis lainnya.

Biasanya di masa ini kita juga akan menemukan banyak perubahan dalam hidup.
Mulai dari status awal sebagai anak sekolahan, berubah menjadi orang dewasa yang dituntun pekerjaan serta tanggung jawab atas diri sendiri.

Memang tidak semua dewasa muda mengalami ini, quarter-life crisis dinilai berdampak pada 86% kaum Milenial yang sering merasa tidak nyaman, kesepian, serta depresi dalam hidupnya. Meskipun begitu, fase ini penting untuk dialami individu supaya ia mampu mengenali dirinya sendiri secara lebih mendalam serta mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

BACA JUGA:  Ide Ekonomi Kreatif di Indonesia

Fase quarter life crisis ketika kita mulai merasa jenuh dengan apa yang dilakukan saat ini. Namun, tidak tahu harus berbuat apa (helplessness). Saat dimana kita terjebak (feeling- trapped) dengan rutinitas atau terjebak dengan zona nyaman, hingga akhirnya menjadi putus asa (hopeless). Lalu berlanjut ke fase time-out, ini adalah waktu untuk kita beristirahat sejenak. Mungkin saat ini kita berusaha menjauh dari realita dan sulit memulai kembali karena takut kita akan gagal lagi, gagal untuk yang kesekian kalinya.

Selanjutnya biasanya kita meamsuki fase separation yaitu saat ketika kita merasa tidak cocok lagi dengan apa yang kita lakukan dan dengan nekat kita meninggalkan hal tersebut begitu saja, walaupun kita belum memiliki rencana untuk ke depannya. But it’s okay. Just take your time.

Memasuki fase exploration yaitu fase kembali ke realita dengan mencoba mengeksplor diri. Mulai menggali dan mengenali lagi karakter diri, serta passion apa yang kita miliki, menentukan apa yang kita mau, mencari apa tujuan hidup yang ingin kita raih kedepannya. Setelah itu, mulai membuat rencana- rencana selanjutnya. Fase akhir yang biasanya kita alami dan memang seharusnya kita jalani yaitu re-building, bangkit dan mulai kembali serta menjalankan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini dilakukan setelah kita selesai mengeksplor diri dan menentukan pilihan hidup kita selanjutnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan individu mengalami quarter life crisis, biasanya faktor tersebut datang dari dalam diri kita sendiri. Ketika kita belum benar-benar mengenali identitas diri, belum sepenuhnya kenal dengan apa maunya kita, maka kita belum bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Jangankan mengetahui apa yang diinginkan dalam hidup, bahkan menentukan jati diri saja kita belum bisa. Ketika menginjak usia lebih dewasa, kita jadi berpikir lagi sebenarnya kita ini orang yang seperti apa.

Pada usia ini, memang sulit untuk berkomitmen dengan identitas diri kita sendiri yang dipilih, karena kita masih perlu mengeksplorasi diri. Oleh sebab itu, kita menjadi tidak bisa menentukan pilihan yang cocok untuk masa depan kita. Bukan hal yang aneh ketika kita berada di fase kebingungan menjalani kehidupan kita untuk selanjutnya.

BACA JUGA:  Orang Tua adalah Rumah bagi Anak

Selain faktor dari dalam diri, faktor dari luar diri kita juga ikut berpengaruh, seperti faktor keluarga. Keluarga sering kali ingin ikut campur dengan urusan kita. Namun, terkadang hal itu justru memperkeruh suasana. Tidak jarang mereka membandingkan kehidupan mereka zaman dulu dengan kehidupan kita di zaman sekarang yang jelas sudah berbeda. Belum cukup sampai di situ, mereka juga sering menuntut ini-itu seperti pekerjaan yang layak, gaji besar, rumah, mobil, perhiasan, serta pertanyaan favorit yang bikin tambah pusing “Kapan nikah?” atau “Gajinya berapa?” dan masih banyak pertanyaan horor lainnya.

Hal yang juga sering membuat kita terbebani yaitu patokan masyarakat berdasarkan norma kultural, komentar masyarakat yang membebani dan menuntut banyak ekspektasi dari kita. Sebagai contoh, usia 21 sudah harus lulus kuliah, di umur 23 sudah harus punya pekerjaan tetap, usia 25 sudah harus menikah, dan usia 27 sudah harus punya anak.

Padahal setiap orang punya zona waktunya masing- masing. Setiap orang punya jalannya masing- masing. Ini hidup kita, bukan hidup mereka, kita yang menjalani bukan mereka, padahal sebenernya kita juga tidak masalah jika belum berada di fase idaman menurut mereka tersebut, namun karena omongan dari banyak orang hingga akhirnya kita merasa ada beban baru yang hadir dalam hidup kita.

Kegalauan pada fase quarter life crisis ini muncul akibat rasa cemas, khawatir, bingung dengan hidup, serta pilihan yang harus dipilih. Kita pun mungkin akan sibuk memikirkan kegalauan yang sebenarnya tiada akhir. Jika ini terus berlanjut tanpa mencoba mencari jalan keluarnya, kita akan terbebani dengan pikiran sendiri dan menjadi pasif.

Menjadi pasif membuat stuck. Ibaratnya seperti terjebak dalam “lubang hitam. Kita bingung harus melakukan apa dan hanya bisa diam terus-menerus memikirkan masalah masalah tersebut. Apalagi kalau kita memendam masalah sendiri. Stuck dalam kegalauan akan berujung pada stres. Stres yang berkepanjangan jelas tidak akan pernah memberikan efek positif. Apalagi kalau tidak bisa mengatasinya. Bisa-bisa kita malah mengalami depresi. Hal ini hanya akan membuang waktu kita di masa muda yang berharga. Seharusnya, pada usia ini lah saatnya kita aktif berkarya dan mengeksplor diri.

BACA JUGA:  Hidup Menjadi Medioker, Baik atau Buruk?

Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar tetap bisa santai di tengah kehidupan dewasa awal ialah, kenali diri kita terlebih dahulu. Mengenali diri kita merupakan tahap yang paling utama. Kita harus bisa melihat dan menganalisis kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Jika kita mengetahuinya kita akan lebih bisa untuk melihat bakat atau potensi kita. Kita juga harus bisa melihat passion agar bisa memprediksi peluang yang akan datang nantinya.

Inti dari eksplorasi diri adalah menggali jati diri kita sendiri. Kita harus bisa memahami diri lebih dalam. Mungkin kita sering bercermin dan melihat bayangan diri kita tapi yang terlihat hanyalah sosok secara fisik, kita cenderung belum memahami benar jati diri kita yang sebenarnya. Kita juga lupa melihat perubahan seperti perilaku yang terjadi di diri kita yang dulu hingga yang sekarang.

Setelah kita mengenali diri lebih dalam, kita harus menyusun strategi untuk mengembangkan bakat dan potensi yang sudah kita siapkan di awal. Kita memerlukan beberapa rencana untuk mendukung passion tersebut. Pertama-tama, tentukan dulu target yang ingin dicapai. Perjalanan apa pun akan jadi sia-sia, rugi waktu, energi, dan harta jika tidak ada tujuan. Siapkan back-up plan untuk mengantisipasi perubahan- perubahan yang mungkin terjadi di luar ekspektasi kita.

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menentukan tujuan dari perjalanan karier dan percintaan yang akan kita jalani. Kita harus ingat bahwa manusia memang berencana tapi tetap Tuhan yang berkehendak. Terkadang memang realita tidak semulus ekspektasi. Bisa saja kita mengalami kegagalan yang membuat kita patah semangat.

Kalau memang ingin yang terbaik, harus sabar melalui Trial and Error. Agar kita bisa belajar menjadi lebih baik dan mencapai goals yang kita impikan.

Shalsa Syawalia

Pos terkait