Razia Miras Jelang Ramadhan Sekedar Pencitraan?

Berolahraga pada waktu yang berbeda dalam sehari memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda

Oleh : Dian Salindri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Tak terasa bulan Ramadan akan segara tiba, bulan mulia yang amat dirindukan oleh umat muslim. Aroma-aroma Ramadan sudah mulai tercium, seperti yang sudah-sudah, jika Ramadan sudah dekat,iklan sirup pun mulai bermunculan. Etalase toko sudah bernuansa islami, kue khas lebaran sudah memenuhi rak-rak tinggi supermarket hingga menjulang.

Di bulan mulia ini tentunya menjadi momen yang dinanti, momen yang paling berharga untuk membersihkan dan memperbaiki diri. Bulan untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya, dan bulan dimana masjid ramai bahkan sampai penuh sesak.

Tak hanya ditandai dengan kemunculan iklan sirop M*rj*n (anak-anak paham betul ini, ada iklan sirup ini berarti sebentar lagi bulan puasa), banyaknya aksi razia miras (Minuman Keras) juga pertanda ramadhan sudah dekat. Sedih juga sih, kenapa razia miras ini hanya digencarkan saat menjelang Ramadan saja, bahkan penutupan kelab malam yang menjual minuman keras (miras) hanya diberlakukan saat Ramadan. Mengapa demikian? Sebab dalam sistem kapitalis yang hanya mementingkan materi, pajak pendapatan dari penjualan miras ini sungguh menggiurkan dan membuat pemerintah hanya memakai sistem tebang pilih dalam menerapkan aturannya.

Padahal Allah Ta’ala telah mengharamkan khamr/miras yang tertuang dalam surat Al-Maidah ayat 90-91;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

BACA JUGA:  Pacaran? No Way!

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).

Ayat ini menegaskan larangan meminum khamr karena termasuk perbuatan keji dan buruk. Sebab bisa mengakibatkan orang yang mengkonsumsinya kehilangan akal. Akibatnya, banyak perbuatan yang buruk yang dilakukan oleh para pengkonsumsi miras yang tidak hanya merugikan dirinya sendiri tapi juga berakibat buruk bagi orang lain.

Tak hanya berupa larangan, dalam ayat ini pula terdapat peringatan bagi orang-orang mu’min. Apabila mereka mengkonsumsi khamr maka hal itu akan menghalangi mereka dalam ketaatan dan menjadi lalai dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dan dalam sebuah hadist ditegaskan pula, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ

“Allah melaknat khamr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta untuk diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674)

BACA JUGA:  Melatih Kemandirian Anak

Dalam hadist ini diterangkan bahwa Allah tidak hanya melaknat orang yang meminum khamr, namun Allah juga melaknat orang-orang yang menuangkan, yang menjualnya, yang membelinya meskipun bukan untuk dirinya sendiri, yang memproduksinya, yang mengantarnya dan semua orang-orang yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dengan khamr.

Jelaslah disini keras dan tegasnya larangan khmar. Tidak ada celah sedikitpun bagi umat muslim untuk mendekatinya, meminumnya ataupun hanya berkecimpung di dalam menjual atau memproduksinya.

Namun sayangnya, sesuatu yang haram dan merusak akal ini tidak dilarang oleh pemerintah kita. Aturan yang dibuat oleh pemerintah hanya berupa aturan-aturan pembatasan penjualan miras kepada anak dibawah umur ataupun hanya boleh dijual ditempat-tempat tertentu saja. Dan pada saat mendekati bulan Ramadan, pemerintah gencar melakukan razia miras, yah hanya sekadar pencitraan tapi tetap saja miras bisa beredar bebas di negeri ini. Padahal seperti yang kita ketahui miras adalah biangnya kejahatan, karena banyak pelaku kejahatan yang melakukan tindakan keji diawali karena mabuk miras.

Sungguh islam adalah agama yang preventife (pencegah agar tidak terjadi hal yang buruk). Peraturannya sempurna dan memang sesuai dengan fitrah manusia, karena aturan ini langsung dari Allah Yang Menciptakan manusia, yang pastinya tahu betul ciptaannya seperti apa.

Saat turunnya ayat larangan khamr, kala itu madinah diibaratkan seperti dilanda banjir khamr. Karena penduduk Madinah pada saat itu langsung memecahkan gentong-gentong tempat penyimpanan khamr mereka. ‘Saya mendengar dan saya taat’, begitulah umat muslim seharusnya terhadap perintah dan larangan Allah SWT.

BACA JUGA:  "Transformasi Geografis : Medan Berpindah, Ibu Kota Sumatera Utara Digantikan oleh Kota Baru yang Menjanjikan"

Tentunya kesholihan individu tak mampu untuk membuat larangan khamr ini bisa diterapkan dalam sebuah negara kalau negara tersebut tidak berlandaskan aturan Islam. Jika sebuah negara berlandaskan pada aturan islam, maka pemerintahnya pasti tidak akan memberlakukan peraturan tebang pilih dan masih tergiur dengan keuntungan yang di dapat dari pajak penjualan miras.

Dalam islam negara bertanggung jawab penuh mengurusi masalah rakyatnya, mengatur rakyatnya sesuai dengan aturan-aturan yang sudah Allah tetapkan. Negara adalah pelayan bagi rakyat dimana negara tidak boleh mementingkan keuntungan pribadi diatas kepentingan rakyat. Negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, kesehatan, pendidikan, bahkan pergaulan rakyatnya pun harus diatur oleh negara sesuai dengan aturan islam.

Begitupun negara harus tegas dalam melarang produksi, peredaran dan penjualan khamr, dan para pelakunya harus ditindak tegas sesuai dengan aturan islam sehingga menimbulkan efek jera.

Dengan begitu umat muslim menjadi jauh lebih aman tidak hanya saat menjelang Ramadan tapi juga di setiap harinya dalam kehidupan mereka. Sudah saatnya kita meninggalkan sistem yang rusak ini dan kembali kepada sistem yang tebaik dan sempurna, yaitu sistem islam.[]

Pos terkait