Refleksivitas Surat Al- Baqarah Ayat 282 dalam Dunia Akuntansi

DEPOKPOS – Al Quran yang merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat islam telah menunjukan untuk apa dan bagaimana seharusnya kita hidup di alam dunia ini.

Sudah menjadi hal yang harus kita pahami bersama bahwa setiap hal yang kita lakukan harus bersumber dari Al quran, Hadits, Ijma’ ulama dan Qiyas.

Sehingga setiap perbuatan kita menjadi sebuah amalan baik yang akan membawa kita menuju tempat terbaik untuk kembali yaitu Jannah-Nya.

Kehadiran profesi akuntansi dibutuhkan secara luas dalam menerapkan standar ESG.

Hal tersebut ditunjang oleh kemampuan analisis biaya lingkungan serta pemahaman proses audit dan penyusunan laporan keberlanjutan (sustaibability report) yang dimiliki.

Dengan itu, seorang akuntan memiliki kapasitas untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat.

Soal perannya, profesi akuntansi mengambil bagian dalam menerapkan standar ESG pada tiga aspek, yaitu penyusunan laporan, analisis biaya, dan pelaksanaan audit

ESG (Environmental, social and Governance) merupakan suatu konsep baru pada standar perusahaan dalam melaksanakan praktik bisnis dan investasi.

Konsep ESG menerapkan cara penilaian kinerja perusahaan dengan mempertimbangkan profit perusahaan dan praktik yang berorientasi pada keberlangsungan konsep ESG.

BACA JUGA:  Produk Fesyen Lokal Tembus Pasar Internasional

Penerapan ESG menjadi pertimbangan dasar bagi investor dalam mengambil keputusan berinvestasi pada sebuah perusahaan.

Data menunjukkan bahwa investasi perusahaan dunia dengan orientasi ESG naik signifikan.

Investasi global pada aspek berkelanjutan mencapai US$ 30 triliun atau naik 68 persen sejak 2014 atau sepuluh kali lipat dari angka tahun 2004.

Akselerasi ini merupakan wujud dari meningkatnya perhatian masyarakat, pemerintah, dan konsumen pada dampak yang lebih luas dari perusahaan.

Selain itu, investor dan eksekutif juga menyadari bahwa ESG yang kuat dapat menjaga kesuksesan jangka panjang perusahaan.

Akuntansi secara umum, merupakan suatu proses mencatat, meringkas, mengklasifikasikan, mengolah, dan menyajikan data transaksi, serta berbagai aktivitas yang berhubungan dengan keuangan, sehingga informasi tersebut dapat digunakan oleh seseorang yang ahli di bidangnya dan menjadi bahan untuk mengambil suatu keputusan.

Oleh karena itu Al Quran memberikan gambaran yang tercantum dalam surat Al Baqarah : 282

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ…

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar…”.

Dalam firman-Nya Allah SWT. Memerintahkan pada kita dalam setiap transaksi (salah satunya utang piutang) haruslah kita mencatatnya dengan bener.

BACA JUGA:  Sambut Idul Fitri, IKEA Beri Potongan Harga Hingga 75 Persen

Sehingga dalam ruang lingkup suatu perusahan yang saling bertransaksi diperlukan seorang pencatat atau akuntan yang bisa dipercaya oleh kedua belah pihak sehingga terjalin hubungan baik pada kedua perusahaan tersebut.

Jika dilihat dari makna surah Albaqarah ayat 282 dapat diketahui bahwa akuntansi dalam aturan syariah harus memenuhi tiga (3) prinsip yaitu prinsip pertanggungjawaban, prinsip keadilan dan prinsip kebenaran.

Prinsip pertanggungjawaban

Jika diimplikasikan pada sebuah perusahaan, yang menjadi hasil akhir dari proses akuntansi adalah laporan keuangan yang dapat digunakan oleh manajer sebagai alat pedoman pengambilan keputusan.

Berbeda konteksnya pada surah Albaqarah ayat 282, Allah menjelaskan bahwa fungsi akuntansi bukan hanya sekedar informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan saja.

Akan tetapi setiap pihak yang terlibat dalam praktik bisnis tersebut harus melaksanakan pertanggungjawaban atas amanah dan perbuatannya kepada pihak lain.

Prinsip keadilan

BACA JUGA:  Antara Ibadah dan Muamalah

Konteks adil dalam akuntansi yang dijelaskan pada surah Albaqarah ayat 282 adalah pencatatan yang dilakukan dengan benar sesuai dengan transaksi yang terjadi, tidak memihak atau condong kepada salah satu pihak dan berlaku curang.

Pencatatan yang salah akan berakibat pada kekacauan arus pencatatan itu sendiri sehingga pada akhirnya akan merugikan beberapa pihak yang terlibat.

Untuk itu, kejujuran seorang yang berhutang maupun yang memberikan pinjaman, akuntan, saksi dan pihak lain yang terlibat menjadi penting untuk menegakkan keadilan.

Prinsip kebenaran

Dalam perusahaan, akuntansi selalu dihadapkan pada persoalan pengakuan dan pengukuran keuangan.

Aktivitas ini dapat dilakukan dengan baik apabila dilandaskan pada nilai kebenaran.

Prinsip kebenaran ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan.

Kebenaran ini akan dapat menciptakan keadilan dalam mengakui, mengukur dan melaporkan transaksi-transaksi ekonomi.

Maka kita dapat menyimpulkan bahwa Allah SWT telah menyiapkan seluruh tatakehidupan yang akan kita jalani di dunia ini.

Oleh karena itu patutlah kita bersyukur atas segala nikmat ini dengan cara mengimplementasikan seluruh ketentuan dan petunjuk yang terdapat dalam Al quran.

Paras Aditya Ramadhan

Pos terkait