Resensi Novel Aroma Karsa: Bunga Sakti Pembawa Petaka

Resensi Novel Aroma Karsa: Bunga Sakti Pembawa Petaka

Mengenal Puspa Karsa, Bunga Sakti Pembawa Petaka dalam Novel Aroma Karsa

Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 696

Siapa yang tak kenal dengan novel Aroma Karsa karya Dee Lestari? Bagi para pecinta novel maupun pecinta fiksi ilmiah, Aroma Karsa merupakan novel yang tak boleh sampai dilewatkan. Novel ini bukanlah sekadar novel bergenre fiksi, lebih dari itu, alur dalam Aroma Karsa justru memadukan antara fiksi dan fakta dalam kisahnya.

Ditinjau dari judulnya yakni Aroma Karsa, istilah yang terdiri dari dua kata, dalam KBBI, kata ‘aroma’ berarti bau-bauan yang harum, sedangkan kata ‘karsa’ berarti daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Secara singkat, Aroma Karsa berarti wangi kehendak. Judul novel ini lantas menggugah rasa penasaran saya. Wangi kehendak? memangnya bisa diidentifikasi?

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai petaka yang ditimbulkan oleh Puspa Karsa, bunga sakti yang merupakan topik utama dalam novel ini. Dari Puspa Karsa, terciumlah Aroma Karsa melalui perspektif sebuah cerita.

Puspa Karsa merupakan bunga yang namanya tak asing bagi keturunan Prayagung. Dalam lingkup keluarga Prayagung, nama Puspa Karsa telah berulangkali menjadi buah bibir dalam dongeng yang disampaikan oleh Janirah kepada cucu perempuannya, Raras Prayagung. Pasalnya, Janirah tak pernah gencar menceritakan kisah bunga tersebut kepada cucunya itu. Bahkan, di penghujung hayatnya, Puspa Karsa masih senantiasa terucap dari bibir pucat wanita tua itu.

Di tengah kondisinya yang payah, Janirah menyampaikan bahwa Puspa Karsa itu nyata dan berada di suatu tempat rahasia. Puspa Karsa bukan sembarang bunga, melainkan bunga yang berkekuatan magis sehingga keberadaannya hanya dapat diidentifikasikan melalui aroma. Puspa Karsa, sesuai namanya, bunga tak biasa yang mampu mengendalikan kehendak manusia.

Lambat laun, dongeng Puspa Karsa yang didengar olehnya menjadi ambisi yang kian menjelma menjadi obsesi besar dalam diri Raras Prayagung. Bermodal lontar kuno peninggalan neneknya dan tekad sekuat baja, wanita itu yakin akan menemukan bunga sakti tersebut. Dengan menemukan Puspa Karsa, Raras akan lebih mudah mewujudkan segala ambisinya untuk menguasai dunia dalam genggamannya.

BACA JUGA:  Sekda Depok Supian Suri Kembali Rangkap Jabatan jadi Komisaris PDAM Tirta Asasta

Seolah direstui semesta, obsesi Raras mampu mempertemukannya dengan sosok Jati Wesi, seorang pemuda Bantar Gebang yang memiliki kemampuan indera penciuman ajaib. Jati dapat membaui segala macam aroma yang dihirup oleh hidungnya, kemampuan indera penciumannya melampaui kemampuan penciuman manusia biasa, sehingga ia dijuluki ‘Si Hidung Tikus’. Bertemu dengan Jati bagaikan menemukan kunci utama untuk membuka gerbang penelusuran Puspa Karsa. Dengan kemampuan yang dimiliki Jati, Raras yakin akan lebih mudah mewujudkan obsesinya untuk menemukan bunga itu.

Jati diberi fasilitas tempat tinggal dan fasilitas istimewa lainnya. Hal tersebut mengundang ketidaksukaan Tanaya Suma terhadap perlakuan ibunya yang begitu mengistimewakan Jati. Tanaya Suma merupakan anak angkat Raras sekaligus penerus perusahaan Kemara miliknya. Tanpa diduga, ternyata Suma memiliki kemampuan penciuman yang sama dengan Jati. Pertemuan ketiga tokoh tersebut menjadi titik awal menguaknya berbagai misteri.

Dengan segala persiapan yang matang, akhirnya Raras mengumumkan pembentukan tim ekspedisi Puspa Karsa. Selain Jati, Suma juga turut andil dalam ekspedisi kali ini, mengingat perempuan itu memiliki kemampuan yang sama dengan Jati. Raras membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk menyiapkan tim ekspedisi ini, ia yakin bahwa ekspedisinya kali ini akan membuahkan hasil manis. Tak pernah sekalipun ia gencar walau mengalami kegagalan pada proses ekspedisi sebelumnya.

Dalam ekspedisi ini, titik yang diduga menjadi posisi Puspa Karsa bersemayam yakni berlokasi di Gunung Lawu. Gunung Lawu, merupakan gunung yang terletak di perbatasan daerah Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Lawu terkenal dengan berbagai kisah misteri yang sarat akan nilai-nilai mistis dan magis, salah satunya kisah tentang Mahesa Guning dan Puspa Karsa sendiri. Kisah tersebut turut dipengaruhi oleh budaya masyarakat Jawa dan pengaruh dari sejarah kerajaan pada masa lampau.

Meski dikenal dengan kekuatan magisnya, Lawu tetap menjadi lokasi yang akan ditelusuri oleh tim ekspedisi. Seakan tak peduli dengan segala misterinya, tanpa takut mereka menerobos masuk tanpa permisi ke dalam alam magis di lereng Gunung Lawu. Raras tak ragu meminta timnya untuk melewati batasan yang telah digariskan oleh alam. Petuah juru kunci Lawu tak lagi mereka indahkan. Kini, jiwa mereka telah sesak dipenuhi hasrat terhadap Puspa Karsa.

BACA JUGA:  "Forum Wartawan Hitam Putih Gelar Acara Halalbihalal: Membangun Silaturahmi dan Spirit Memaafkan"

Berbekal sebuah peta, Jati, Suma, beserta tim ekspedisi lainnya mulai menyusuri Alas Kalingga. Puspa Karsa merupakan bunga yang sakti dan tak biasa, oleh karena itu, dalam ekspedisi ini konon mereka harus memasuki alam yang berbeda dengan alam manusia. Bukan sebuah alam yang dipenuhi manusia sebagai penghuninya, melainkan alam para dewa dan makhluk mitologi lainnya yang kerap muncul pada kisah mitologi Jawa. Tindakan tersebut lantas menjadi awal mula petaka yang akan menimpa hidup mereka dan Raras Prayagung. Alam memberi sanksi kepada rombongan ekspedisi Puspa Karsa dengan menunjukkan kekuatan magisnya.

Adanya mitologi yang lahir dalam cerita ini menunjukkan betapa kaya kisah Aroma Karsa yang ditulis oleh Dee Lestari. Selain berbalut obsesi, Aroma Karsa juga diwarnai oleh bumbu-bumbu sejarah, mitologi, serta kebudayaan. Kompleksitas budaya yang tertera dalam kisah tersebut melahirkan mitologi rekaan yang nyatanya turut dipengaruhi oleh aspek sejarah. Pemunculan aspek mitologi dalam kisah ini merupakan sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis untuk pembaca bahwa sejatinya dalam dunia ini, manusia hidup berdampingan dengan kehidupan lain. Sesama makhluk ciptaan Tuhan, hendaknya manusia perlu merenungi bahwa terdapat batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar antara kehidupan manusia dan kehidupan makhluk lainnya, sebab setiap makhluk tentu mendamba ketenangan dan kedamaian dalam hidupnya.

Karena kelancangan tim ekspedisi untuk menembus alam magis di Gunung Lawu, mereka pun dihadapi oleh keganasan yang ditunjukkan oleh alam dan seisinya. Mereka porak-poranda disebabkan malapetaka yang datang tiba-tiba. Dalam situasi yang genting saat alam telah ‘bangun’, sekuat tenaga mereka berusaha untuk bertahan hidup sambil menyesali perbuatannya. Dalam kondisi tersebut, Jati dan Suma justru berhasil menguak rahasia besar yang tak pernah mereka duga, tentang jati diri masing-masing, tentang keterkaitan mereka satu sama lain, tentang siapa Raras sebenarnya, semua misteri itu terbungkus rapi dalam balutan pengkhianatan. Selain itu, mereka menemukan fakta bahwa Puspa Karsa adalah bunga berkekuatan magis nan berbahaya, memiliki kuasa mengendalikan ambisi manusia. Dengan demikian, semua rangkaian peristiwa ini bukanlah kebetulan belaka. Puspa Karsa telah sengaja mengikat mereka untuk datang memenuhi kehendaknya.

BACA JUGA:  Peduli Gempa Cianjur, Sekolah Sekolah Cenderawasih Kembali Salurkan Bantuan

Puspa Karsa dengan sengaja menitiskan kehendaknya pada keturunan Prayagung, kehendak untuk terus memiliki eksistensi di dunia ini. Kekuatan Puspa Karsa lantas membutakan setiap orang dengan obsesinya, padahal obsesi tersebut hanya berbuah malapetaka. Mitologi yang disampaikan oleh Janirah hanya melahirkan tragedi kelam bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Raras secara tak langsung telah mengetahui bahwa Puspa Karsa hanya menyebabkan petaka bagi dirinya, mengingat betapa mengerikannya tragedi yang menimpa tim ekspedisi Puspa Karsa pertama, hingga Raras rela menggadaikan salah satu fungsi organ tubuhnya demi bunga sakti itu. Namun sekali lagi, obsesi memainkan peran yang sangat dominan dalam diri Raras, sehingga ia terus menyambut panggilan Puspa Karsa terhadap dirinya.

Terlepas dari fungsi estetikanya, novel ini turut memuat fungsi edukasinya berupa edukasi moral yang dijelaskan secara tersirat. Dijelaskan melalui tokoh Raras Prayagung yang begitu terobsesi untuk menemukan Puspa Karsa. Obsesi Raras yang besar merupakan hasil dari penyampaian kisah mitologi yang diceritakan secara berlebihan oleh neneknya. Janirah terlalu mengagungkan Puspa Karsa di hadapan Raras sehingga cucunya itu bertekad untuk menemukan bunga tersebut demi segala ambisinya untuk mewujudkan taraf kehidupan tertinggi.

Obsesi itu lantas membutakan batin Raras dari nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya, ia rela mengorbankan siapa saja, rela berkhianat, rela membiarkan dirinya terluka, bahkan rela menggadaikan nyawanya dan nyawa orang-orang di sekitar demi menebus Puspa Karsa yang ia damba. Hal tersebut menandakan bahwa obsesi mampu menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling kejam di alam semesta. Obsesi mampu memupuskan nilai kemanusiaan dalam diri manusia, serta mendorong manusia untuk berbuat sesuai kehendaknya tanpa mau berpikir tentang nasib orang lain, berpikir tentang kerugian yang akan ditimbulkan, serta malapetaka yang dapat menimpa kapan saja.

*Peresensi adalah Adella Diva Rahmadian. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pos terkait