Rokok Elektrik dan Rokok Batangan, Apakah Sama Bahayanya?

Rokok Elektrik dan Rokok Batangan, Apakah Sama Bahayanya?

DEPOK POS – Saat ini, pemakaian rokok elektrik atau vape merupakan hal yang lumrah di kalangan masyarakat. Rokok elektrik adalah bentuk produk tembakau yang menggunakan suatu sistem sehingga terjadi pemanasan atas cairan yang dimasukan ke dalam rokok elektrik yang menghasilkan aerosol. Terdapat beberapa komponen pada rokok elektrik diantaranya baterai, elemen pemanas, dan tempat untuk menampung cairan. Berbeda dengan rokok konvensional, rokok elektrik memiliki liquid yang memiliki kandungan nikotin maupun tidak, perisa, dan zat kimia berbahaya lainnya yang dapat diisi ulang oleh pengguna.

Berdasarkan perkiraan yang dilakukan oleh Jerzynski, dkk, diketahui bahwa terjadi kenaikan dalam perkiraan jumlah pengguna vape secara global yakni dari 58,1 juta orang pada tahun 2018 menjadi 68 juta orang di tahun 2020. Kemudian, di Indonesia, pengguna rokok elektrik menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan mencapai 2,8%. Diketahui juga bahwa pengguna paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dari kalangan remaja hingga dewasa dengan rentang usia 15-40 tahun.

Pemakaian rokok elektrik dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang secara signifikan berpengaruh dengan penggunaan rokok elektrik. Contohnya, pengguna rokok konvensional, lingkungan yang juga menggunakan rokok elektrik, kemampuan membeli, dan izin orang tua. Faktor lainnya seperti persepsi bahwa rokok elektrik tidak menimbulkan kecanduan, tidak menyebabkan kanker, dapat menghentikan perilaku merokok, dan lebih aman. Seseorang dengan persepsi dan pemikiran bahwa rokok elektrik tidak lebih berbahaya dibanding rokok konvensional berisiko 2 kali lebih besar untuk menggunakan rokok elektrik. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai dampak dari penggunaan rokok elektrik bagi kesehatan.

BACA JUGA:  Kembangkan Bisnis, Rossa Gandeng Bubah Alfian Luncurkan Garnet Eyeshadow

Rokok elektrik sendiri sering diklaim lebih aman daripada rokok konvensional, tetapi apakah hal tersebut terbukti benar? Karena apabila ditilik lebih lanjut, rokok elektrik ini mengandung komponen tambahan yang dapat meningkatkan faktor risiko. Seperti standar kualitas dalam manufaktur, konsistensi pada distribusi nikotin, efek jangka panjang dari propilen glikol yang dihirup, risiko tertelan cartridge pada anak-anak, serta risiko rokok elektrik sendiri sebagai produk pengganti rokok konvensional. Bahkan klaim bahwa rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional telah dipatahkan dengan alasan bahwa klaim tersebut merupakan bentuk strategi pemasaran rokok elektrik. Namun sayangnya, masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa rokok elektrik lebih aman daripada rokok konvensional, yang dibuktikan dengan data dari hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik dari 0.3% (2011) menjadi 3% (2021).

Perbedaan mendasar antara rokok elektrik dan rokok konvensional adalah tembakau. Pada rokok elektrik memang tidak terdapat tembakau dan tar seperti rokok konvensional, tetapi hal tersebut tidak dapat menjadi tolok ukur bahwa rokok elektrik lebih sehat dan aman dari rokok konvensional. Malah, rokok elektrik mengandung lebih banyak kandungan yang dapat berbahaya bagi pengguna dan orang di sekitar yang menghirup asapnya. Seperti Tobacco Specific Nitrosamines (TSNA), Diethylene Glycol (DEG), diacetyl (terdapat pada perisa liquid rokok elektrik) dan karbon monoksida. TSNA merupakan zat yang terkandung dalam tembakau dan dikenal sebagai karsinogen, diethylene glycol menyebabkan toksisitas pada ginjal dan saraf, dan CO2 menyebabkan toksisitas pada jantung. Kemudian, terdapat bahaya yang ditimbulkan dari diasetil yang dapat menyebabkan orang tersebut menderita PPOK atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis di balik harumnya uap yang dihembuskan.

BACA JUGA:  Kenali Penyebab Insomnia dan Pengobatannya

Tidak dapat dipungkiri, rokok konvensional maupun rokok elektrik keduanya mengandung nikotin. Memang, tidak semua rokok elektrik mengandung nikotin. Namun, menurut penelitian hampir 99% rokok elektrik yang terjual di pasaran Amerika Serikat mengandung nikotin. Nikotin merupakan zat aditif karsinogenik yang membuat pengguna rokok elektrik tidak dapat terlepas dari rokok elektrik (efek candu). Dengan tubuh terus menerima asupan nikotin maka, terdapat efek yang timbul ke seluruh bagian tubuh orang tersebut. Seperti, menurunnya kadar glukosa darah saat puasa, meningkatnya potensi kanker paru-paru, hipertensi (tekanan darah tinggi), emfisema (nafas pendek), permasalahan lambung (GERD), diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, menurunkan kadar testosteron, siklus menstruasi tidak teratur, keguguran, dan lain sebagainya.

Perokok pasif juga mendapatkan efek dari orang sekitar yang menggunakan rokok elektrik. Diketahui bahwa di dalam satu ruangan dengan pengguna rokok elektrik, udara yang dihirup mengandung konsentrasi nikotin yang membuat perokok pasif terekspos kandungan nikotin. Seseorang yang terekspos nikotin memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena meningokokus pada anak, kanker serviks, pneumonia, infeksi saluran pernapasan bawah pada bayi, kanker paru, rinitis, dan lain-lain. Kemudian, berdasarkan penelitian juga diketahui bahwa terdapat hubungan antara asma di segala rentang umur dengan pengguna pasif rokok elektrik.

BACA JUGA:  Dampak Negatif Nonton Video Mukbang

Dari hasil riset dan penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional. Awal mula adanya pernyataan bahwa rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional berasal dari strategi pemasaran untuk memperkenalkan rokok elektrik agar dapat diterima oleh masyarakat dan sebagai bentuk usaha pengendalian industri tembakau. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat mulai mengubah persepsinya bahwa rokok elektrik juga memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan. Pemerintah dan komponen lainnya juga dapat mendukung hal tersebut dengan menggiatkan pelaksanaan kegiatan promotif dan preventif mengenai rokok elektrik serta dampaknya bagi kesehatan diri sendiri dan orang lain. Jadi, iklan kesehatan masyarakat tidak hanya berfokus kepada tujuan untuk mengurangi pemakaian rokok konvensional. Tetapi juga diharapkan mulai dapat disebarkan informasi mengenai rokok elektrik melalui berbagai media. Strategi pemilihan media serta sasaran juga perlu dipertimbangkan demi mencapai masyarakat yang sehat tanpa rokok. Bukankah lebih nyaman jika hidup tanpa asap rokok konvensional dan elektrik?

Hanifa Alyaratri Susilo, Jazmi Nadhila Kamil
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pos terkait