<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ekonomi &#8211; Majalah Jakarta</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/rubrik/ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id</link>
	<description>Berita Nasional Terkini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2026 10:27:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2026/10/cropped-MJ-32x32.jpg</url>
	<title>Ekonomi &#8211; Majalah Jakarta</title>
	<link>https://majalahjakarta.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fresh Graduate Dituntut Memiliki Banyak Keterampilan: Apakah Perusahaan Sudah Merencanakan Kebutuhan SDM dengan Tepat?</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/fresh-graduate-dituntut-memiliki-banyak-keterampilan-apakah-perusahaan-sudah-merencanakan-kebutuhan-sdm-dengan-tepat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2026 10:27:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Fresh Graduate]]></category>
		<category><![CDATA[Perusahaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=104035</guid>

					<description><![CDATA[Azuard Tarikh Awaludin, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Membuka portal lowongan kerja hari ini sering membuat saya geleng-geleng kepala. Ada lowongan staf administrasi yang meminta pelamar bisa mengedit video, mengelola media sosial, mengolah data, dan berbahasa Inggris aktif, padahal posisinya untuk fresh graduate tanpa pengalaman. Sekilas terlihat seperti peluang, tetapi saya jadi bertanya-tanya: apakah perusahaan benar-benar tahu apa yang dibutuhkan, atau sedang mencari satu orang untuk mengisi empat pekerjaan?</p>
<p>Masalahnya bukan pada keterampilan itu sendiri. Dunia kerja memang berubah, dan kemampuan yang beragam jelas berguna. Persoalannya muncul ketika tuntutan itu lahir dari kebutuhan yang belum dipetakan. Perencanaan SDM seharusnya menjawab dua pertanyaan dasar: berapa orang yang dibutuhkan dan dengan kualifikasi seperti apa. Jawabannya diturunkan dari target bisnis dan beban kerja, bukan dari keinginan menekan biaya gaji. Penelitian Lestari dan Riofita (2025) di Mie Gacoan menunjukkan bahwa perencanaan SDM yang matang membantu perusahaan menentukan jumlah dan kompetensi karyawan yang tepat, menyusun seleksi yang efektif, serta mengurangi turnover.</p>
<p>Kondisi pasar kerja kita juga perlu dilihat. BPS mencatat 7,46 juta orang menganggur pada Agustus 2025 dengan tingkat pengangguran terbuka 4,85 persen, sedangkan lulusan D-IV hingga S3 berada di angka 5,39 persen. Angka ini tidak bisa langsung dibaca sebagai akibat syarat lowongan yang berlebihan, karena penyebabnya banyak. Namun, ijazah perguruan tinggi jelas tidak otomatis menjamin terserap kerja, dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar sering disebut sebagai salah satu faktornya.</p>
<p>Kalau perencanaan keliru, dampaknya berantai. Kriteria lowongan menjadi tidak realistis, sehingga pelamar yang sebenarnya cocok memilih mundur atau proses seleksi jadi berlarut-larut. Karyawan baru yang akhirnya diterima langsung memikul beban berlebih. Bayangkan toko online yang menugaskan satu admin baru untuk melayani pelanggan, membuat konten, mengemas barang, sekaligus menyusun laporan penjualan. Kinerjanya sulit optimal, dan wajar kalau ia kelelahan lalu mencari pekerjaan lain. Setelah itu perusahaan mengulang rekrutmen dari awal. Kajian dalam Jurnal Economina (2025) menyebut turnover yang tinggi meningkatkan biaya rekrutmen dan pelatihan serta menghilangkan pengetahuan yang sudah dimiliki karyawan. Jadi, niat menghemat gaji justru bisa berujung pada pengeluaran yang lebih besar.</p>
<p>Menurut saya, perusahaan perlu membedakan keterampilan yang wajib dimiliki sejak hari pertama dengan yang bisa dilatih. Fresh graduate memang belum berpengalaman, tetapi umumnya cepat belajar. Menuntut semuanya sekaligus tanpa menyiapkan pelatihan sama saja dengan memindahkan tanggung jawab perusahaan kepada pelamar. Di sisi lain, saya paham tidak semua perusahaan punya departemen HR yang lengkap, jadi kritik ini bukan untuk menyalahkan, melainkan mengingatkan bahwa perencanaan bisa dimulai dari hal sederhana.</p>
<p>Ada beberapa langkah singkat yang bisa dicoba. Pertama, lakukan analisis jabatan dan hitung beban kerja sebelum membuka lowongan. Kedua, pisahkan syarat utama dan syarat tambahan, lalu tulis dengan jelas di iklan. Ketiga, siapkan onboarding dan pelatihan bertahap untuk keterampilan yang bisa dipelajari. Keempat, evaluasi hasil rekrutmen, misalnya lewat lama bertahan dan kinerja karyawan baru, agar perencanaan berikutnya lebih akurat.</p>
<p>Tuntutan keterampilan yang banyak bukan masalah selama lahir dari perencanaan SDM yang jelas. Tanpa itu, lowongan serba bisa hanya menutupi kebutuhan yang belum dipetakan dan berisiko menambah biaya serta turnover. Perencanaan yang tepat menguntungkan kedua pihak: perusahaan mendapat orang yang sesuai, dan fresh graduate mendapat peran yang masuk akal untuk berkembang.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dony Indrawan Raih Apresiasi di APEKA 2026, Komunikasi Energi Jadi Sorotan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/dony-indrawan-raih-apresiasi-di-apeka-2026-komunikasi-energi-jadi-sorotan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2026 08:13:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[APEKA]]></category>
		<category><![CDATA[APEKA 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co/?p=103916</guid>

					<description><![CDATA[APEKA 2026 mengusung tema “Dari Kalimantan untuk Indonesia: Menguatkan Peran Energi bagi Masa Depan Bangsa.”]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://majalahjakarta.id/go/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Hubungan antara industri hulu minyak dan gas bumi dengan media kembali mendapat ruang dalam kegiatan Bincang Asik Soal Migas Ala PHI (BASO IGA) yang dirangkai dengan Apresiasi Pewarta Energi Kalimantan (APEKA) 2026 di Jakarta, Kamis (1/10/2026).</p>
<p>Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) untuk membangun komunikasi langsung dengan insan pers sekaligus memberikan apresiasi terhadap karya jurnalistik yang mengangkat dinamika sektor energi di Kalimantan.</p>
<p>APEKA 2026 mengusung tema “Dari Kalimantan untuk Indonesia: Menguatkan Peran Energi bagi Masa Depan Bangsa.” Program ini merupakan penyelenggaraan kedua dan membuka ruang bagi wartawan untuk mengangkat berbagai isu terkait aktivitas hulu migas, termasuk produksi, inovasi, lingkungan, serta kontribusi sektor energi terhadap masyarakat dan perekonomian.</p>
<p>Sebelumnya, saat peluncuran APEKA 2026 pada April lalu, PHI menyebut kategori kompetisi mencakup media cetak, media daring, televisi, radio, photo essay, serta peserta teraktif. Cakupan peserta juga diperluas kepada pewarta di wilayah operasi PHI di Kalimantan.</p>
<p>BASO IGA, Berawal dari Masa Pandemi<br />
Manager Communication, Relation &amp; CID PHI Dony Indrawan kembali mengangkat perjalanan BASO IGA yang telah menjadi salah satu ruang komunikasi perusahaan dengan wartawan sejak masa pandemi Covid-19.</p>
<p>Forum tersebut pada awalnya menjadi sarana untuk menjaga hubungan komunikasi ketika aktivitas pertemuan secara langsung menghadapi berbagai keterbatasan. Seiring perkembangan waktu, BASO IGA kemudian berkembang menjadi forum pertemuan yang mempertemukan manajemen PHI dengan pewarta dalam suasana yang lebih cair.</p>
<p>Bagi PHI, komunikasi dengan media tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan penyampaian informasi perusahaan. Forum tersebut juga menjadi ruang pertukaran perspektif mengenai isu-isu industri hulu migas.</p>
<p>Dalam kegiatan BASO IGA sebelumnya, PHI menekankan pentingnya sinergi dengan media agar informasi mengenai sektor hulu migas dapat disampaikan kepada masyarakat secara akurat, berimbang, dan konstruktif.</p>
<p>Dony juga sebelumnya memberikan materi mengenai kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan. Dalam forum BASO IGA PHI, isu tersebut dikaitkan dengan dinamika lingkungan industri dan kebutuhan setiap pihak untuk mampu menghadapi perubahan secara adaptif.</p>
<p>Dony Indrawan Mendapat Apresiasi<br />
Dalam rangkaian APEKA 2026, Dony Indrawan turut mendapat apresiasi atas kiprahnya dalam komunikasi dan hubungan dengan pemangku kepentingan.</p>
<p>Apresiasi tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi korporasi menjadi salah satu unsur yang ikut menentukan bagaimana informasi mengenai industri energi dapat dipahami oleh publik.</p>
<p>Namun, hubungan perusahaan dan media tetap memiliki fungsi yang berbeda. Perusahaan menyampaikan informasi dan konteks mengenai kegiatan operasionalnya, sedangkan media memiliki tanggung jawab jurnalistik untuk melakukan verifikasi, mengolah informasi, serta menyajikannya kepada masyarakat.</p>
<p>Posisi tersebut menjadi penting karena isu hulu migas tidak semata-mata berbicara mengenai produksi. Di dalamnya terdapat persoalan keselamatan kerja, keberlanjutan operasi, lingkungan, investasi, pemberdayaan masyarakat hingga rantai pasok energi.</p>
<p>Pimpinan Baru PHI Berhalangan Hadir<br />
Agenda BASO IGA PHI kali ini juga menjadi momentum yang semula diharapkan mempertemukan insan media dengan pimpinan baru PHI.</p>
<p>Namun, pimpinan tersebut berhalangan hadir karena adanya agenda mendadak. Kondisi itu membuat pertemuan langsung dengan para pewarta belum dapat terlaksana dalam kesempatan tersebut.</p>
<p>Meski demikian, komunikasi antara PHI dan media tetap diarahkan untuk berlangsung secara berkelanjutan. Pertemuan berikutnya dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pimpinan baru perusahaan dengan para jurnalis yang selama ini mengikuti perkembangan kegiatan PHI di Kalimantan.</p>
<p>Kanal Digital Jadi Bagian Penguatan Informasi<br />
Penguatan komunikasi juga diarahkan pada kanal digital perusahaan.</p>
<p>Dalam kegiatan tersebut disampaikan mengenai persiapan kanal website PHI yang tengah memasuki tahap finalisasi. Kehadiran kanal resmi perusahaan diharapkan dapat memudahkan media dan masyarakat memperoleh informasi mengenai profil, kegiatan, serta perkembangan operasi hulu migas PHI.</p>
<p>Kanal informasi resmi menjadi penting di tengah kebutuhan publik terhadap informasi yang cepat sekaligus dapat diverifikasi. Bagi media, keberadaan sumber primer juga membantu proses konfirmasi dan pendalaman ketika mengembangkan sebuah isu pemberitaan.</p>
<p>PHI sendiri merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di Regional 3 Kalimantan. Operasi tersebut antara lain dijalankan melalui Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Sanga Sanga, dan Pertamina Hulu Kalimantan Timur, serta pengelolaan aset Pertamina EP dan PHE di wilayah Kalimantan.</p>
<p><strong>Dari Karya Jurnalistik ke Perspektif Energi</strong></p>
<p>APEKA 2026 tidak hanya ditempatkan sebagai ajang penghargaan. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi pewarta untuk mengangkat sisi lain industri hulu migas yang kerap tidak terlihat dari pemberitaan berbasis angka produksi.</p>
<p>Mulai dari aktivitas operasi lapangan, penerapan teknologi, aspek keselamatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat hingga kontribusi terhadap rantai energi nasional merupakan isu yang dapat menjadi bagian dari karya jurnalistik sektor energi.</p>
<p>Dengan melibatkan pewarta dari berbagai wilayah operasi, informasi mengenai industri hulu migas di Kalimantan dapat muncul melalui beragam perspektif dan pengalaman lapangan.</p>
<p>Bagi media, kondisi tersebut membuka ruang untuk menghasilkan pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan konteks mengenai hubungan antara kegiatan energi di daerah dan kebutuhan energi nasional.</p>
<p>Produksi Migas Kalimantan<br />
Peran Kalimantan dalam operasi hulu migas PHI juga terlihat dari kinerja produksi yang dilaporkan perusahaan.</p>
<p>Pada Triwulan I 2026, PHI mencatat produksi minyak sekitar 60,44 ribu barel per hari dan gas 619 juta standar kaki kubik per hari. Angka tersebut masing-masing setara sekitar 120 persen dan 105 persen dari target produksi tahun berjalan yang disebut perusahaan.</p>
<p>Memasuki Semester I 2026, PHI kembali melaporkan produksi minyak sebesar 59,3 ribu barel per hari dan gas 621 juta standar kaki kubik per hari. Capaian tersebut setara dengan 116,1 persen dan 105,4 persen dari target RKAP 2026.</p>
<p>Angka tersebut menjadi bagian dari gambaran mengenai aktivitas hulu migas PHI di Kalimantan. Namun, produksi bukan satu-satunya aspek yang menentukan keberlanjutan operasi. Faktor keselamatan, efisiensi, lingkungan, teknologi dan hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi juga menjadi bagian dari ekosistem industri.</p>
<p>Mempertemukan Perusahaan dan Media<br />
BASO IGA dan APEKA 2026 pada akhirnya mempertemukan dua fungsi yang berbeda dalam satu ruang komunikasi.</p>
<p>PHI membutuhkan komunikasi publik untuk menjelaskan kegiatan dan perkembangan industrinya, sementara media membutuhkan akses terhadap informasi, data dan narasumber untuk menjalankan fungsi jurnalistik.</p>
<p>Pertemuan seperti ini menjadi relevan ketika isu energi semakin berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas. Informasi mengenai produksi migas, investasi, lingkungan maupun pemberdayaan masyarakat membutuhkan penjelasan yang utuh agar publik tidak hanya menerima angka, tetapi juga memahami konteks di baliknya.</p>
<p>APEKA 2026 sekaligus menempatkan pewarta sebagai bagian penting dalam membangun narasi mengenai energi Kalimantan. Sementara BASO IGA menjadi ruang untuk mempertahankan komunikasi antara perusahaan dan insan pers.</p>
<p>Dari forum silaturahmi hingga penghargaan karya jurnalistik, rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi sektor energi tidak berhenti pada penyampaian informasi perusahaan. Ada proses verifikasi, pengolahan, pendalaman dan penyampaian kepada publik yang menjadi bagian dari kerja jurnalistik.</p>
<p>Di titik itulah hubungan profesional antara perusahaan dan media tetap membutuhkan keterbukaan informasi, independensi redaksi, serta penghormatan terhadap fungsi masing-masing. (Red)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
