Sakit Perut? Hati-hati dengan Telur yang Dimasak Setengah Matang

DEPOK POS – Telur merupakan salah satu bahan pangan yang sering dikonsumsi untuk menjadi salah satu lauk pauk dalam makanan sehari-hari dan juga sebagai salah satu bahan pangan dalam pembuatan roti, kue, dan lainnya. Telur juga mengandung berbagai vitamin, antara lain vitamin A, riboflavin, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, kolin, vitamin E, dan juga merupakan bahan pangan sumber mineral. Beberapa mineral yang terkandung dalam telur diantaranya besi, fosfor kalsium, kalium, natrium , magnesium, tembaga, yodium, mangan, dan zink.Selain daging dan ikan, telur merupakan salah satu bahan pangan yang mengandung protein hewani yang baik dan dibutuhkan oleh tubuh. Kemudahan dalam pembelian dan dengan harga yang lebih terjangkau dibanding protein hewani lainnya, telur menjadi pilihan hampir setiap orang untuk dikonsumsi sehari-harinya. Umumnya telur yang dikonsumsi oleh setiap orang adalah telur yang berasal dari beberapa jenis unggas, seperti ayam, bebek, dan burung puyuh.

Dalam pengolahannya, sebagai lauk protein utama dalam sebuah makanan, kebanyakan orang sering mengolahnya sesuai selera masing-masing. Sebagian orang yang tahan dengan rasa amis telur, sehingga mereka lebih menyukai untuk dimasak hanya sampai setengah matang. Sedangkan pada sebagian orang lainnya, yang tidak tahan dengan keamisan dari telur, memilih untuk memasaknya hingga matang sempurna. Salah satu contoh makanan yang paling sering ditemukan dengan telur yang dimasak setengah matang adalah mie rebus. Mayoritas orang menggemari dua kombinasi makanan tersebut. Namun, perlu diperhatikan mengenai kehigienisan penyimpanan telur dan jenis telur yang digunakan dalam pengolahan telur yang hanya sampai setengah matang ini.

BACA JUGA:  Kata Robot Saya Kena Kanker Serviks?

Pada beberapa jenis telur, apabila dikonsumsi secara mentah atau hanya dimasak setengah matang, dapat menyebabkan penyakit yang timbul terhadap orang yang mengkonsumsinya. Contohnya, pada telur ayam kampung yang mudah untuk terkontaminasi bakteri. Kulit telur merupakan bagian yang mudah rusak akibat bakteri. Jumlah mikroba pada kulit telur sekitar 102–107 koloni/gram (dinyatakan sebagai angka lempeng total). Beberapa bakteri patogen yang mungkin terdapat pada kulit telur adalah Salmonella, Campylobacter dan Listeria. Dari berbagai jenis patogen tersebut, Salmonella merupakan patogen utama yang mengkontaminasi telur dan produk olahan telur.

Kerusakan bakteri pada telur terjadi ketika bakteri masuk ke dalam telur saat berada di dalam atau sudah berada di luar tubuh induknya. Kerusakan bakteri pada telur terjadi saat berada di dalam tubuh induknya; misalnya jika induknya terkena Salmonellosis, telurnya mengandung bakteri Salmonella sp. Sedangkan kotoran yang menempel pada kulit telur misalnya, memungkinkan bakteri masuk ke dalam telur setelah keluar dari tubuh induknya. Kotoran ini termasuk kotoran, tanah, atau bahan yang mengandung bakteri berbahaya dalam konsentrasi tinggi. Bakteri ini masuk ke dalam telur melalui cangkang telur yang retak atau menembus cangkang ketika lapisan tipis protein yang menutupi cangkang telur rusak dan kecil. Oleh karena itu, proses dari menernak ayam, pengambilan telur, pendistribusian telur, hingga penyimpanan telur menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan dalam mencegah kontaminasi kulit telur.

BACA JUGA:  Dampak Negatif Nonton Video Mukbang

Kembali pada pembahasan mengenai patogen utama penyebab telur dan olahannya dapat menimbulkan penyakit, yaitu Salmonella. Bahaya dari mengonsumsi telur yang dimasak setengah matang adalah secara tidak langsung bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh yang akibatnya akan menimbulkan penyakit. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella menimbulkan gejala mual, muntah, demam, menggigil, sakit kepala, kram perut, hingga buang air besar berdarah. Gejala ini dapat berlangsung 4–7 hari dan bahkan bisa mencapai 10 hari jika disertai dengan diare. Infeksi bakteri Salmonella juga dapat menyebabkan demam tifoid atau tifus dan berujung kematian jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Selain itu, ada beberapa kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan serius saat terinfeksi bakteri Salmonella pada telur setengah matang, seperti ibu hamil, bayi dan balita, orang lanjut usia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Infeksi bakteri Salmonella dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi ayam, sehingga konsumsi telur setengah matang masih aman. Namun karena belum diketahui apakah ayam dari telurnya sudah divaksinasi, maka disarankan agar telur dimasak hingga matang sempurna. Telur setengah matang banyak tersedia dalam produk siap saji seperti mayones, tiramisu, es krim, dan saus salad, selain diolah sendiri. Apabila ingin memasak dengan telur setengah matang, usahakan untuk menggunakan telur yang sudah dipasteurisasi dari supermarket, karena memanaskan telur dengan proses pasteurisasi dapat membunuh bakteri Salmonella.

BACA JUGA:  Bahaya Merokok Bagi Kesehatan

Selain memasak telur hingga benar-benar matang, ada pula beberapa cara yang bisa Anda lakukan agar terhindar dari infeksi bakteri Salmonella, yaitu (1) Makan makanan yang mengandung telur segera atau taruh di kulkas; (2) Hindari menyimpan telur atau makanan yang mengandung telur pada suhu ruangan lebih dari 2 jam; (3) Goreng telur secara merata di kedua sisi atau rebus telur dalam air mendidih minimal 7 menit. (4) Hindari menyimpan telur lebih dari 28 hari. (5) Dinginkan telur secara terpisah dari makanan lainnya. (6) Hindari membeli dan mengolah telur cangkang retak. (7) Hindari menyimpan telur rebus di lemari es lebih dari tiga hari. (8) Cuci tangan sebelum dan sesudah memegang telur untuk menghindari penyebaran bakteri. (9) Gunakan air hangat untuk membersihkan peralatan memasak telur. (10) Jaga kebersihan permukaan dapur dengan menyemprotkan cairan antibakteri atau air panas setelah mengolah telur. (11) Pilih telur yang sudah dipasteurisasi jika ingin makan telur setengah matang.

Memang terdapat banyak orang yang lebih menikmati makan telur yang dimasak setengah matang. Namun, mengkonsumsi telur yang sudah dimasak lebih dianjurkan untuk menghindari infeksi bakteri Salmonella.

Intan Permatasari, Brian Agung
FKM UI

Pos terkait