“Screen Time“ Lama-Lama, Bikin Anak Sakit Mata dan Mental Juga

“Screen Time“ Lama-Lama, Bikin Anak Sakit Mata dan Mental Juga

 

Teknologi sudah menjadi sahabat kita, ia memudahkan berbagai kegiatan dan membantu kita dalam melakukan banyak hal. Pada saat ini, teknologi sudah dapat diakses oleh seluruh golongan usia, termasuk anak-anak. Terlebih pada masa pandemi dimana masyarakat harus terpaksa melakukan social distancing dan melakukan kegiatan serba dirumah. Menurut data dari We Are Social pengguna internet dunia terus meningkat tiap tahunnya pada tahun 2021 terdapat 4,76 miliar orang yang terhubung ke internet dan diperkirakan meningkat menjadi 4,95 miliar orang pada tahun 2022. Menurut data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) di Indonesia sendiri pengguna internet pada periode 2021-2022 berjumlah 210,03 juta. Dari persebaran demografinya sendiri kelompok yang paling meningkat pesat adalah pada usia 13-18 tahun sebesar 99,16% dan diikuti oleh kelompok usia 19-34 tahun dengan peningkatan 98,64%. Hal yang menjadi sumber masalah adalah tingginya angka mulainya internet ini masuk ke kehidupan manusia, dari data APJII ini terlihat bahwa pada umur 5-12 tahun dengan angka 62,43%. Dari data tersebut terlihat bahwa masalah screen time menjadi hal yang penting untuk dibicarakan. Sebagian masyarakat merasakan manfaat dari screen time ini. Namun, beberapa masyarakat berpendapat bahwa ia mengalami mata kering, pegal pergelangan tangan, dan rasa tidak enak lainnya didalam tubuh yang dialaminya selama screen time ini. Memangnya, apa sih pengaruhnya pada anak?

Pengertian dan Data screen time

Screen time adalah jumlah waktu seseorang yang dihabiskan untuk menatap layar gadget, seperti laptop, gawai, atau televisi. Menurut Josh Howarth dalam Exploding Topic, screen time rata-rata orang secara global adalah sekitar 6 jam 58 menit per hari. Screen time harian ini meningkat tiap tahunnya sejak 2013 kurang lebih selama 50 menit per hari. Dari data yang ditemukan Josh Howarth juga orang Amerika rata-rata menatap layar selama 7 jam 4 menit setiap harinya dan hampir 50% balita usia 0-2 tahun sudah berinteraksi dengan smartphones. Untuk Indonesia sendiri rata-rata screen time total adalah selama 8 jam 37 menit dengan spesifikasi 4 jam 56 menit pada telepon seluler dan 3 jam 41 menit pada komputer.

BACA JUGA:  Manfaat Tanaman di Indonesia sebagai Obat- Obatan Tradisional

Kenapa screen time jadi buah bibir di era ini

Maraknya screen time tidak terlepas dari eksisnya game online seperti mobile legend, free fire, maupun PUBG. Mabar (Main bareng) istilah kekinian yang dipakai generasi game online, kondisi ini memperlihatkan bagaimana game online dapat mengubah tatanan nongkrong generasi Z dan juga anak-anak. Selain itu, pandemi COVID-19 yang berlangsung dari 2019 memaksa ruang interaksi kita harus dibatasi oleh layar-layar gadget, seperti peralihan pembelajaran luring ke during. Buku-buku fisik yang ditulis diatas kumpulan-kumpulan kertas tidak lagi semenarik dulu, saat ini membaca di atas layar dengan pancaran cahaya gadget telah menjadi pilihan dan tren yang meramaikan alasan pembahasan screen time sebagai buah bibir. Tidak berlebihan, jika screen time saat ini dikatakan sebagai separuh hidup kita.

Dampak screen time yang berlebihan

Radiasi layar gadget tidak dapat terlepas dari dampaknya terhadap mata. Pada masa pandemi, anak melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online sehingga keterpaparan terhadap gadget semakin meningkat. Penelitian terhadap hal tersebut menunjukan adanya penurunan ketajaman mata pada anak yang memiliki screen time lebih dari dua jam. Adanya penurunan penglihatan pada anak dapat berdampak pada performanya di sekolah, karena anak menjadi kesulitan dalam membaca atau menulis.

Beberapa dampak screen time pada anak, diantaranya:

⦁ Penglihatan kabur
Dapat terjadi rabun jauh (myopia), rabun dekat (hyperopia), dan bentuk kornea yang berbeda (astigmatisme)
⦁ Mata malas atau Amblyopia
Pada keadaan ini, salah satu penglihatan mata berkurang
⦁ Mata juling atau Strabismus
Mata menjadi tidak fokus pada satu objek di waktu yang sama sehingga menyulitkan dalam mempertahankan posisi penglihatan
⦁ Insufisiensi Konvergensi
Penglihatan menjadi buram ketika melihat objek dari dekat.
⦁ Mata lelah atau Asthenopia
Adanya ketegangan pada mata, rasa ketidaknyamanan, penglihatan yang kabur, lelah, dan sakit kepala.
⦁ Mata kering dan iritasi

BACA JUGA:  Handsanitizer Alternatif dari Daun Kemangi

Beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa, screen time yang berlebihan khususnya pada anak akan berdampak pada kesehatan mental pada anak, anak akan mudah stres. Screen time memiliki risiko menurunya fungsi otak dan tumbuh kembang anak, anak menjadi malas berpikir, kemampuan sosialisasi berkurang dan hilangnya empati. Disisi lain, screen time berkaitan dengan timbulnya kebiasaan malas bergerak, sehingga dapat meningkatkan faktor risiko obesitas pada anak.

Pedoman screen time

Melihat fenomena screen time yang terjadi mendorong lembaga/institusi terkait untuk mengeluarkan pedoman screen time. Diantaranya seperti WHO yang menekankan untuk anak dibawah 1 tahun dan usia 1-2 tahun tidak direkomendasikan untuk diberikan screen time. Sedangkan untuk anak-anak usia 3-4 tahun diperbolehkan memiliki screen time namun tidak lebih dari satu jam per hari. Menurut Shafa Nurnafisa (2022) yang dilansir dari theAsianparent mengungkapkan bahwa, sebaiknya anak dibawah tidak diberikan akses untuk menggunakan gawai.

Cara membatasi screen time

Memang sulit menghentikan screen time, apalagi screen time dilakukan hampir di sepanjang keseharian kita. Tetapi, kita tetap perlu mengambil tindakan untuk bisa mencegah dampak dari screen time. Peran orang tua sangatlah penting dalam membantu anak untuk tidak terlalu bergantung pada gadget, orang dewasa di sekitar anak dapat menerapkan pembatasan screen time harian untuk anak dan dilakukan secara konsisten. Penting juga untuk tidak memberikan screen time terutama pada anak dibawah 2 tahun dan dapat diberikan batasan kurang dari 1 jam pada anak usia 2 – 5 tahun. Pembatasan ini tidaklah mudah untuk diterapkan, terutama karena generasi anak sekarang telah hidup di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Langkah yang dapat orang tua lakukan adalah dengan membuat perjanjian waktu mengenai screen time dengan anak dari mulai kapan mereka dapat memegang gadget, durasi mereka dapat menggunakan gadget, hingga konten dan aplikasi yang diperbolehkan untuk diakses.

BACA JUGA:  Aksesibilitas Fasilitas Pelayanan Kesehatan Berpengaruh terhadap Penurunan Angka Kematian Bayi di Indonesia

Selain itu, orang tua juga dapat mempersulit akses ke aplikasi-aplikasi kesukaan si kecil dengan menyembunyikan aplikasi ke direktori-direktori yang membutuhkan usaha lebih untuk diakses. Dengan catatan orang tua tetap mengawasi konten yang dilihat oleh anak untuk mencegah resiko keselamatan dan pengetahuan anak. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti hiburan anak ke media lain selain media elektronik. Orang tua dapat mengenalkan anak ke aktivitas-aktivitas yang lebih membutuhkan kreativitas seperti melukis, membuat kerajinan, bermain di luar ruangan, atau bahkan mengenalkan anak sedini mungkin dengan buku.

Namun, apabila gejala gejala seperti anak mulai menyipitkan mata, menggaruk mata, kurang konsentrasi, atau sakit kepala setelah belajar atau pulang dari sekolah. Maka anak perlu datang ke dokter untuk memeriksakan keadaannya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Penulis
⦁ Nadhir Wardhana Salama (S1 Reguler Kesehatan Masyarakat Peminatan Promosi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2020)
⦁ Siti Naziyati Nur Haliza (S1 Reguler Kesehatan Masyarakat Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2020)
⦁ Zakia Nursyafiya Sidik (S1 Reguler Kesehatan Masyarakat Peminatan Promosi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2020)

Pos terkait