Sehat dan Bernilai Ekonomi Tinggi, FKUI Ajarkan Budi Daya Toga

MAJALAH JAKARTA – Sebagai salah satu negara tropis, Indonesia memiliki berbagai jenisl tanaman, diantaranya tanaman obat yang telah dimanfaatkan turun-temurun sebagai bahan alami untuk mengatasi berbagai penyakit. Salah satunya adalah tanaman obat keluarga (TOGA) yang ditanam pada area di sekitar rumah atau kebun berukuran kecil.

Selain dapat dimanfaat dalam bidang kesehatan, tanaman obat juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Melihat potensi tersebut, tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) menyelenggarakan kegiatan Edukasi dan Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Sasak Panjang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (03/12). Pada pelaksanaannya, Tim Pengmas FFUI mengedukasi dan menanam bersama tiga jenis tanaman obat, yaitu benih Hanjeli, Rosella dan Stevia di lahan Desa Sasakpanjang.

Ketiga jenis tanaman ini dipilih, karena mudah dalam proses penanaman dan dapat bertahan hidup selama tiga hari tanpa air. Selain itu, ketiga jenis tanaman ini juga bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

BACA JUGA:  Pertemuan Alumni Universitas Arab Saudi Diikuti 700 Peserta dari 13 Negara

Kegiatan pengmas FFUI tersebut diketuai oleh apt. Roshamur Cahyan Forestrania, M.Sc., Ph.D.; diikuti oleh.Ketua Program Studi Pascasarjana FFUI, Dr. apt. Herman Suryadi, MS.; dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Dr. Fiky Yulianto Wicaksono, SP., MP., sebagai narasumber; dan seluruh tim pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa FFUI, serta tim pengabdi dari Human Initiative. Pada pemaparannya, Dr. Fiky menjelaskan secara rinci mengenai kriteria umum perawatan tanaman, serta kriteria penanaman dan perawatan Hanjeli, Stevia, dan Rosella.

Dalam merawat tanaman obat tersebut, pemberian pupuk NPK diberikan sekitar 250 kg/hektar atau kurang lebih 5 g/tanaman. Pemberian pupuk langsung dilakukan setelah penanaman bibit. Selain itu, pupuk urea juga perlu diberikan 50–100 kg/hektar setelah 30 hari penanaman. Bibit hanjeli yang keras bisa jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh. Oleh sebab itu, dibutuhkan perlakuan khusus untuk bibit tersebut, misal dengan diamplas terlebih dahulu.

BACA JUGA:  Peneliti UGM Tengah Kembangkan Vaksin Rotavirus RV3

Cara lainnya adalah bibit direndam air hangat 30 menit sampai 24 jam agar kulit lebih lunak lalu disemai. Bibit dinyatakan gagal tumbuh bila tunas tidak tumbuh dalam waktu 14 hari setelah bibit disemai. Bibit dinyatakan baik bila 80% bibit bisa tumbuh.

Pada tanaman Hanjeli, dalam satu lubang dimasukan satu bibit saja dan bisa bertahan tanpa disiram air selama 3 hari. Kedalaman tanah berkisar 5 cm saja karena bila terlalu dalam akan menyulitkan tunas tumbuh ke atas tanah. Sedangkan tanaman Stevia, mudah berbunga pada lingkungan yang panas, dan diharapkan yang banyak tumbuh adalah daunnya.

BACA JUGA:  Psikolog UGM Bagikan Tips Cegah Penculikan Anak

Oleh sebab itu, bila ditemukan pucuk bunga pada tanaman stevia dapat dipetik agar tidak mengganggu daun tumbuh. Stevia lebih rentan terhadap kekeringan sehingga harus disiram setiap hari. Selain itu, rentan juga terhadap gulma sehingga harus ditanam pada tanah yang sudah ditutup mulsa plastik. Kriteria penanaman dan perawatan pada tanaman Rosella sama seperti Hanjeli begitu pula dengan cara pemberian pupuk, namun Rosella lebih rentan terhadap kekeringan sehingga harus disiram setiap hari.

Kegiatan pengmas ini mendapatkan antusiasme yang besar dari para warga Desa Sasak Panjang. “Kami berharap kerja sama Desa Sasakpanjang dengan FFUI akan dilanjutkan khususnya terkait budi daya dan pemanfaatan TOGA tersebut menjadi produk ekonomis bagi warga”, ujar Ketua RW, Rudi Sofyan.

Pos terkait