Sekelumit Cerita Menjadi Editor Naskah Buku

DEPOKPOS – Sebagai seorang mahasiswa tingkat 2 kehidupan kampus tampaknya biasa-biasa saja bagi saya. Memilih untuk terjun menjadi penulis merupakan keinginan yang dipupuk sejak lama. Hidup jauh dari perantauan mengajarkan saya untuk mengambil seluruh peluang yang ada di depan mata. Tidak semua kesempatan datang dua kali, inilah yang saya tanamkan dalam menjalani perkuliahan di perantauan. Darah sumatra mengalir deras dalam tubuh yang kurus ini, namun niat meraih mimpi seakan bukan penghalang untuk hidup mandiri.

Matahari mulai menyinari dinding rumah warga Beji, tampak segerombolan mahasiswa dengan wajah datar mulai melangkah menuju kampus tercinta. Politeknik Negeri Jakarta, sebuah kampus yang punya banyak kisah mahasiswa dan perjalanan kuliah. Berpakaian rapi serta menyandang laptop mencerminkan kesiapan saya untuk menimba ilmu hari ini.
Hidup sebagai perantau membuat saya terlatih untuk berhemat, hingga berjalan jauh dari kos ke kampus tidak membuat semangat saya pudar. Tak berselang lama saya memasuki gedung jurusan yang bertingkat ini, perlahan menaiki anak tangga yang seoalah tak ada habisnya. Akhirnya sampailah saya di ruang kelas 305, hari ini ada mata kuliah Penulisan Opini yang dipandu oleh dosen Nestor Rico Tambunan. Siapa yang tak kenal tokoh satu ini, dia merupakan penulis serta pernah menjadi salah satu wartawan di majalah Sarinah, Gadis, dan Kartini.

BACA JUGA:  Minimnya Peran Orang Tua Terhadap Anak Dalam Dunia Pendidikan

Sejak satu jam yang lalu Pak Nestor telah mengisi keheningan kelas dengan materi pembelajaran, dia membagi banyak kisah bagaimana dia mengeluti dunia penulisan. Tulisannya banyak terbit di berbagai media tanah air, tak lupa dia juga seorang penulis naskah beberapa sinetron. Di antara karyanya ialah Si Doel Anak Sekolahan, Tarzan Betawi dan Tulalit. Duduk di barisan pertama tentu membuat saya melawan rasa bosan dan kantuk ini, selama kurang lebih dua jam berlalu, di akhir kelas Pak Nestor menunjukkan beberapa karya buku miliknya, menatapnya dengan bangga seoalah saya juga ingin sepertinya.

Sejak keluar dari ruang kelas saya dan beberapa mahasiswa lainnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mulanya ada rasa ragu yang datang menghampiri, namun dengan langkah kaki yang cepat saya berjalan menuju kos yang cukup jauh dari kampus ini. Matahari menyengat membuat cucuran keringat membasahi dahi dan punggung saya. Meski panas terik saya tetap melangkahkan kaki, demi menghemat uang karena jikalau memakai ojek online tentu membuat saya berpikir dua kali.

BACA JUGA:  5 Tips Agar Aktivitas Menjadi Produktif

Sebelum pulang ke kos saya memilih untuk membeli makanan di warung terdekat, meunggu sekitar 20 menit akhirnya makanan yang saya pesan pun jadi. Tiba-tiba banyak pesan yang masuk ke hp saya, melirik sedikit ternyata Pak Nestor mengubungi saya melalui Whatshapp grup dan pesan pribadi. Dengan penuh kebingunggan saya membaca pesan, tertera tulisan yang menyatakan di mana saya berada, pesan singkat itu akhirnya saya balas tanda tanya, ternyata Pak Nestor meminta saya untuk datang keruangannya.

Tidak berpikir panjang akhirnya saya kembali lagi ke kampus, bedanya kali ini memakai ojek online agar cepat sampai. Sebagai rasa hormat saya menghampiri Pak Nestor yang tengah berbincang dengan salah satu dosen dijurusan saya. Pak Nestor menyampaikan niat baiknya yang meminta saya untuk menjadi editor naskah buku beliau, dengan wajah gembira saya mengiyakan tawaran tersebut. dia lalu mengatakan naskah ini nantinya akan dijadikan buku untuk acaranya di Bali, baik pak tanggap saya sembari melihat kearahnya.

Kesempatan memang tak datang dua kali, inilah yang saya pikirkan saat ini. Pak Nestor tampak mencari sesuatu di tas miliknya, dia mengeluarkan satu buku bercover hitam dengan tulisan LONGA. Beberapa saat dia menyobek plastik yang membalut buku itu dan menandatangani nya, tak lama dia menyodorkan kepada saya dengan senyuman yang sumbringah. Tak munafik saya mengambil kesempatan ini, perjuangan berjalan kaki dan balik lagi ke kampus tentu ini peluang besar bagi saya.

BACA JUGA:  Literasi Keuangan Sebagai Upaya Mitigasi Risiko Ketika Memulai Investasi Saham

Lirikan beberapa mahasiswa mulai mengganggu saya yang tengah berbincang dengan Pak Nestor dan Pak Arif, akhirnya saya ucapkan terima kasih lalu tak lupa mendokumentasikan momen ini. Saya berpamitan dan meninggalkan ruangan, menuju lantai dasar gedung jurusan. Masih dengan pikiran campur aduk saya bergegas pulang dengan menenteng buku pemberian Pak Nestor.

Meski ini pengalaman pertama, membuat saya tersanjung diberi kepercayaan olehnya. Langkah kaki yang cepat diiringi terik matahari seolah tak lelah karena saya baru mendapat kabar gembira, kesempatan yang tidak semua orang punya, namun akhirnya berlabuh kepada saya.

Hidup penuh kejutan, pengalaman bisa datang dari mana saja bahkan ketika kita berani mengambil risiko dan melakukan sesuatu dengan serius. Kejutan hari ini seoalah menjadi tantangan baru bagi saya, sebagai seorang mahasiswa Jurnalistik hal ini membuat semangat saya kembali untuk mewujudkan impian menjadi penulis.

Lidia Pratama Febrian
Mahasiswa Penerbitan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

Pos terkait