Shermon Burgess, Aktivis Anti Islam yang Kini Menjadi Muslim

MJ. Depok – Hidayah Allah SWT bisa datang kapan saja dan kepada siapapun, mungkin pernyataan ini cukup mewakili apa yang terjadi di kalangan sayap kanan dan Islamofobia di seluruh dunia yang berbondong-bondong masuk Islam.

Shermon Burgess adalah salah satunya. Shermon membuat heboh kalangannya setelah memutuskan masuk Islam dan menjadi mualaf.

Siapa Shermon Burgess?

Bagi kalangan sayap kanan Australia, Shermon Burgess bukanlah nama yang asing. Pada tahun 2010 dia menjadi sorotan nasional karena peran dan keterlibatannya dalam kelompok nasionalis sayap kanan, yang kini sudah tidak ada lagi seperti United Patriots Front (UPF), Reclaim Australia dan Australian Defence League.

Pria berbadan gempal tersebut menjadi terkenal pada 2015 usai menggelar aksi demonstrasi menolak pembangunan sebuah masjid di Bendigo. Kelompok Burgess kala itu menjadi organisasi anti Islam dengan pertumbuhan tercepat dengan 5.000 anggota.

BACA JUGA:  Konsep Ju’alah pada Kehidupan Seorang Muslim

Dia telah mengorganisir puluhan demonstrasi bersama tokoh neo Nazi, seperti Neil Erikson dan Blair Cottrell.

Burgess merupakan anggota band metal, Eureka Brigade, yang membuat lagu anti Islam berjudul Border Patrol yang mengajak untuk membakar masjid dan menyebut kerusuhan Cronulla sebagai “Holocaust Muslim Australia”.

Masuk Islam

Masuk Islamnya Shermon Burgess terungkap usai diwawancarai media Australia, Crikey pada Jumat (03/03/2023). Burgess mengaku dirinya dan aktivis anti Islam lainnya telah bersyahadat dan masuk Islam.

“Komunitas Muslim sangat baik dan luar biasa, jika Anda membutuhkan bantuan, mereka ada di sana,” akunya.

BACA JUGA:  Indonesia jadi Tamu Kehormatan di Qatar International Food Festival

Perkenalan Burgess dengan Islam setelah dia bertemu dengan Youssra Rose, pemimpin Muslim Freedom Movement. Ia mengaku, Youssra menjelaskan arti Islam yang sebenarnya kepadanya.

Selain itu, keyakinannya berubah usai menyaksikan kekuatan gerakan kebebasan Australia: anti-pemerintah, anti-vaksin, dan aktivisme kultural yang muncul akibat konspirasi Pandemi Covid-19.

Pada Desember tahun lalu, Burgess menulis di Facebook; “Kembali ke 2015-2016, Anda tidak akan melihat saya berdiri berdampingan dengan seorang Muslim yang berjuang dengan tujuan sama, tidak dalam sejuta tahun, namun sekarang banyak hal telah berubah.”

Kini Burgess tidak lagi berjuang melawan Islam seperti yang dulu dilakukannya. “Sekarang saya akan berdiri berdampingan dengan kaum Muslim, untuk berperang melawan zionis dan freemason penindas yang memerintah kita,” kata Burgess.

BACA JUGA:  Bantuan Sulit Masuk, Korban Gempa di Suriah Terancam Kelaparan dan Dingin

Meski mualaf, semangat Burgess dalam membela Palestina dan Islam tidaklah kalah dari Muslim lain. Hal itu nampak dari akun Facebook pribadi Burgess yang sekarang dihiasi dengan foto sampul bendera Palestina bertuliskan kalimat Tauhid.

Diserang oleh mantan rekannya

Burgess mengatakan mantan rekan sayap kanannya dan anggota kelompok anti Islam menyerangnya secara online usai mengetahui ia masuk Islam.

““Banyak dari mereka adalah peminum berat,” katanya.

“Saya menyukai aspek kesehatan Islam, bagaimana mereka berlatih keras dan menahan diri dari alkohol dan narkoba.”

Sumber: Hidayatullah.com

Pos terkait