SIAP-kah Kita Melangkah Bersama Untuk Cegah Anemia?

DEPOK POS – Tiga puluh persen (30%) populasi dunia mengalami anemia. Anemia atau oleh sebagian masyarakat lebih dikenal dengan arti “kurang darah” merupakan keadaan seseorang yang diindikasikan oleh kondisi hemoglobin (Hb) di bawah batas normal. Anemia sering menyerang usia remaja, terutama remaja putri pada rentang usia 15 hingga 24 tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 32%, melebihi ambang batas yaitu 20%. Tingginya kejadian anemia pada remaja putri usia 15-24 tahun disebabkan oleh siklus menstruasi yang terjadi setiap bulan sekaligus fase pertumbuhan yang sedang dialami di usia tersebut sehingga remaja putri memerlukan lebih banyak zat besi (Simanungkalit and Simarmata, 2019).

Dampak anemia itu sendiri tidak hanya berpengaruh pada kesehatan generasi saat juga berimplikasi pada lintas generasi. Dampak jangka pendek yang dapat dirasakan langsung oleh penderita anemia antara lain lemas, letih, pusing, dan lesu. Sementara itu, dampak jangka panjangnya berupa meningkatkan risiko terjadinya berat bayi lahir rendah (BBLR) dan stunting pada remaja putri yang mengalami anemia. Maka dari itu, deteksi anemia perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah keparahan yang akan terjadi di masa depan.

Salah satu hambatan pencegahan anemia adalah stigma masyarakat yang masih sering memandang sebelah mata dampak dari anemia. Distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri sebenarnya sudah menjadi program pemerintah. Namun, TTD yang didapatkan seringkali tidak rutin dikonsumsi oleh remaja putri. Salah satu penyebab ketidakpatuhan konsumsi TTD ini adalah kurangnya pengetahuan remaja putri mengenai kondisi mereka sendiri dan kurangnya edukasi mengenai anemia sehingga sering muncul pernyataan “mengapa saya harus mengkonsumsi TTDan saya sehat”. Minimnya akses untuk mendapatkan pemeriksaan hemoglobin juga menjadi bottle neck untuk mengidentifikasi kejadian anemia pada remaja putri. Untuk itu, perlu adanya terobosan baru yang mengintegrasikan berbagai upaya preventif anemia, antara lain upaya deteksi hemoglobin yang mudah dan terjangkau, edukasi anemia secara berkala, dan pemberian TTD.

BACA JUGA:  Bekerjasama dengan Indonesia Internasional School Hong (IISHK) Program Studi Sistem Informasi Universitas Sutomo Gelar PkM International

Sebagai sebuah inovasi teknologi dalam mendukung secara penuh program pencegahan anemia, Tim Kepedulian Masyarakat Universitas Indonesia mengembangkan sebuah alat deteksi hemoglobin non-invasif bernama Alat SIAP yang dikemas dalam sebuah program edukasi, afeksi, dan apresiasi bernama Program SIAP (Smart Intervention for Anemia Prevention). Program SIAP dilaksanakan di Kota Depok, tepatnya di Kampung Lio selama 2 kali yaitu pada tanggal 5 dan 20 November 2022 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti Ketua RT, Ibu PKK, Posyandu, Puskesmas Pancoran Mas, Dinas Kesehatan Kota Depok, dan terutama remaja-remaja Kampung Lio.

Depok menjadi sasaran intervensi Program SIAP karena prevalensi anemia di Depok (16,42%) masih tinggi sehingga perlu intervensi agar segera teratasi. Selain itu, anemia di Kota Depok masuk dalam 20 penyakit dengan kunjungan rawat inap tertinggi di rumah sakit (Dinkes Kota Depok, 2019).

BACA JUGA:  Benarkah Orang yang Pernah Terkena COVID-19 Mengalami Perubahan Mental dan Kognitif?

“Yuk Kita Cegah Anemia!” merupakan jargon penyemangat dalam Program SIAP ini sebagai sebuah pemantik bahwa mencegah anemia adalah langkah yang harus kita lakukan bersama. Menanamkan rasa kepedulian terhadap keadaan diri sendiri pada remaja adalah langkah awal untuk mencegah anemia. Intervensi pertama yang dilakukan pada tanggal 5 November 2022 dilakukan dengan pengisian pretest, edukasi mengenai anemia dan stunting, pengisian food frequency questionnaire (FFQ), dan dimeriahkan dengan games sebagai penutup. Remaja Kampung Lio sangat antusias selama acara berlangsung.

Intervensi kedua yang dilakukan pada tanggal 20 November 2022 berjalan lancar dan responremaja Kampung Lio masih sangat antusias. Dalam intervensi kedua ini, kegiatan yang dilakukan adalah pemberian kartu SIAP, cek hemoglobin dengan menggunakan alat SIAP, dan pemberian TTD pada remaja. Dari pemeriksaan hemoglobin tersebut didapatkan hasil bahwa perbandingan remaja yang mengalami anemia dan tidak mengalami anemia adalah 1:1 dengan jumlah masing-masing 5 remaja. Dalam pemeriksaan tersebut, tidak didapati remaja yang mengalami anemia berat. Namun, proporsi yang mengalami anemia adalah 50% dari populasi sampel, sehingga hal ini tetap menjadi masalah yang harus segera diatasi.

Alat SIAP yang digunakan untuk memeriksa hemoglobin tersebut harus dilengkapi dengan kartu SIAP yang telah dibagikan sebelumnya sesuai dengan nama remaja yang telah mengikuti intervensi pertama. Selama pemeriksaan tersebut, remaja Kampung Lio juga diedukasi kembali mengenai pentingnya deteksi anemia dan upaya pencegahannya. Pemberian TTD juga dilakukan setelah selesai melakukan pemeriksaan. Berakhirnya intervensi selama dua hari tersebut memberikan kabar gembira dari hasil pre-test dan post-test. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan remaja Kampung Lio terkait dengan anemia sebesar 58,1%. Lebih dari itu, pelaksanaan intervensi ini mendapat dukungan dan respon yang positif dari para pemangku kepentingan.

BACA JUGA:  Kenali dan Cegah Penyakit Berbasis Lingkungan

Tim Program SIAP menyadari bahwa intervensi ini masih memerlukan evaluasi dan pengembangan ke arah yang jauh lebih baik. Namun, besar harapan dari Tim Program SIAP bahwa alat SIAP ini dapat terus dikembangkan hingga dapat mencapai performa terbaik dan akurat sebagai langkah awal deteksi dini anemia secara berkelanjutan. Terselenggaranya intervensi ini pun tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari UI, Pemerintah Kota Depok, Puskesmas Pancoran Mas, dan masyarakat Kampung Lio. Harapannya, program SIAP dan penggunaan alat SIAP ini dapat diterapkan di wilayah-wilayah lain. Mari kita cegah anemia demi melindungi generasi bangsa. SIAP-kah Kita melangkah bersama untuk cegah anemia?

Muhammad Harist Syahirul A’en (FKM UI), Ardian Adam Nur Fajari (FKM UI), Habibah Fitriyani (FKM UI), Prasetyaning Jati (FKM UI), Wisda Trisnawati (FKM UI), dan Thariq Hadyan (FT UI)

Pos terkait