Sindrom Ovarium Polikistik dan Faktor Risikonya

Sindrom Ovarium Polikistik dan Faktor Risikonya

DEPOK POS – Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang sering terjadi pada wanita usia subur (1). SOPK merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi pada remaja (2). SOPK biasanya ditandai dengan ketidakteraturan menstruasi dan kadar hormon pria (androgen) yang berlebihan (3). Hormon androgen yang berlebihan pada penderita SOPK dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur memproduksi kantong-kantong berisi cairan. Kondisi ini menyebabkan sel-sel telur tidak berkembang dengan sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur (4). Manifestasi klinis SOPK diantaranya gangguan menstruasi, tanda-tanda androgen berlebih, obesitas, dan beberapa diantaranya mengalami hirsutisme (kondisi di mana seorang wanita mengalami pertumbuhan rambut yang berlebih pada wanita di area yang umumnya tumbuh pada pria). Dampak jangka panjang dari SOPK ini adalah infertilitas (kemandulan) (1).

Berdasarkan data dari World Health Organization, diperkirakan sindrom ovarium polikistik (SOPK) atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) dialami oleh lebih dari 116 juta atau sekitar 3,4% wanita di seluruh dunia (5). Sementara itu, belum ada data rutin mengenai prevalensi nasional sindrom ovarium polikistik (SOPK) di Indonesia hingga saat ini sehingga data epidemiologi SOPK di Indonesia masih mengandalkan laporan kasus dari rumah sakit. Berdasarkan data yang terlapor dari Rumah Sakit St. Elisabeth Medan, terdapat 116 wanita usia subur yang menderita SOPK di rumah sakit tersebut pada tahun 2008-2012 (6). Dari studi yang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2011, ditemukan 105 pasien dengan SOPK. Mayoritas pasien (45,7%) tersebut berada dalam rentang usia 26-30 tahun (7). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Putra di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2019, terdapat sekitar 79 orang penderita SOPK dengan frekuensi usia terbanyak antara 25-44 tahun (8).

Dari berbagai data yang terlapor dan ditemukan di berbagai rumah sakit ini dapat diketahui bahwa jumlah kasus sindrom ovarium polikistik (SOPK) di Indonesia dari tahun ke tahun masih tergolong tinggi dan memang terbukti pula bahwa SOPK ini mayoritas diderita oleh wanita usia subur (WUS). Oleh karena itu, penting bagi kita semua, khususnya wanita usia subur, untuk menyadari dan memahami berbagai hal mengenai sindrom ovarium polikistik (SOPK) termasuk faktor risikonya agar dapat terhindar dari sindrom ovarium polikistik (SOPK).

BACA JUGA:  Dampak Negatif Tidur Terlalu Lama bagi Kesehatan

Hingga saat ini penyebab sindrom ovarium polikistik (SOPK) belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan beberapa penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi faktor risiko dari terjadinya sindrom ovarium polikistik (SPOK). Perlu diketahui pula bahwa sindrom ovarium polikistik ini merupakan masalah kesehatan yang kompleks. Artinya, sindrom ovarium polikistik dapat terjadi bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan karena banyak faktor risiko yang turut berkontribusi. Secara umum, faktor risiko sindrom ovarium polikistik terbagi menjadi dua, yaitu hormonal dan non-hormonal (9). Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai faktor risiko hormonal dan non-hormonal beserta pengaruhnya terhadap kejadian sindrom ovarium polikistik (SOPK).

⦁ Faktor Risiko Hormonal

⦁ Resistensi Insulin

Resistensi insulin merupakan suatu gangguan metabolik sebagai ketidakmampuan insulin untuk melakukan fungsi penyerapan glukosa. Dikatakan resisten insulin bila dibutuhkan kadar insulin yang lebih banyak untuk mencapai kadar glukosa darah yang normal (10). Tingginya kadar insulin menyebabkan ovarium memproduksi terlalu banyak hormon testosteron. Hal ini dapat mengganggu perkembangan folikel (kantung di ovarium tempat telur berkembang) dan mencegah ovulasi normal. Resistensi insulin juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang dapat mengakibatkan gejala PCOS semakin parah, karena kelebihan lemak menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak insulin (11).

Resistensi insulin muncul 50%­ hingga 80% pada wanita dengan PCOS, umumnya pada kelompok dengan kelebihan berat badan. Wanita yang langsing memiliki resistensi insulin yang lebih ringan (1). Pada wanita, tingginya kadar insulin dalam darah tubuh (hiperinsulinemia) akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan folikel, kondisi ini menyebabkan hambatan terhadap proses pengeluaran oosit (ovulasi) yang mengakibatkan gangguan kesuburan (infertilitas) (12).

⦁ Kelebihan Hormon Androgen

Kelebihan hormon androgen atau hiperandrogenisme adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan tingginya kadar hormon androgen pada wanita. Hiperandrogenisme merupakan salah satu tanda pasien penderita PCOS. Gejala ini dapat berupa jerawat, seborrhea (kulit yang meradang), rambut rontok pada kulit kepala, bertambahnya rambut pada tubuh atau wajah, serta menstruasi yang terhambat.

BACA JUGA:  Bun! Ajari Ini Agar Anak Pintar Pilih Jajanan

Kadar insulin yang rendah dapat menyebabkan terjadinya hiperandrogenisme. Ketika kadar insulin tubuh turun terlalu rendah, hal tersebut dapat memaksa tubuh untuk memproduksi terlalu banyak sebagai upaya untuk menebus kehilangan insulin tersebut. Hasil dari produksi berlebih tersebut adalah gangguan yang disebut hiperinsulinemia. Efek hiperinsulinemia adalah peningkatan produksi androgen tubuh di ovarium (11).

Hormon androgen yang berlebihan pada penderita PCOS dapat mengakibatkan ovarium atau indung telur memproduksi banyak kantong-kantong berisi cairan. Kondisi ini menyebabkan sel-sel telur tidak berkembang dengan sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur sehingga mengakibatkan menstruasi yang tidak teratur hingga infertilitas (13).

⦁ Faktor Risiko Non-hormonal

⦁ Pajanan Logam Berat

Lingkungan telah lama tercemar oleh berbagai polutan yang dihasilkan dari industri. Polutan kimia beracun yang terdapat di lingkungan ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara dihirup atau diserap oleh kulit dan selaput membran (14). Salah satu polutan kimia beracun yang dapat mengganggu sistem hormon adalah logam berat seperti arsen, kadmium, timbal, dan merkuri (9, 15). Secara umum, gangguan sistem hormon yang terjadi akibat pajanan logam berat ini dapat mempengaruhi siklus menstruasi, ovulasi, dan kesuburan wanita (16).

Keracunan logam berat dapat terjadi jika seseorang terpajan logam berat dalam dosis tertentu. Berdasarkan beberapa penelitian, ditemukan bahwa keracunan logam berat ini dapat menurunkan aktivitas SOD (Superoxide dismutase) dan GSH (Glutathione) dalam tubuh manusia (9, 17). Menurunnya aktivitas SOD dan GSH menyebabkan produksi radikal bebas yang berlebih pada tubuh. Hal ini terjadi karena SOD dan GSH yang seharusnya berperan sebagai antioksidan tidak mampu menangkal radikal bebas secara optimal. Kondisi ketidakseimbangan radikal bebas dengan antioksidan dalam tubuh ini memicu terjadinya stres oksidatif (17). Dampak dari terjadinya stres oksidatif adalah kerusakan sel-sel tubuh yang diakibatkan oleh radikal bebas. Salah satu sel tubuh yang dapat dirusak oleh radikal bebas adalah sel beta pankreas. Dengan rusaknya sel beta pankreas, tubuh dapat mengalami resistensi insulin. Nantinya, resistensi insulin inilah yang berkontribusi atas terjadinya sindrom ovarium polikistik (17, 18).

BACA JUGA:  Budaya Tabu Makanan pada Ibu Hamil: Bagaimana Fenomena Tersebut Dilihat dari Sudut Pandang Gizi?

Dengan kata lain, pajanan logam berat dapat menimbulkan resistensi insulin yang pada akhirnya menyebabkan sindrom polikistik ovarium melalui mekanisme stres oksidatif (9). Maka dari itu, tingkat stres oksidatif harus terus dipantau, khususnya pada wanita usia subur, untuk menurunkan risiko sindrom ovarium polikistik (17).

⦁ Obesitas

Sebagian besar wanita yang mengidap sindrom ovarium polikistik (SOPK) tergolong overweight dan obesitas (19). Obesitas dapat menyebabkan hiperinsulinemia pada wanita. Hiperinsulinemia ini dapat menekan produksi sex hormone-binding globulin (SHBG) pada liver yang nantinya dapat memicu sekresi hormon androgen berlebih (hiperandrogenisme). Kelebihan hormon androgen inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan sindrom polikistik ovarium pada wanita (19, 20).

Wanita usia reproduksi yang mengalami gejala-gejala seperti haid tidak teratur, kelebihan berat badan, pertumbuhan jerawat, hirsutisme sebaiknya segera memeriksakan diri untuk kepentingan penegakan diagnosis secara dini. Penanganan SOPK sedini mungkin sangat baik untuk mencegah SOPK serta komplikasi lanjut seperti penebalan endometrium yang dapat mengarah kepada keganasan. Modifikasi gaya hidup seperti melakukan diet, olahraga dan manajemen berat badan direkomendasikan untuk mencegah timbulnya SOPK.

Penyebab pasti dari sindrom polikistik ovarium (SOPK) hingga saat ini masih belum diketahui. Walaupun begitu, masalah kesehatan ini telah banyak menyerang wanita usia subur dan memiliki efek jangka panjang yang buruk bagi kesehatan reproduksi wanita. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk menyadari dan menghindari berbagai faktor risiko yang mungkin dapat menyebabkan SOPK. Dengan demikian, angka kejadian sindrom polikistik ovarium (SOPK) di Indonesia pada wanita dapat menurun.

Alya Adhityashma Wahono
Risna Ilmi Aulia
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Pos terkait