Slowanderer Hadirkan Lagu EDM Chill “You Should” ft. Saladdays

DEPOKPOS – Nama DJ/Produser Slowanderer mungkin belum familiar di telinga pendengar dan penikmat musik Tanah Air. Namun, proyek solo bergenre EDM (Electronic Dance Music) yang diusung oleh musisi bernama asli Jul ini telah siap melangkah ke industri musik Indonesia dengan single debut bertajuk “You Should” yang menggandeng duo musisi Saladdays.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi DEPOKPOS, Jumat (31/3/2023) disebutkan, bahwa pria yang juga merupakan anggota band alternatif rock Tirant ini melakukan eksplorasi di genre EDM yang ia gemari sejak lama. Slowanderer, kata dia, mengusung sub-genre tropical house yang menonjolkan atmosfer menyenangkan sekaligus rileks, seperti terdengar di lagu debutnya.

EDM adalah payung besar yang menaungi dance music atau electronic music. Meski begitu, masih banyak juga yang menyebut EDM dengan istilah techno. EDM adalah musik yang didominasi remix music. Karena itu, bahkan ada anggapan musik remix mengambil peruntungan dari karya orang yang sudah populer.

Mengutip laman superlive.id, Electronic Dance Music yang lebih dikenal sebagai EDM adalah salah satu genre musik yang sering disalahpahami banyak pendengar musik. Padahal, EDM adalah jenis musik juga, seperti halnya genre musik lainnya. Bahkan popularitasnya sempat menanjak setidaknya sekitar satu dekade terakhir. Hal ini dibuktikan dengan beberapa karya DJ juga sering nongkrong di beberapa chart, baik di dalam ataupun mancanegara.

Di balik kepopulerannya, EDM adalah jenis musik yang masih sering dilabeli dengan stereotip yang tidak seharusnya. Kenapa begitu?

Istilah EDM adalah untuk Electronic Dance Music yang sebenarnya muncul pertama kali pada pertengahan tahun 1980-an. Genre musik yang bukan barang baru ini mulai populer dan menjadi mainstream di kalangan masyarakat Amerika Serikat pada pertengahan 1990-an. Genre musik ini pun kian populer berkat penampilan sejumlah musisi yang menampilkan lagu-lagu dari sub-genre EDM. Sebutlah nama-nama besar seperti Daft Punk, Marshmellow, Skrillex, DJ Snake, Major Lazer, Calvin Harris, Deadmau5, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:  THE RAIN Ajak Pendengar Kembali Ke Nuansa 80-an Lewat Lagu “Halaman Berbeda”

Nah, kesuksesan sejumlah nama tadi, diiringi karya-karya yang semakin banyak dinikmati pendengar musik memunculkan stigma. Banyak orang menganggap musisi yang mengambil jalur EDM adalah dengan menciptakan lagu yang terdengar sama. Padahal kenyataannya menulis lagu untuk genre musik ini memiliki peraturan tersendiri. Cara untuk memproduksinya pun berbeda-beda, demikian dengan cara untuk menikmatinya.

EDM adalah genre musik yang punya banyak tipe. Musik ini terbagi dalam beberapa sub-genre. EDM adalah payung besar yang menaungi dance music atau electronic music. Meski begitu, masih banyak juga yang menyebut EDM dengan istilah techno. EDM adalah musik yang didominasi remix music. Karena itu, bahkan ada anggapan musik remix mengambil peruntungan dari karya orang yang sudah populer. Padahal, remix sebenarnya dianggap sebagai reinterpretasi dari karya tersebut.

Stereotip lain juga menyebutkan bahwa musik EDM adalah musik yang sepenuhnya elektronik. Anggapan ini mungkin kurang tepat, karena para peramu musik EDM umumnya juga menambahkan elemen-elemen musik yang berasal dari instrumen alat musik pada umumnya. Jadi, meskipun mengusung genre EDM, alat musik instrumental tetap bisa masuk. Bahkan banyak DJ selalu bereksperimen dengan berbagai instrumen musik dalam karyanya.

Selain itu, muncul pula anggapan lain seperti seorang DJ hanya bermain dengan piringan mereka. Padahal sebenarnya perdebatan ini nyaris tak relevan lagi saat ini. Para DJ untuk genre musik EDM terkadang juga menciptakan ulang lagu-lagu mereka saat live performance. Meskipun, dia juga menyiapkan beberapa trek lagu yang sudah disiapkan.

BACA JUGA:  The Dream Theory Rilis Jatuh Hati dan Our Tomorrow, Dua Lagu dalam Satu Alur Cerita

Lebih jauh, EDM adalah genre musik yang sering kali dilabeli sebagai bagian dari budaya hedonisme karena slogannya “free and be yourself”. Selain itu, kurangnya muatan politik dan emosi menjadikan musik ini dianggap sebagai pengiring ajang hura-hura saja. Ditambah lagi, banyak juga DJ yang menjadi ‘simbol’ brand tertentu.

Meskipun stereotip dan stigma tadi sering muncul sebelumnya, EDM adalah jenis musik yang bisa dinikmati oleh banyak kalangan, beserta turunannya. Tak peduli tua maupun muda. Menurut survei yang dilakukan oleh Nielsen, ternyata sebagian besar pendengar musik EDM adalah milenial. Kegemaran para milenial terhadap EDM tentu bukan tanpa alasan. Jika mengamati kebiasaan mereka memutar playlist EDM, ternyata salah satu alasan kuatnya karena musik EDM bisa jadi teman mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan EDM merupakan konten yang paling banyak dilihat di YouTube oleh pengguna yang rata-rata berumur 25 tahun ke bawah.

Kebanyakan musik EDM adalah bertempo musik upbeat dan lebih bersemangat. Hal ini identik dengan semangat milenial yang sedang membara. Apalagi musik EDM juga identik sebagai musik yang cocok untuk party, hal yang kerap dilakukan para milenial ketika mereka ingin bersenang-senang melepas penat.

EDM adalah jenis musik yang memberikan warna lebih banyak dan tentunya lebih berenergi.

Milenial yang tumbuh di era media sosial selalu terhubung dengan internet. Nah, EDM adalah musik yang bisa dibuat lewat software musik tanpa menggunakan banyak alat musik membuat para penciptanya lebih punya kemudahan untuk menyebar musik baru mereka, misalnya lewat situs sharing musik seperti SoundCloud. Bisa juga membuat tutorial atau video musik sendiri yang diunggah ke YouTube.

BACA JUGA:  Pianis Cilik Nathasia Djong Rilis "Indonesia Inspirasiku"

Dengan segala kemajuan dan keterbukaan informasi saat ini, semua orang mungkin bisa memproduksi musik EDM. Karena itu, bisa dikatakan bahwa EDM adalah salah satu genre musik yang punya banyak variasi. Bahkan antara satu jenis musik EDM dengan yang lain bisa terdengar sangat berbeda. Mulai dari techno, house, drum & bass, jungle, hingga dubstep yang beberapa tahun belakangan cukup fenomenal. Beberapa musisi EDM adalah orang-orang yang lebih banyak dikenal berkat karya-karya musiknya yang spektakuler untuk berbagai mood.

EDM adalah jenis musik yang para pendengarnya, umumnya, gemar menggunakan internet. Mereka pasti menemukan lagu-lagu EDM baru lewat internet. Jadi tak heran jika kesukaannya mendengarkan musik EDM di internet, milenial paling tidak pernah mencari informasi mengenai bagaimana caranya menjadi DJ atau me-remix lagu.

Di balik itu, EDM adalah jenis musik yang memang sedang naik daun setidaknya dalam satu dekade terakhir. Jika suatu negara mengadakan festival musik bertema EDM, dijamin acara tersebut bakal hits. Tiket masuk untuk festival musik EDM pun biasanya langsung laku terjual. Selain karena ingin menonton DJ favorit, alasan lainnya karena sebagian besar milenial ingin jadi bagian dari suatu acara yang happening dan tak ingin ketinggalan acara tersebut.

Di Indonesia sendiri juga pernah digelar festival musik EDM, salah satunya adalah Djakarta Warehouse Project. Acaranya para penggemar musik EDM ini selalu ramai dibanjiri penonton setiap tahunnya. Para penonton bisa mendengarkan secara langsung betapa enerjiknya para DJ kelas dunia dalam memainkan lagu hits mereka.[]

Pos terkait